Sebelumnya, baca dulu Antara Lantai, Tikar dan Kasur Empuk.

wayang golek

pagelaran wayang golek di Subang

“Komplek Auri”, demikianlah jawaban saya ketika ada yang nanya “kamu ngekost dimana?”, meskipun jawaban itu kemudian masih harus saya deskripsikan –orang yang nanya juga terkadang orang yang jauh dari Kampus, mana dia tau-.

 “Dari gerbang Unsub, belok kanan, kemudian ada jalan, belok kiri jalan lurus 2 Km, kemudian ada gang paling terakhir, tanyain aja kost-an Aepul, pasti, semuanya belum pada tau” hehe.

 Selain Saya dan Uek, ada satu keluarga yang tinggal di Komplek tersebut, Keluarga Bu Jawa bersama Suami dan anaknya. Pedagang “Chiken” berasal dari Haurgeulis, Indramayu se daerah dengan Uek. Saya menyebutnya bu jawa karena ngomongnya masih kental berlogat jawa.

Ibu kost saya tinggal berdampingan dengan komplek kost-an, cukup baik dan ramah, namun terkadang suka menjengkelkan, yah, seperti ibu kost pada umumnya, rewel, banyak aturan ini itu, bahkan saya juga denger dari beberapa temen yang ngekost di tempat lain menyamakan Ibu Kost dengan Ibu Tiri yang ada di film-film itu.

 Ibu Kost saya gak gitu-gitu amat, terkadang jika akhir bulan ketika uang saya sudah menipis dan kelaperan gak nemu makanan, saya suka nebeng makan di rumah ibu kost, atau terkadang malah dianterin makanan, yah, baiklah. Meskipun terkadang menjengkelkan.

***

Setiap hari jadi Subang tanggal 5 April, Pemda Subang ngadain acara gede-gedean, layaknya Kabupaten yang lain, mulai dari konser musik, pasar malem, pawai, hingga pagelaran wayang golek.

Entah, saya lebih tertarik Pagelaran wayang golek daripada konser musik, meskipun beberapa kali yang datang pada Hari Jadi Subang bintang tamunya artis-artis terkenal ibukota, sudah ada dibenak saya kalau konser itu pasti rebut, nah itulah yang menjadi alas an saya memilih tidak nonton konser music apapun, meskipun terkadang dipaksa oleh temen-temen.

Pada malam terakhir perayaan HUT Subang, saya bersama beberapa temen mempersiapkan diri untuk nonton pagelaran wayang golek, dengan dalang favorit saya, Asep Sunandar Sunarya, dari Giri Harja 3, saya membawa tiker kesayangan malam itu.

Sesampainya di Alun-alun Subang saya memilih duduk di bawah tenda para pejabat Subang –Bupati, Wakilnya dan jajarannya- dengan alas an kalo hujan saya bisa berteduh disana.

pagelaran wayang golek

Bupati dan jajarannya menonton di panggung ini

Gak nunggu lama, saya membentangkan tikar dan duduk bersama temen-temen, selang waktu berjalan, cerita wayang golekpun sudah dimulai, Bupati dan pejabat lainnya turun dari panggung, dan pulang. Entah kegilaan apa saya lupa akan tiker tersebut malah memilih untuk naik panggung dan menyantap makanan sisa yang ada disana,

Setelah saya sadari ternyata tiker saya sudah lenyap dibawa orang. Sungguh saya kecewa. Sepulang dari nonton wayang golek dengan terpaksa saya harus tidur beralaskan lantai hingga beberapa hari.

Mungkin karena saya kehilangan tiker tersebut atau mungkin juga karena keseringan tidur dilantai, sayapun jatuh sakit, flu dan batuk-batuk. Ibu Kost yang sepertinya tidak tega melihat kondisi saya yang semakin parah akhirnya meminjamkan kasur tebal dan empuk yang sepertinya tidak pernah saya tidur diatas kasur seperti itu, dan kasur itu sepertinya menjadi milik saya hingga berakhirnya saya ngekost di komplek tersebut, dengan status “tambut gaduh” (Dipinjam dimiliki) hehe.

universitas subang

bukan universitas subang

Selepas SMA di Al-Amien Prenduan, sempet saya pilih-pilih Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, sebut saja Unpad, ITB di Bandung, , UGM di Jogja, ITS di Surabaya atau IPB di Bogor, bahkan saya juga pernah membidik Fakultas Kedokteran salah satu Universitas yang berada di Bandung. Haha, padahal nilai IPA saya sangat rendah.

Setiap hari saya membawa, buku SNMPTN, membaca dan mempelajarinya, meskipun terkadang saya mentog kemudian buku tersebut hanya menghiasi tangan saya dan memberikan kesan penuh di tas saya. Alias tidak dibaca.

