universitas subang

bukan universitas subang

Selepas SMA di Al-Amien Prenduan, sempet saya pilih-pilih Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, sebut saja Unpad, ITB di Bandung, , UGM di Jogja, ITS di Surabaya atau IPB di Bogor, bahkan saya juga pernah membidik Fakultas Kedokteran salah satu Universitas yang berada di Bandung. Haha, padahal nilai IPA saya sangat rendah.

Setiap hari saya membawa, buku SNMPTN, membaca dan mempelajarinya, meskipun terkadang saya mentog kemudian buku tersebut hanya menghiasi tangan saya dan memberikan kesan penuh di tas saya. Alias tidak dibaca.

Syahdan, ketika saya sedang gemar-gemarnya mencari informasi tentang PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi – Perguruan Tinggi Favorit di Bandung atau dikota-kota besar lainnya baik berupa Brosur, Famplet, Baligho ataupun di Koran tiba-tiba saya mendapatkan info Beasiswa Utusan Desa (UD) dari pejabat desa setempat, beasiswa khusus yang dikeluarkan Pemda Subang yang bekerja sama dengan Universitas Subang –Universitas lokal yang berada di daerah saya, Subang.

Cukup Menarik, namun kemudian saya ragu, saya tetap menginginkan untuk mengikuti Ujian SNMPTN sebagai syarat masuk PTN, dan pada akhirnya saya berfikir dan ngaca diri akan kemampuan yang dimiliki ditambah rasa malas untuk belajar panduan SNMPTN, pada waktu itu juga kondisi perekonomian keluarga sedang menurun, sehingga saya mengambil keputusan daripada  memaksakan diri untuk masuk PTN yang belum tentu keterima lebih baik  memanfaatkan beasiswa UD tersebut.

Sekitar 3 hari setelah  menerima informasi tersebut saya mengikuti ujian seleksi yang diadakan Universitas Subang, tidak sulit –emang pada dasarnya saya gak bodoh-bodoh banget, Cuma agak eror aja. Hehe. Semua soal saya isi dengan lancar, tentunya dengan jurus yang biasa saya pakai sewaktu sekolah, sebuah jurus andalan, Jurus Mengarang. Otomatis romantic, pas Ujiian Seleksi itu masuk ruangan telat pulang duluan. Yeah…

Seminggu kemudian saya mengambil hasil ujian tersebut dan hasilnya sudah pasti, saya lulus. Dengan predikat Mahasiswa Utusan Desa, haha, so pastilah saya akan diluluskan, karena Universitas Subang –yang lebih dikenal Unsub- ini sedang membutuhkan mahasiswa.

universitas subang

ini baru universitas subang

Sehari saya mempersiapkan perlengapan buat ngekost, beberapa pakaian untuk saya bawa ke Kota Subang, rencananya saya akan langsung mencari kost-kostan sekitar kampus, daripada saya harus bolak balik rumah-kampus yang jaraknya sekitar 75 km atau sekitar 2 jam perjalanan (pake Sepeda Motor) lebih baik saya ngekost, kebetulan juga saya pada waktu itu belum bisa mengendarai Sepeda Motor, hihi, jadi malu.

“Jangan lupa bawa tikarnya Jang” kata Emih

 Hah, tikar? Ucap saya dalam hati.

 “Ya, nanti Emih beliin kasur buat Njang kalau udah betah di Kost-an” Emih menjawab kata hati saya, inilah kehebatan seorang ibu, tau apa yang dikatakan dalam hati anaknya.

 “Ya, Mih, toh saya udah biasa tidur pake tikar sewaktu di Pesantren” Jawab saya meskipun dalam hati saya sedikit menolak. Bayangkan hamper sewindu lamanya saya tidur beralaskan tikar, sampai-sampai wajah saya ini ancur gara-gara keseringan tidur pake tikar, Namun saya menyadari, mungkin Emih belum punya uang untuk membelikan kasur. Meskipun sekedar kasur lantai.

 Tidak sulit bagi saya mendapatkan Kost-an, selepas pengarahan Mosmaba – dulu Ospek- di Kampus Universitas Subang itu saya berkenalan dengan Mahasiswa dari luar kota tepatnya Indramayu, Yoni Kurniawan, atau lebih dikenal dengan Uek, yang sudah lebih dulu mendapatkan tempat kost-an.

 “Udah kamu ngekost saja bareng saya, kebetulan masih ada satu kamar kosong” Katanya.

 “Emang didaerah mana?”

 “Deket kok, dibelakang kampus, hayu ikut saja”. Sayapun tak panjang lebar, mengikuti langkah si Uek ini.  Belum habis lima langkah, saya mendengar suara sayup-sayup beberapa meter di belakang saya.

 “A,,a,, itu tikernya ketinggalan” nyaris tak terdengar.

