film romantis thailand, crazzy litle thing called love

Ini Shone, nama aslinya Mario Maurer

Pernahkah anda jatuh cinta? Kapankah anda pertama kali jatuh cinta? Atau masih ingatkah anda pada kisah cinta pertama anda? Jangan jangan anda belum pernah jatuh cinta.  Nah kali ini saya akan memberikan sebuah synopsis film thailand romantis tentang Cinta pertama, judul filmnya A Crazy little thing called love. Sinopsis film ini adalah yang kedua setelah sebelumnya saya nulis Sinopsis Hafalan Shalat Delisa.

Berawal dari seorang gadis SMP berusia 14th yang jelek, berkulit gelap, berkawat gigi dan norak (katro) “Nam” yang diam-diam menyukai seniornya di SMA “P. Shone”,  Shone adalah siswa yang popular, putih, ganteng dan banyak disukai cewe-cewe di Sekolah tersebut .

Nam mempunyai 3 teman yang setia, ketiga temennya mengetahui bahwa diam-diam Nam menyukai P. Shone temen-temennya membantu memberikan semangat dan memberikan tips-tips agar mendapatkan hati seorang cowok idaman.  Semuanya dijalani oleh Nam, meskipun nampaknya usahanya belum kelihatan hasilnya.

Sampai suatu saat, Nam diharuskan oleh eskull drama menjadi Snow White, untuk itu semua Nam dibantu temen-temennya mendandani Nam, hingga akhirnya kelihatan perubahan Nam, hingga lebih cantik dan menarik.

Selepas dari peran Snow White tersebut Nam berubah menjadi seorang cewe yang cantik dan semakin popular. Banyak cowok yang suka pada Nam, namun Nam tetap mengharapkan P. Shone.

film romantis thailand

ini perubahan Nam dari yang jelek menjadi Cantik. Nama aslinya agak ribet Pimchanok Lerwisetpibol

Nampaknya, ternyata P. Shone diam-diam juga sudah menyukai Nam dari awal sebelum Nam berubah, sampai akhirnya datanglah temennya yang pindahan dari sekolah lain “Top”, yang ternyata juga menyukai Nam, akhirnya Shone mengalah.

Suatu saat, ada surat yang diselipkan di buku Nam, Nam sangat gembira, dia sangat yakin bahwa surat itu dari Shone, surat tersebut mengajak Nam ketemuan. Namun setelah datang ke tempat tersebut Nam kecewa, ternyata surat itu dari Top. Dan tidak diduga Top menyatakan cinta pada Nam.

Yang lebih kecewa adalah P. Shone yang diam-diam juga menyukai Nam menyaksikan kejadian tersebut.

Untuk lebih jelasnya silahkan lihat aja Full Movienya di You Tube, namun ini Subtitlenya pake Bahasa Inggris. Kalau mau lebih asyiknya cari aja downloadan film sama subtitlenya yang pake bahasa inggris. aslinya ini film romantis thailand yang asik dan seru banget, selain itu banyak kejadian-kejadian yang lucu.

Lihat Filmnya disini

Baca Sinopsis saya yang lainnya.

Hafalan Shalat Delisa

universitas subang

bukan universitas subang

Selepas SMA di Al-Amien Prenduan, sempet saya pilih-pilih Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, sebut saja Unpad, ITB di Bandung, , UGM di Jogja, ITS di Surabaya atau IPB di Bogor, bahkan saya juga pernah membidik Fakultas Kedokteran salah satu Universitas yang berada di Bandung. Haha, padahal nilai IPA saya sangat rendah.

Setiap hari saya membawa, buku SNMPTN, membaca dan mempelajarinya, meskipun terkadang saya mentog kemudian buku tersebut hanya menghiasi tangan saya dan memberikan kesan penuh di tas saya. Alias tidak dibaca.

Syahdan, ketika saya sedang gemar-gemarnya mencari informasi tentang PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi – Perguruan Tinggi Favorit di Bandung atau dikota-kota besar lainnya baik berupa Brosur, Famplet, Baligho ataupun di Koran tiba-tiba saya mendapatkan info Beasiswa Utusan Desa (UD) dari pejabat desa setempat, beasiswa khusus yang dikeluarkan Pemda Subang yang bekerja sama dengan Universitas Subang –Universitas lokal yang berada di daerah saya, Subang.

