Hai,,, hai,,, ketemu lagi sama epulkatama, saya harap anda yang menemukan blog super duper cantik ini adalah mahasiswa UNiversitas Subang, atau calon mahasiswa satu-satunya universitas di Kota Subang ini. Dan anda wajib baca tulisan ini sampai rampung, oke??? okezone, oke… hehe

logo_universitas_subang.img

logo universitas subang

Begini sob, jujur saya bukan akan menerangkan apa dan seperti apa kampus yang pernah saya hinggapi ini (hinggapi? emangnya saya burung dan UNSUB itu dahan yah, he) namun saya akan uji coba kemampuan blog saya di kata kunci “Universitas Subang”, jadi gini sob, ketika anda mengetikan kalimat “Universitas Subang” di mesin pencari google apakah blog ini ada di halaman pertama atau ngga, ada di urutan pertama atau bukan. Gitu sob, Namun bonusnya buat anda yang mau nerusin ngikutin kata perkata dari saya adalah.

Informasi Tentang Universitas Subang

 

Oke, sedikit informasi unsub, Universitas Subang adalah satu-satunya Universitas di kota nanas ini, dan saya juga mendapatkan gelar disalah satu fakultas di Kampus tersebut, tepatnya Fakultas Pertanian, kami lebih enak menyebutnya AGROREKTAN UNSUB.

Selain fakultas Agrorektan juga ada fakultas lainnya diantaranya adalah Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom Unsub), Fakultas Ilmu Hukum (Recht Unsub), Fakultas Ilmu Komputer (Ilkom Unsub), Fakultas Administrasi yang terdiri dari Adm. Bisnis, Adm. Keuangan dan Adm. Publik, Fakultas Teknik, dan terakhir Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan (FKIP).

Lokasi Kampus Universitas Subang ada di 2 tempat, Kampus 1 berada di Jln. Arif Rahman hakim atau di Wisma Haji Subang, kemudian kampus 2 berada di Jln RA. Kartini KM 3, agak nyempil dikit, makanya ada plesetan Unsub lebih di kenal dengan UNYIL singkatan dari Universitas Nyempil atau Universitas Nyimplung karena memang berada di kampung Nyimplung.

Aduh, jadi bete nih nulis info ginian, kalau mau lebih lanjut tentang info Unsub ini di Website resminya. klik di dieu nya.

kampus_universitas_subang.img

Kampus 1 Universitas Subang

Organisasi Mahasiswa Universitas Subang

Organisasi Intra Kampus

Ngomongin Organisasi Intra, saya pernah terlibat di dalamnya, meskipun emang ga optimal, saya pernah di BLM Universitas Subang, Kemudian di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dan di UKM lainnya, KOPERASI MAHASISWA, meskipun bukan sebagai pengurus, tapi gila jabatan saya sebagai “Manager” disitu, walaupun keren dan dianggap berduit yah namanya juga koperasi-koperasian, untung bisa survive juga.

Saya boleh berbangga hati, ketika saya memegang koperasi meskipun dengan modal nekad saya bisa mewarisi kulkas, dan memperbaiki instalasi listrik serta membantu masyarakat sekitar yang mau berdagang disana, walaupun pada akhirnya banyak fitnahan terarah kepada saya, makan duit kopma lah, kemudian diakhir ketika saya mengamankan kulkas, yang itu adalah prestasi bagi saya malah disangka maling kulkas, parah kan? Udah untung tuh saya bisa menjalankan amanah, dengan tanpa digaji, hanya sebatas pengabdian unsich.

Belum lagi unsur mistic yang berkembang, bayangkan dari beberapa kepengurusan dan yang berdagang di tempat tersebut semuanya “tepar” alias bangkrut, namun ketika saya menjalankannya, meskipun ga ada kemajuan, toh pada akhirnya saya survive. Setidaknya, bisa melayani mahasiswa yang cuma mau jajan-jajan baso tahu, es atau mie ayam atau sekedar ngegosip pasca kuliah. katanya sih ada sihir ghaib persaingan dagang, sebelumnya saya tidak percaya, meskipun beberapa orang yang pakar gituan pada ngomong ditambah ada beberapa dosen juga yang percaya akhirnya ya saya tetap tidak percaya, hehe,, toh buktinya saya ga apa-apa, jalan-jalan aja.

Saking santernya bahkan ada yang bilang, “kalau bukan kamu pul, pasti udah ga kuat?” Lho emangnya saya siapa? muridnya ki Prana atau Citra Prima yang Dunia lain itu? haha. Ya meskipun memang terkadang saya merasakan hal aneh ketika jaga, terutama kalau udah pas tengah hari, perut ini terasa ada yang ngoyak-ngoyak, mencabik-cabik, menjelang jam 13, makin parah, kepala makin pusing, setelah saya selidiki ternyata “laper”, belum makan dari pagi. Haha.