 Sayapun melihat pemilik suara yang nampaknya seorang perempuan dengan beberapa temannya.

“Saya?” Meyakinkan bahwa sayalah yang dipanggilnya.

 “Iya,,, Itu tikernya ketinggalan” Kali ini dengan setengah teriak, otomatis hampir semua Mahasiswa yang berada di halaman kampus melihat kearah perempuan itu, selanjutnya mendaratkan pandangan geli kearah saya, bahkan beberapa Mahasiswi cekikikan. Muka sayapun memerah menahan malu. Parah. Masalahnya, tiker yang saya bawa adalah tiker yang biasa dipake alas mandiin jenazah. Haha.

tiker

kira-kira seperti inilah tiker yang saya bawa, namun sekarang udah lenyap

Kost-an saya tepat berada dibelakang kampus, berada di gang Kutilang, gang terakhir dari Kampung Sukajadi, Kelurahan Soklat, Kabupaten Subang (haha,,, kayak bikin KTP aja, kudu nulis alamat lengkap) kebetulan sebelum saya ngekost disitu ada angin puting beliung besar yang merobohkan sebagian pagar tembok kampus bagian belakang –mungkin sudah tua dan lapuk- Nah, tembok jebol itulah jalan pintas ke Kampus sehingga jarak kost-an ke kampus terpangkas 2 km, jadi saya hanya butuh 20 langkah menuju ruangan dimana saya belajar, hebatkan puting beliung itu. Namun kebiasaan daatang telat pulang duluan masih menjadi gaya Epulkatama banget.

Sebenarnya tidak ada kreteria khusus bagi saya untuk memilih kost-an, karena belum berpengalaman ngekost namun yang penting saya bisa membayar uang kost-an tersebut alias murah. Berbicara kost-an murah tentu minim fasilitas, kamar 2 X 3 m, kamar mandi diluar, Full AC (angin cepoi-cepoi) plus Hard Bed atau lebih popular dengan sebutan lantai. Beruntung saya bawa tiker jenazah (ya ampun kesannya serem yah, ga akan diulangi deh kata jenazah nya) sehingga “Hard Bed” alias “lantai” dikostan saya permak menjadi “Jokowi Bed” –karena bentuknya yang kotak-kotak mirip baju khas Pa Jokowi, hehe.

Baca Yah Lanjutannya.

Kemarin, waktu ada acara halal bihalal Blogger Subang saya diperkenalkan oleh pa Kaka Suminta (Guru dan Senior saya di Blogger Subang) dengan sebuah istilah yang baru buat saya, Hypnosis. Sebelumnya saya memang sudah pernah mendengar  kata hypnosis, tapi dengan “t”, lebih tepatnya Hypnotis, dan saya mengira kedua istilah itu sama, namun ternyata berbeda, menurut beberapa literatur yang saya baca di Internet, Hypnosis adalah ilmunya, atau kegiatan yang berkenaan dengan sugesti ke alam bawah sadar, sedangkan Hypnotis adalah orangnya atau pelakunya.

Kita lebih banyak ditahukan kata Hypnotis oleh sebuah acara televisi, yang dipandu Uya Kuya atau Romi Rafael, Jenisini hanya sebagai hiburan atau stage hypnosis , atau kita lebih sering mendengar berita kejahatan-kejahatan di televisi yang dilakukan oleh Hypnotis, termasuk salah satu contohnya ada beberapa temen saya yang menjadi korban kejahatan Hypnotis, sepeda motor, hape, kamera digital dan beberapa barang berharga miliknya lenyap digondol si Hypnotis.

Adalagi, salah seorang korban (penyalahgunaan) Hypnosis yang pernah saya wawancarai di tahun 2010an, Korban yang merupakan siswi yang mendapat beasiswa ke Jerman di Kabupaten Subang harus merelakan melepas beasiswanya tersebut dikarenakan diculik dengan cara dihipnosisoleh sebuah kelompok misterius, kelompok tersebut membawanya hingga ke Jawa timur sana, beruntung dalam perjalan si korban tersadar, dan melarikan diri, hingga beberapa hari kemudian, akhirnya korban yang perempuan itu, ditemukan oleh keluarganya di Brebes, Jawa Tengah.

Itulah yang kita sering dengar dari istilah Hypnosis dan Hypnotis, tapi sebenarnya bukan sekedar itu, ada sesuatu yang luar biasa tersembunyi dalam Hypnosis, diantaranya adalah penyembuhan yang dilakukan dengan cara menghipnosis, baik oleh orang lain (hypnotis) atau menghipnosis diri sendiri (self-hypnosis). Cara penyembuhan ini dinamakan Hypno-Teraphy.