Cukup Menarik, namun kemudian saya ragu, saya tetap menginginkan untuk mengikuti Ujian SNMPTN sebagai syarat masuk PTN, dan pada akhirnya saya berfikir dan ngaca diri akan kemampuan yang dimiliki ditambah rasa malas untuk belajar panduan SNMPTN, pada waktu itu juga kondisi perekonomian keluarga sedang menurun, sehingga saya mengambil keputusan daripada  memaksakan diri untuk masuk PTN yang belum tentu keterima lebih baik  memanfaatkan beasiswa UD tersebut.

Sekitar 3 hari setelah  menerima informasi tersebut saya mengikuti ujian seleksi yang diadakan Universitas Subang, tidak sulit –emang pada dasarnya saya gak bodoh-bodoh banget, Cuma agak eror aja. Hehe. Semua soal saya isi dengan lancar, tentunya dengan jurus yang biasa saya pakai sewaktu sekolah, sebuah jurus andalan, Jurus Mengarang. Otomatis romantic, pas Ujiian Seleksi itu masuk ruangan telat pulang duluan. Yeah…

Seminggu kemudian saya mengambil hasil ujian tersebut dan hasilnya sudah pasti, saya lulus. Dengan predikat Mahasiswa Utusan Desa, haha, so pastilah saya akan diluluskan, karena Universitas Subang –yang lebih dikenal Unsub- ini sedang membutuhkan mahasiswa.

universitas subang

ini baru universitas subang

Sehari saya mempersiapkan perlengapan buat ngekost, beberapa pakaian untuk saya bawa ke Kota Subang, rencananya saya akan langsung mencari kost-kostan sekitar kampus, daripada saya harus bolak balik rumah-kampus yang jaraknya sekitar 75 km atau sekitar 2 jam perjalanan (pake Sepeda Motor) lebih baik saya ngekost, kebetulan juga saya pada waktu itu belum bisa mengendarai Sepeda Motor, hihi, jadi malu.

“Jangan lupa bawa tikarnya Jang” kata Emih

 Hah, tikar? Ucap saya dalam hati.

 “Ya, nanti Emih beliin kasur buat Njang kalau udah betah di Kost-an” Emih menjawab kata hati saya, inilah kehebatan seorang ibu, tau apa yang dikatakan dalam hati anaknya.

 “Ya, Mih, toh saya udah biasa tidur pake tikar sewaktu di Pesantren” Jawab saya meskipun dalam hati saya sedikit menolak. Bayangkan hamper sewindu lamanya saya tidur beralaskan tikar, sampai-sampai wajah saya ini ancur gara-gara keseringan tidur pake tikar, Namun saya menyadari, mungkin Emih belum punya uang untuk membelikan kasur. Meskipun sekedar kasur lantai.

 Tidak sulit bagi saya mendapatkan Kost-an, selepas pengarahan Mosmaba – dulu Ospek- di Kampus Universitas Subang itu saya berkenalan dengan Mahasiswa dari luar kota tepatnya Indramayu, Yoni Kurniawan, atau lebih dikenal dengan Uek, yang sudah lebih dulu mendapatkan tempat kost-an.

 “Udah kamu ngekost saja bareng saya, kebetulan masih ada satu kamar kosong” Katanya.

 “Emang didaerah mana?”

 “Deket kok, dibelakang kampus, hayu ikut saja”. Sayapun tak panjang lebar, mengikuti langkah si Uek ini.  Belum habis lima langkah, saya mendengar suara sayup-sayup beberapa meter di belakang saya.

 “A,,a,, itu tikernya ketinggalan” nyaris tak terdengar.

 Sayapun melihat pemilik suara yang nampaknya seorang perempuan dengan beberapa temannya.

“Saya?” Meyakinkan bahwa sayalah yang dipanggilnya.

 “Iya,,, Itu tikernya ketinggalan” Kali ini dengan setengah teriak, otomatis hampir semua Mahasiswa yang berada di halaman kampus melihat kearah perempuan itu, selanjutnya mendaratkan pandangan geli kearah saya, bahkan beberapa Mahasiswi cekikikan. Muka sayapun memerah menahan malu. Parah. Masalahnya, tiker yang saya bawa adalah tiker yang biasa dipake alas mandiin jenazah. Haha.

tiker

kira-kira seperti inilah tiker yang saya bawa, namun sekarang udah lenyap

Kost-an saya tepat berada dibelakang kampus, berada di gang Kutilang, gang terakhir dari Kampung Sukajadi, Kelurahan Soklat, Kabupaten Subang (haha,,, kayak bikin KTP aja, kudu nulis alamat lengkap) kebetulan sebelum saya ngekost disitu ada angin puting beliung besar yang merobohkan sebagian pagar tembok kampus bagian belakang –mungkin sudah tua dan lapuk- Nah, tembok jebol itulah jalan pintas ke Kampus sehingga jarak kost-an ke kampus terpangkas 2 km, jadi saya hanya butuh 20 langkah menuju ruangan dimana saya belajar, hebatkan puting beliung itu. Namun kebiasaan daatang telat pulang duluan masih menjadi gaya Epulkatama banget.