Menjadi Manajer Kopma memang kisah menarik saya ketika menjadi mahasiswa, banyak pelajaran darisana, terutama pelajaran “melayani orang”, yah jadi Manajer, saya juga sekaligus menjadi “Pelayan Kantin”. Mantap benar, sehingga skripsipun tertunda.

Selain di Kopma, saya juga aktif di LPM, dengan karya yang fenomenal, Majalah Arloji, majalah satu-satunya yang diperhitungkan di Universitas Subang (Sekarang udah ga terbit), saya banyak belajar tentang jurnalistik disana.

Nah, saya kira cukup bercerita tentang Kegiatan Intra kampus saya di Universitas Subang. Sementara Itu

Organisasi Ekstra Kampus

Saya saya dipilhkan oleh Tuhan dengan organisasi ekstra kampus yang luar biasa, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) organisasi mahasiswa tertua di Indonesia. saya bayak belajar dari organisasi ini, dan banyak menelurkan berbagai cerita disana. Dari bagaimana dari saya seorang yang pendiam hingga bisa berbicara lepas, dari yang jomblo hingga punya pacar dan kemudian jomblo lagi dan masih banyak lagi cerita-cerita lainnya, yang mungkin akan saya tuliskan dalam sebuah novel (saya harap anda menunggu-nunggu novel ini). Namun yang jelas, HMI menjadi salah satu organisasi yang harus diperhitungkan untuk anda beraktifitas di kampus atau lebih tepatnya menjadi aktivis kampus. (Digaris bawahi, hati-hati memilih HMI, karena ada beberapa organisasi massa, yang mengatasnamakan HMI, yang benar HMI adalah yang di SK kan oleh Pengurus Besar HMI, yah wajar saja jika HMI yang Resmi banyak fitnahan)

Itu saja sih yang ingin saya tulis tentang Universitas Subang, jika tulisan ini sampai pada anda sebagai pembaca dan pencari Informasi tentang Unsub saya kira ini blog yang tepat, karena anda telah mengetahui beberapa informasi penting tentang Universitas Subang ini, tapi disisi lain anda juga salah karena ini adalah tulisan uji coba Search Engine Optimisation (SEO) sejak saya belajar ngeblog. Hehe,,, selamat menikmati tulisan saya, saya harap anda betah baca tulisan saya yang lain.

Baca juga blog-blog saya

salam, Mahasiswa Subang.

Sebelumnya, baca dulu Antara Lantai, Tikar dan Kasur Empuk.

wayang golek

pagelaran wayang golek di Subang

“Komplek Auri”, demikianlah jawaban saya ketika ada yang nanya “kamu ngekost dimana?”, meskipun jawaban itu kemudian masih harus saya deskripsikan –orang yang nanya juga terkadang orang yang jauh dari Kampus, mana dia tau-.

 “Dari gerbang Unsub, belok kanan, kemudian ada jalan, belok kiri jalan lurus 2 Km, kemudian ada gang paling terakhir, tanyain aja kost-an Aepul, pasti, semuanya belum pada tau” hehe.

 Selain Saya dan Uek, ada satu keluarga yang tinggal di Komplek tersebut, Keluarga Bu Jawa bersama Suami dan anaknya. Pedagang “Chiken” berasal dari Haurgeulis, Indramayu se daerah dengan Uek. Saya menyebutnya bu jawa karena ngomongnya masih kental berlogat jawa.

Ibu kost saya tinggal berdampingan dengan komplek kost-an, cukup baik dan ramah, namun terkadang suka menjengkelkan, yah, seperti ibu kost pada umumnya, rewel, banyak aturan ini itu, bahkan saya juga denger dari beberapa temen yang ngekost di tempat lain menyamakan Ibu Kost dengan Ibu Tiri yang ada di film-film itu.

 Ibu Kost saya gak gitu-gitu amat, terkadang jika akhir bulan ketika uang saya sudah menipis dan kelaperan gak nemu makanan, saya suka nebeng makan di rumah ibu kost, atau terkadang malah dianterin makanan, yah, baiklah. Meskipun terkadang menjengkelkan.

***

Setiap hari jadi Subang tanggal 5 April, Pemda Subang ngadain acara gede-gedean, layaknya Kabupaten yang lain, mulai dari konser musik, pasar malem, pawai, hingga pagelaran wayang golek.