Bahkan, sekarang  ada pengembangan dari hypnosis yaitu penyelidikan dan penyidikan sebuah kasus yang dilakukan polisi untuk mengungkap sebuah kasus kejahatan, hal ini dilakukan dengan cara menghipnosis saksi mata, pelaku bahkan korban (yang masih hidup tentunya, he), hipnosis jenis ini dinamakan Hypno-Forensic.

Dalam perkenalan dengan hypnosis itu, pa Kaka Suminta (selanjutnya: Papih) mendemokan hypnosis, ilmu yang sekarang sedang diperdalam olehnya. Kami diminta memejamkan mata dan merilekskan tubuh, dengan kedua tangan diangkat kedepan, tangan kiri menghadap ke atas, tangan kanan sebaliknya, kemudan papih dengan kata-kata ajaibnya memasuki alam bawah sadar kami, dalam pengantar (kata-katanya) papih mengilustrasikan bahwa tangan kiri kami sedang mengangkat beban yang berat, sedangkan tangan kanan sebaliknya, terangkat oleh balon yang banyak dan besar, apa yang terjadi? Ajaib!!, setelah kami membuka mata, posisi tangan kiri kami menurun bahkan rasanya seperti abis mengangkat kiloan beban, sangat berat. Kemudian tangan kanan, sebaliknya, terangkat dan terasa ringan.

Kemudian, demo lainnya, Papih meminta kami memejamkan mata, dan papih membawa kami ke alam bawah sadar, memerintahkan mata kami untuk  terpejam, dan seolah-olah tidak bisa membuka mata, apa yang terjadi, Mata saya benar-benar terpejam erat, tidak bisa terbuka, sayapun buta.

Selanjutnya, papih membawa untuk mengendurkan otot syaraf kami,  dan meminta untuk lebih dalam lagi memejamkan mata, pada akhirnya, kami benar-benar rileks, dan lucunya, ada beberapa temen saya yang kebablasan, tertidur. Jujur, itu adalah pengalaman pertama saya dihipnosis. Hingga mata saya buta untuk sementara.

tau kan saya yang mana? hehe.. pasti yang berambut keren itu, (ke-dua dari kanan)

Subangshop.com merupakan toko on-line yang siap membantu Pengusaha Subang dan sekitarnya juga , seperti dalam bidang agribisnis, sembako, pengusaha kerajinan dan lain-lain terutama usaha kecil dan menengah untuk memasarkan produknya, agar bisa bersaing dengan pasar-pasar modern”

Demikian itulah sedikit pengantar Pak Kiki M Iqbal, salahsatu pendiri Subangshop yang bisa saya kutip ketika launching Subangshop di Kafe Rumah Dilla, (kalau kurang-kurang dikit, saya minta maaf pa).

Sebenarnya bukan Launchingnya yang akan dibahas, tapi buka puasa gratisnya yang menjadi perhatian saya, haha,,, becanda brow, toh kita walaupun ga ada tawaran buka puasa bersama gratis kita tetep hapy dan buka puasa bersama-sama. Yah, yang bikin saya tak habis pikir, selama ini baru ada yang ngajak buka puasa bersama, namun belum ada tawaran sahur bersama, hehe.

Balik lagi ke topik yang akan saya bahas, Subangshop.com sebenernya merupakan metamorfosis (atau apalah namanya) dari blogger subang, toh pada kenyataannya punggawa-punggawanya masih orang-orang blogger subang (blogger subang keren-keren tau, nanti saya ceritain deh kapan-kapan), sepertinya banyak alasan yang mendasari Pa Kiki M Iqbal, Mas Yanu, Mang Annas, Mang Brayn, Om Oki dll mendirikan subangshop, lebih ke ranah sosial, prihatin pada kondisi perekonomian Subang, khususnya pengusaha kecil (seperti, warung toko dan pasar tradisional ) semakin tergerus oleh maraknya pasar modern, subang shop ini andil dalam mempromosikan dan memasarkan produk-produk pengusaha-pengusaha kecil menengah di kota subang dan sekitarnya agar bisa bertahan dan bersaing dengan pasar modern. itu sisi sosialnya, ya  sebenarnya lebih ke sisi profitnya juga sih, hehe. Jadi pengen ikutan gabung di subangshop, siapa tau saya bisa berkontribusi disana, dan jelasnya dapat penghasilan deh. hehe

Jadi gini, saya ceritain mekanisme kerjasama di subangshop. Jika Anda orang Subang dan sekitarnya, sebagai pengusaha (sekala besar atau kecil) mempunyai produk, kemudian ingin produknya lebih dikenal secara luas oleh banyak orang, maka anda dapat mempromosikan produk anda di Subangshop, caranya, hubungi Pak Kiki M Iqbal dengan no kontak 082127140420-087760792282. (hehe,, gampangkan).

Oke, yang jelas subangshop ini adalah toko on-line, dan bisa dilihat di sini.