Sebenarnya tidak ada kreteria khusus bagi saya untuk memilih kost-an, karena belum berpengalaman ngekost namun yang penting saya bisa membayar uang kost-an tersebut alias murah. Berbicara kost-an murah tentu minim fasilitas, kamar 2 X 3 m, kamar mandi diluar, Full AC (angin cepoi-cepoi) plus Hard Bed atau lebih popular dengan sebutan lantai. Beruntung saya bawa tiker jenazah (ya ampun kesannya serem yah, ga akan diulangi deh kata jenazah nya) sehingga “Hard Bed” alias “lantai” dikostan saya permak menjadi “Jokowi Bed” –karena bentuknya yang kotak-kotak mirip baju khas Pa Jokowi, hehe.

Baca Yah Lanjutannya.

Handphone

17 July 2012

Handphoneku ketinggalan,

Di bangku sekolah, ah, atau jangan-jangan di rumah.

Meskipun dalam angkot, teringat handphoneku

Ibu tua, pedagang ikan asin, kondektur, dan lelaki bertubuh tegap itu, menatap heran,

Aku yang kebingungan,

Handphone ku ketinggalan.

Entah dimana?

Padahal handphone itu,

Menyimpan banyak rahasiaku, dengan dia,

Photo-photo mesum, video mesum,

Dan serba mesum lainnya,

Padahal handphone itu,

Masih tersimpan pesan-pesan,

Dengan selingkuhan, baru-baru ini,

Tapi syukurlah, phone sex ku tak dapat terekam dan disimpan disana.

Tak terbayang apa jadinya, jika seseorang menemukannya,

Mengup-load semua isi handphoneku di internet,

Betapa malunya, aku, keluargaku, sekolahku, teman-temanku, dan semua yang mengenal,

Aku, . .

Handphoneku ketinggalan, entah dimana

Aku kebingungan, terbang, melayang,,,

Dan, pada akhirnya, “Mba, itu handphonenya bunyi dari tadi”

Ya ampun, handphoneku ada, terselip diantara buku-buku LKS.

Sebuah Pengharapan

29 January 2012

Fira termenung, ketika ia memandang lembayung senja yang menggaris membelah sebagian langit, sore itu begitu cerah, tidak seperti biasanya, kabut hanya menyelimuti tipis kaki bukit Papandayan, sesaat kemudian terlintas bayangan Afandi, kekasih hatinya, tunangannya, air matanya pun tak terbendung, Fira terisak, butir air mata menetes dipipinya yang merah.

“haha, kamu ini ada-ada saja, massa mas mu ini disuruh bawa onta, itu bukan romantis tapi menyiksa” ujar Afandi lewat telepon seluler.

“Abis aku bosen mas, naik sepeda onthel, katanya mau yang romantis sekalian aja pake onta, nah mas yang beli tuh di Mekah” jawab Fira sambil cemberut.

Meskipun jarak mereka berjauhan tapi seakan mereka memahami ekspresi wajah diantara mereka.

“Yo wis, aku mau isti’dzan (mohon izin) pulang ke Ustad Abu bakar di kediamannya di Madinah, setelah itu aku mau berkemas, besok aku sudah berangkat dari Jeddah, kamu istirahat gih, besok kan katanya mau nemenin ummi belanja ke pasar” kata Fandi.

“ya mas mangga (silahkan, sunda)” jawab Fira.

“Assalamualaikum”

“wa’alaikum salam”.

Kata-kata itu seakan masih melekat ditelinga Fira, selalu membayang dibenaknya, canda terakhir lewat telepon sebelum akhirnya pesawat boing 7774R yang ditumpangi Afandi mengalami kerusakan mesin dan gagal mendarat darurat di Kuala Lumpur, terdengar kabar tidak ada korban dalam gagal landing tersebut namun semua penumpang terbengkalai di Malaysia hingga akhirnya Fira menyadari bahwa Afandi tidak ada kabar, handphonenya tidak bisa dihubungi, dan semenjak itu pula Afandi hilang.