Entah, saya lebih tertarik Pagelaran wayang golek daripada konser musik, meskipun beberapa kali yang datang pada Hari Jadi Subang bintang tamunya artis-artis terkenal ibukota, sudah ada dibenak saya kalau konser itu pasti rebut, nah itulah yang menjadi alas an saya memilih tidak nonton konser music apapun, meskipun terkadang dipaksa oleh temen-temen.

Pada malam terakhir perayaan HUT Subang, saya bersama beberapa temen mempersiapkan diri untuk nonton pagelaran wayang golek, dengan dalang favorit saya, Asep Sunandar Sunarya, dari Giri Harja 3, saya membawa tiker kesayangan malam itu.

Sesampainya di Alun-alun Subang saya memilih duduk di bawah tenda para pejabat Subang –Bupati, Wakilnya dan jajarannya- dengan alas an kalo hujan saya bisa berteduh disana.

pagelaran wayang golek

Bupati dan jajarannya menonton di panggung ini

Gak nunggu lama, saya membentangkan tikar dan duduk bersama temen-temen, selang waktu berjalan, cerita wayang golekpun sudah dimulai, Bupati dan pejabat lainnya turun dari panggung, dan pulang. Entah kegilaan apa saya lupa akan tiker tersebut malah memilih untuk naik panggung dan menyantap makanan sisa yang ada disana,

Setelah saya sadari ternyata tiker saya sudah lenyap dibawa orang. Sungguh saya kecewa. Sepulang dari nonton wayang golek dengan terpaksa saya harus tidur beralaskan lantai hingga beberapa hari.

Mungkin karena saya kehilangan tiker tersebut atau mungkin juga karena keseringan tidur dilantai, sayapun jatuh sakit, flu dan batuk-batuk. Ibu Kost yang sepertinya tidak tega melihat kondisi saya yang semakin parah akhirnya meminjamkan kasur tebal dan empuk yang sepertinya tidak pernah saya tidur diatas kasur seperti itu, dan kasur itu sepertinya menjadi milik saya hingga berakhirnya saya ngekost di komplek tersebut, dengan status “tambut gaduh” (Dipinjam dimiliki) hehe.

universitas subang

bukan universitas subang

Selepas SMA di Al-Amien Prenduan, sempet saya pilih-pilih Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, sebut saja Unpad, ITB di Bandung, , UGM di Jogja, ITS di Surabaya atau IPB di Bogor, bahkan saya juga pernah membidik Fakultas Kedokteran salah satu Universitas yang berada di Bandung. Haha, padahal nilai IPA saya sangat rendah.

Setiap hari saya membawa, buku SNMPTN, membaca dan mempelajarinya, meskipun terkadang saya mentog kemudian buku tersebut hanya menghiasi tangan saya dan memberikan kesan penuh di tas saya. Alias tidak dibaca.

Syahdan, ketika saya sedang gemar-gemarnya mencari informasi tentang PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi – Perguruan Tinggi Favorit di Bandung atau dikota-kota besar lainnya baik berupa Brosur, Famplet, Baligho ataupun di Koran tiba-tiba saya mendapatkan info Beasiswa Utusan Desa (UD) dari pejabat desa setempat, beasiswa khusus yang dikeluarkan Pemda Subang yang bekerja sama dengan Universitas Subang –Universitas lokal yang berada di daerah saya, Subang.

Cukup Menarik, namun kemudian saya ragu, saya tetap menginginkan untuk mengikuti Ujian SNMPTN sebagai syarat masuk PTN, dan pada akhirnya saya berfikir dan ngaca diri akan kemampuan yang dimiliki ditambah rasa malas untuk belajar panduan SNMPTN, pada waktu itu juga kondisi perekonomian keluarga sedang menurun, sehingga saya mengambil keputusan daripada  memaksakan diri untuk masuk PTN yang belum tentu keterima lebih baik  memanfaatkan beasiswa UD tersebut.

Sekitar 3 hari setelah  menerima informasi tersebut saya mengikuti ujian seleksi yang diadakan Universitas Subang, tidak sulit –emang pada dasarnya saya gak bodoh-bodoh banget, Cuma agak eror aja. Hehe. Semua soal saya isi dengan lancar, tentunya dengan jurus yang biasa saya pakai sewaktu sekolah, sebuah jurus andalan, Jurus Mengarang. Otomatis romantic, pas Ujiian Seleksi itu masuk ruangan telat pulang duluan. Yeah…

Seminggu kemudian saya mengambil hasil ujian tersebut dan hasilnya sudah pasti, saya lulus. Dengan predikat Mahasiswa Utusan Desa, haha, so pastilah saya akan diluluskan, karena Universitas Subang –yang lebih dikenal Unsub- ini sedang membutuhkan mahasiswa.

universitas subang

ini baru universitas subang

Sehari saya mempersiapkan perlengapan buat ngekost, beberapa pakaian untuk saya bawa ke Kota Subang, rencananya saya akan langsung mencari kost-kostan sekitar kampus, daripada saya harus bolak balik rumah-kampus yang jaraknya sekitar 75 km atau sekitar 2 jam perjalanan (pake Sepeda Motor) lebih baik saya ngekost, kebetulan juga saya pada waktu itu belum bisa mengendarai Sepeda Motor, hihi, jadi malu.