Syahdan, ketika saya sedang gemar-gemarnya mencari informasi tentang PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi – Perguruan Tinggi Favorit di Bandung atau dikota-kota besar lainnya baik berupa Brosur, Famplet, Baligho ataupun di Koran tiba-tiba saya mendapatkan info Beasiswa Utusan Desa (UD) dari pejabat desa setempat, beasiswa khusus yang dikeluarkan Pemda Subang yang bekerja sama dengan Universitas Subang –Universitas lokal yang berada di daerah saya, Subang.

Cukup Menarik, namun kemudian saya ragu, saya tetap menginginkan untuk mengikuti Ujian SNMPTN sebagai syarat masuk PTN, dan pada akhirnya saya berfikir dan ngaca diri akan kemampuan yang dimiliki ditambah rasa malas untuk belajar panduan SNMPTN, pada waktu itu juga kondisi perekonomian keluarga sedang menurun, sehingga saya mengambil keputusan daripada  memaksakan diri untuk masuk PTN yang belum tentu keterima lebih baik  memanfaatkan beasiswa UD tersebut.

Sekitar 3 hari setelah  menerima informasi tersebut saya mengikuti ujian seleksi yang diadakan Universitas Subang, tidak sulit –emang pada dasarnya saya gak bodoh-bodoh banget, Cuma agak eror aja. Hehe. Semua soal saya isi dengan lancar, tentunya dengan jurus yang biasa saya pakai sewaktu sekolah, sebuah jurus andalan, Jurus Mengarang. Otomatis romantic, pas Ujiian Seleksi itu masuk ruangan telat pulang duluan. Yeah…

Seminggu kemudian saya mengambil hasil ujian tersebut dan hasilnya sudah pasti, saya lulus. Dengan predikat Mahasiswa Utusan Desa, haha, so pastilah saya akan diluluskan, karena Universitas Subang –yang lebih dikenal Unsub- ini sedang membutuhkan mahasiswa.

universitas subang

ini baru universitas subang

Sehari saya mempersiapkan perlengapan buat ngekost, beberapa pakaian untuk saya bawa ke Kota Subang, rencananya saya akan langsung mencari kost-kostan sekitar kampus, daripada saya harus bolak balik rumah-kampus yang jaraknya sekitar 75 km atau sekitar 2 jam perjalanan (pake Sepeda Motor) lebih baik saya ngekost, kebetulan juga saya pada waktu itu belum bisa mengendarai Sepeda Motor, hihi, jadi malu.

“Jangan lupa bawa tikarnya Jang” kata Emih

 Hah, tikar? Ucap saya dalam hati.

 “Ya, nanti Emih beliin kasur buat Njang kalau udah betah di Kost-an” Emih menjawab kata hati saya, inilah kehebatan seorang ibu, tau apa yang dikatakan dalam hati anaknya.

 “Ya, Mih, toh saya udah biasa tidur pake tikar sewaktu di Pesantren” Jawab saya meskipun dalam hati saya sedikit menolak. Bayangkan hamper sewindu lamanya saya tidur beralaskan tikar, sampai-sampai wajah saya ini ancur gara-gara keseringan tidur pake tikar, Namun saya menyadari, mungkin Emih belum punya uang untuk membelikan kasur. Meskipun sekedar kasur lantai.

 Tidak sulit bagi saya mendapatkan Kost-an, selepas pengarahan Mosmaba – dulu Ospek- di Kampus Universitas Subang itu saya berkenalan dengan Mahasiswa dari luar kota tepatnya Indramayu, Yoni Kurniawan, atau lebih dikenal dengan Uek, yang sudah lebih dulu mendapatkan tempat kost-an.

 “Udah kamu ngekost saja bareng saya, kebetulan masih ada satu kamar kosong” Katanya.

 “Emang didaerah mana?”

 “Deket kok, dibelakang kampus, hayu ikut saja”. Sayapun tak panjang lebar, mengikuti langkah si Uek ini.  Belum habis lima langkah, saya mendengar suara sayup-sayup beberapa meter di belakang saya.

 “A,,a,, itu tikernya ketinggalan” nyaris tak terdengar.

 Sayapun melihat pemilik suara yang nampaknya seorang perempuan dengan beberapa temannya.

“Saya?” Meyakinkan bahwa sayalah yang dipanggilnya.