Fira masih terbaring di sofa di beranda rumahnya, pandangannya kosong, hatinya masih melayang membayangkan Afandi, senyumnya, candanya, segalanya dan apapun kenangan yang pernah diarungi bersama Afandi kembali terkenang, meskipun sebenarnya lelah, ia tetap terhadap keyakinannya, suatu saat Afandi akan datang, menjawab semua impian yang pernah mereka berdua rajut, tak terasa iapun terlelap, tidur dengan senyuman hampa.

***

“Apa mi??? Kenapa Ummi ga bilang dulu sama aku?” jawab Fira setengah kaget, setelah mendengar kabar dari Umminya bahwa dirinya dilamar oleh Ustadz Arif.

“Lho kan Ummi juga belum menerimanya neng, Ummi dan Abimu belum bisa menentukan jawabannya sebelum kamu sendiri yang menentukan” jelas Ummi.

“Oh, Syukurlah ummi, masalahnya aku kan masih dalam khitbah (lamarannya) nya mas Afandi, aku masih berharap mas Fandi datang” kata Fira.

“Ya ummi juga mengerti neng, tapi hingga sekarang mas Fandi-mu belum ada kabar, bisa saja kan dia. . . .” Ummi nya tidak meneruskan kata-katanya, ketika saja menatap wajah putri semata wayangnya berbinar. Kemudian Ummi memeluk Fira, keduanya larut dalam kesedihan.

“Maafkan Ummi, neng! sudahlah, mungkin ini sudah jalan yang ditentukan Allah” Ibu itu mengelus pundak anak perawannya tersayang.

***

Arif Muhammad, seorang ustadz di desa Cimuncang, tidak ada catatan buruk dalam hidup bermasyarakatnya, baik, alim, sopan, dan hmm, lumayan ganteng, apalagi katanya  banyak para gadis yang suka sama dia, tapi ternyata hati Fira masih belum bisa memaksakan untuk menerima lamaran Ustadz Arif, hingga kini lamarannya masih ditangguhkan, namun ia menyadari, semuanya tidak bisa didiamkan begitu saja, ia harus memilih, menerimanya atau menolak, ia juga menyadari bahwa menunggu adalah hal yang membosankan, dan menjenuhkan, ia sadar betul apa yang dirasakan Ustadz Arif.

“Istikhoroh neng, mungkin itu bisa membantu” Saran Umminya.

“Iya mi, sudah Neng jalanin, belum ada petunjuk mi” terang Fira.

“Ya sabar aja, nanti juga pasti ada petunjuk dari Allah” sambung Umminya.

***

Sebulan berlalu,

“”Ummi,,, Surat undangan yang buat temen-temen Fira disebelah mana?” tanya Fira pada Umminya yang sedang di dapur.

“Mungkin di kamar neng” jawab Ummi,

Firapun bergegas ke kamarnya dan segera merapihkan surat undangan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, pasca penerimaan lamarannya ia bener-bener sibuk mempersiapkan hari pernikahannya.

Ia masih menyimpan Foto Afandi yang dibingkai, diatas meja, ia bergumam.

“Akhirnya, aku memutuskan untuk menerima lamaran Udstaz Arif mas” sambil membayangkan wajah Afandi.

“Maafkan aku mas”  . . .

Hari yang dinantikan pun akan tiba, besok pernikahan Fira Mariana akan segera dilangsungkan, rumah Fira sudah dipenuhi oleh kerabat-kerabat jauhnya, hari ini dia akan sowan ke rumah kakeknya di Bandung, Fira berangkat ditemani Irna, ternyata dalam hatinya masih membayangkan dan mengharapkan Afandi, selama perjalanan ia melamun, hingga pada akhirnya ia tak menyadari mobil yang disetirnya oleng dan,,,,

“Gubrakkk” Fira menyerempet sepeda motor yang berlawanan arah.

“ya Allah, apa yang terjadi” Fira terkejut, wajahnya pucat pasi.

“Fira kamu tidak apa-apa?” tanya Irna pada Fira.

“Tidak Na,, Aku menabrak seseorang, coba kamu lihat keluar, apa dia baik-baik saja?” Pinta Fira. Irna pun keluar untuk memastikan keadaan lelaki itu.

Lelaki yang ditabrak mobil Fira, terpental beberapa langkah, sepertinya orang tersebut tidak mengalami luka yang parah, terlihat orang tersebut bangkit. Dan menatap ke Fira yang masih didalam mobilnya.

Fira pun keluar dari mobilnya,

“mas ga apa-apa?” tanya Fira, tapi sesaat kemudian ia terkejut,,,

“Ya Allah, Mas Afandi???”

Di End. . . .