“Jangan lupa bawa tikarnya Jang” kata Emih

 Hah, tikar? Ucap saya dalam hati.

 “Ya, nanti Emih beliin kasur buat Njang kalau udah betah di Kost-an” Emih menjawab kata hati saya, inilah kehebatan seorang ibu, tau apa yang dikatakan dalam hati anaknya.

 “Ya, Mih, toh saya udah biasa tidur pake tikar sewaktu di Pesantren” Jawab saya meskipun dalam hati saya sedikit menolak. Bayangkan hamper sewindu lamanya saya tidur beralaskan tikar, sampai-sampai wajah saya ini ancur gara-gara keseringan tidur pake tikar, Namun saya menyadari, mungkin Emih belum punya uang untuk membelikan kasur. Meskipun sekedar kasur lantai.

 Tidak sulit bagi saya mendapatkan Kost-an, selepas pengarahan Mosmaba – dulu Ospek- di Kampus Universitas Subang itu saya berkenalan dengan Mahasiswa dari luar kota tepatnya Indramayu, Yoni Kurniawan, atau lebih dikenal dengan Uek, yang sudah lebih dulu mendapatkan tempat kost-an.

 “Udah kamu ngekost saja bareng saya, kebetulan masih ada satu kamar kosong” Katanya.

 “Emang didaerah mana?”

 “Deket kok, dibelakang kampus, hayu ikut saja”. Sayapun tak panjang lebar, mengikuti langkah si Uek ini.  Belum habis lima langkah, saya mendengar suara sayup-sayup beberapa meter di belakang saya.

 “A,,a,, itu tikernya ketinggalan” nyaris tak terdengar.

 Sayapun melihat pemilik suara yang nampaknya seorang perempuan dengan beberapa temannya.

“Saya?” Meyakinkan bahwa sayalah yang dipanggilnya.

 “Iya,,, Itu tikernya ketinggalan” Kali ini dengan setengah teriak, otomatis hampir semua Mahasiswa yang berada di halaman kampus melihat kearah perempuan itu, selanjutnya mendaratkan pandangan geli kearah saya, bahkan beberapa Mahasiswi cekikikan. Muka sayapun memerah menahan malu. Parah. Masalahnya, tiker yang saya bawa adalah tiker yang biasa dipake alas mandiin jenazah. Haha.

tiker

kira-kira seperti inilah tiker yang saya bawa, namun sekarang udah lenyap

Kost-an saya tepat berada dibelakang kampus, berada di gang Kutilang, gang terakhir dari Kampung Sukajadi, Kelurahan Soklat, Kabupaten Subang (haha,,, kayak bikin KTP aja, kudu nulis alamat lengkap) kebetulan sebelum saya ngekost disitu ada angin puting beliung besar yang merobohkan sebagian pagar tembok kampus bagian belakang –mungkin sudah tua dan lapuk- Nah, tembok jebol itulah jalan pintas ke Kampus sehingga jarak kost-an ke kampus terpangkas 2 km, jadi saya hanya butuh 20 langkah menuju ruangan dimana saya belajar, hebatkan puting beliung itu. Namun kebiasaan daatang telat pulang duluan masih menjadi gaya Epulkatama banget.

Sebenarnya tidak ada kreteria khusus bagi saya untuk memilih kost-an, karena belum berpengalaman ngekost namun yang penting saya bisa membayar uang kost-an tersebut alias murah. Berbicara kost-an murah tentu minim fasilitas, kamar 2 X 3 m, kamar mandi diluar, Full AC (angin cepoi-cepoi) plus Hard Bed atau lebih popular dengan sebutan lantai. Beruntung saya bawa tiker jenazah (ya ampun kesannya serem yah, ga akan diulangi deh kata jenazah nya) sehingga “Hard Bed” alias “lantai” dikostan saya permak menjadi “Jokowi Bed” –karena bentuknya yang kotak-kotak mirip baju khas Pa Jokowi, hehe.

Baca Yah Lanjutannya.