 “Iya,,, Itu tikernya ketinggalan” Kali ini dengan setengah teriak, otomatis hampir semua Mahasiswa yang berada di halaman kampus melihat kearah perempuan itu, selanjutnya mendaratkan pandangan geli kearah saya, bahkan beberapa Mahasiswi cekikikan. Muka sayapun memerah menahan malu. Parah. Masalahnya, tiker yang saya bawa adalah tiker yang biasa dipake alas mandiin jenazah. Haha.

tiker

kira-kira seperti inilah tiker yang saya bawa, namun sekarang udah lenyap

Kost-an saya tepat berada dibelakang kampus, berada di gang Kutilang, gang terakhir dari Kampung Sukajadi, Kelurahan Soklat, Kabupaten Subang (haha,,, kayak bikin KTP aja, kudu nulis alamat lengkap) kebetulan sebelum saya ngekost disitu ada angin puting beliung besar yang merobohkan sebagian pagar tembok kampus bagian belakang –mungkin sudah tua dan lapuk- Nah, tembok jebol itulah jalan pintas ke Kampus sehingga jarak kost-an ke kampus terpangkas 2 km, jadi saya hanya butuh 20 langkah menuju ruangan dimana saya belajar, hebatkan puting beliung itu. Namun kebiasaan daatang telat pulang duluan masih menjadi gaya Epulkatama banget.

Sebenarnya tidak ada kreteria khusus bagi saya untuk memilih kost-an, karena belum berpengalaman ngekost namun yang penting saya bisa membayar uang kost-an tersebut alias murah. Berbicara kost-an murah tentu minim fasilitas, kamar 2 X 3 m, kamar mandi diluar, Full AC (angin cepoi-cepoi) plus Hard Bed atau lebih popular dengan sebutan lantai. Beruntung saya bawa tiker jenazah (ya ampun kesannya serem yah, ga akan diulangi deh kata jenazah nya) sehingga “Hard Bed” alias “lantai” dikostan saya permak menjadi “Jokowi Bed” –karena bentuknya yang kotak-kotak mirip baju khas Pa Jokowi, hehe.

Baca Yah Lanjutannya.

maaf, ga nemu ilustrasi yang cocok buat keduanya. hehehe

Saya pernah belajar keduanya, meskipun di karate saya hanya sebatas hafal nyampe kata 3 atau jangan-jangan cuma kata 2 saja, itu juga dulu, sekarang mungkin udah pada lupa, hehe. Dan sekarang saya sedang belajar taekwondo, niatannya sih mau nyelesein sampai bersabuk hitam, ngga cuman sabuk putih. Hehe.

Di karate, saya dilatih oleh dua orang hebat menurut saya, simpei jul dan simpei nur, ditengah-tengah kesibukan mereka, mereka masih sempet datang dan melatih para karateka muda, termasuk saya pada waktu itu, haha ngakunya karateka padahal kumite aja belum pernah. Latihannya waktu itu di kodim 0605 Subang, kalau gak salah tiap hari senin, kamis sama hari minggu, para simpei dengan sabar melatih kami, meskipun menurut saya anak-anak karate pada waktu itu susah diatur, buat latihan ngadepin pertandingan aja susah banget, sempet saya lihat wajah simpei nur kesel ketika melihat anak-anak yang mau bertanding tidak pada datang. Tapi saya tahu, beliau adalah orang yang sabar, oh iya lupa, saya sampai saat ini merasa bersalah sama dia, soalnya pas keluar karate, saya cuma bisa pamitan di jalan.

Perguruan kami pada waktu itu, saya lupa namanya, tapi yang jelas ada nama perkumpulannya, saya nemunya juga di Fesbuk, INKANAS Kabupaten Subang, ga tau juga sebenarnya, entah itu perkumpulannya atau emang itu nama perguruannya.

Di karate juga, saya dikenalkan, lebih tepatnya mengenal, seorang cewe yang cantik, dan kayaknya smart. Jujur, cewe itu salahsatu alasan saya pada waktu itu rajin latihan karate. Tapi nanti aja deh saya bahasnya, soalnya postingan kali ini saya akan membahas, perbedaan antara karate sama taekwondo.

Sedangkan Taekwondo, saya baru masuk akhir Juni 2012 kemarin, Sebenarnya saya mau masuk dari awal 2012, namun waktu latihan yang selalu bentrok dengan jadwal kegiatan saya lainnya, sehingga niatan saya itu baru kesampaian akhir juni kemarin, Nana, ya, sabum Nana kenalan waktu pas sebuah acara dinas kepemudaan di Subang, Pemuda pelopor, yang mengajak saya untuk ikut latihan taekwondo, dan mengenal lebih jauh tentang taekwondo.

Di taekwondo ini, saya lihat anak-anaknya lebih solid, mereka juga rajin latihan, ada kelas mahasiswanya lagi, sekarang, saya juga kalau latihan bareng kelas mahasiswa, kebanyakan anak-anak fakultas hukum.

Kalau di Karate INKANAS, nah di taekwondo ini nama perkumpulannya, atau juga perguruannya adalah STS ASKO, singkatannya yang saya tau Cuma STS nya saja, Subang Takwondo School, Sabum Nana yang ngediriin.

Perbedaan antara Takwondo dan Karate. Baca disini.