Kosan saya berada di daerah Sidodadi, tapi bukan perumahan RS nya melainkan di perumahan warga biasa, tepatnya saya lupa, RT ataupun RW nya, namun saya biasa menyebutnya kost-an saya dengan identitas yang paling mudah di kenal orang, yaitu di rumah “Teh Ros”.

Ya, kalau saya di tanya kamu ngekost dmana, saya pasti jawab seperti itu, “di Rumah Teh Ros” entahlah sepertinya orang se Subang tau jika saya menyebutkan rumah Teh Ros, saya tidak tau sejarah detailnya. Dan bukan itu yang akan saya ceritakan, mungkin lain kali jika ada kesempatan. Haha

Namun, ada hal yang sangat menarik, yaitu petualangan kuliner yang menakjubkan,

Berhubung kost-an saya berada di urutan kedua dari depan gang, sehingga saya bersama teman-teman jarang dilewatin oleh pedagang makanan, sehingga mengharuskan saya masak bersama temen-temen, banyak varian menu yang kami buat, dari mulai mie rebus, midog (mie sama endog/telur), mie goreng, mie ayam, dan lagi-lagi mie, haha,,, emang membosankan.

Tapi memang terkadang, Mang Penti (Ahmad Muhibullah) salah seorang temen saya suka membuat kejutan, dan tiba-tiba saja menghidangkan sebuah masakan yang harum dan sedap, yaitu Nasi Goreng, kami menyebutnya Nasi Goreng mang Penti, rasanya sungguh luar biasa, pokoke kerasa banget dilidahnya, ya terutama dikantongnya. Ngirit abis. Haha

Dan saya penasaran, apa sich sebenarnya bumbu rahasia dari Nasgor Mang Penti itu? Sehingga saya coba menanyakan langsung pada Mang Penti, ternyata saya dapat bocoran (Ini Rahasia Lho).

Resep Masakan lezaat tersebut hanya terdiri dari, Nasi secukupnya, Kecap, Telor jika ada, dan Minyak sayur, inget minyak sayur bukan minyak tanah (ingat Minyak Tanah udah mahal banget, haha) salain itu bumbunya adalah garam, petsin, bawang merah, cengek dan bumbu yang paling rahasia yang membuat Nasi Goreng mang Penti itu sangat begitu lezat adalah Bumbu Rasa Laper. hehe. Maaf kalau ga laper jangan coba-coba deh. Oh iya satu lagi, penyajian yang unik juga menambah selera, nasi goreng ini disajikan langsung memakai wajan (katel), dan dimakan tanpa sendok (karena kalau dimakan dengan sendok takutnya ketelak) hehe.

Bagi yang penasaran, silahkan pesan saja ke Mang Penti alamatnya, tanyain saja ke tetangga pembaca, Rumah Teh Ros, pasti yang berdomisili di Subang tahu.. hehe.

(sambil menikmati mie rebus ala kost-an biar tambah nikmat silahkan anda bayangin makan mie seperti ini hehehe)

Anda pernah merasakan hidup di kost-kost-an? Kalau belum silahkan ngekost, pasti anda akan menemukan mie rebus super nikmat dengan balutan rasa lapar dan bokek (garing banget, gak punya duit, punya juga Cuma Rp.2 rebu) menambah kenikmatan mie rebus ala kost-an ini, jika ga laper-laper banget  jangan harap  anda akan menikmatinya, jika punya banyak uang tentu anda tidak akan memilih menu ini hehe.

Sebenarnya ga berbeda dengan mei rebus lainnya,hanya saja yang membedakan adalah kondisinya, kalau mie rebus ala kost-an ini lebih kepada kondisi darurat kantong atau kantong darurat (sama aja deh), yaitu dimana kita udah gak punya uang tetapi perasaan masih ada uang receh nyang nyelip-nyelip di tas atau lemari, atau mungkin dengan cara saya yang punya celengan kura-kura gede yang pada kondisi tertentu akhirnya dibobok juga, pastinya buat ngebelain bikin mie rebus ala kost-an ini. Hehehe.

Nah, jika anda sudah memegang uang receh minimal Rp.1500,- maka segeralah datang ke warung terdekat, kalau udah larut malem cari warung yang buka ampe 24 jam, atau langsung aja ke warung di gang asem sekalian beli rokok murah (bagi yang ngerokok) kalau duitnya kurang yah ga usah ngerokok lagi abis nge-mie (atau cari puting eh puntung rorok-lah).

Ceritanya anda udah dapet nih mie rebus, merek apa aja deh (biasanya sih saya lebih suka sarimi), panasin tuh dispenser, kalau kebetulan ga ada airnya, tinggal masukin aja air kran se gayung kedalam dispenser, kalau gak punya dispenser, wah parah banget luh,… gak usah ngekos dah, balik aja ke rumah, hehehe.

Setelah panas air dalam dispenser, remesin dikit mienya, buka dan keluarin bumbunya, kemudian masukin deh air panasnya, jangan lupa karet buat ngiket kemasan mie, tunggu berapa menit, sambil nunggu buka tuh bumbu dan campurin dalam mangkuk, setelah mie dirasa mateng (kira-kira 3 ampe 5 menit-an lah), tuangin mie rebus dalam mangkok, kalau ada cengek  (bias nyari di tukang gorengan, minta satu atau dua pasti dikasih dah) iris-iris cengek (cabe) nya dan aduk kedalam mie, setelah selesai dan bumbu merata maka mie siap anda nikmatin.

Nah itulah mie rebus ala kost-an, silahkan yang belum mencoba anda tinggal kunjungi aja kost-an terdekat dan pastinya ngekost-dulu,. Huahahaha….

bahan-bahan:

  1. Mie rebus
  2. Air panas dispenser
  3. Cengek (cabe)
  4. Mangkuk
  5. Sendok atau 2 bambu dibentuk sumpit
  6. dispenser
  7. Karet buat ngiket kemasan
  8. kost-an

haha,… diitung-itung mahal juga biaya wat makan mie rebus ala kost-an, harus ngekost dulu lah, punya dispenser lah,. macem-macem lah… hehehe

Sepertinya kata “aku” untuk menamakan diriku sebagai kata tunggal lebih narsiz dan ke kotaan, setelah melakukan kontemplasi yang sangat panjang dan rumit (didramatisir, hehe) aku akan menggantikan kata “aku” diblog ini menjadi saya, jadi aku akan memanggil dan menyebut keakuanku dengan kata saya, jadi kedepannya seperti ini. .  .

Saya, dengan beberapa teman di Komunitas saya akan melakukan diskusi “pergerakan” di Café-ka, sebuah tempat yang bukan hanya sebagai tempat ngopi dan nongkrong akan tetapi lebih dari itu, Café-ka akan menjadi sumber inspirasi, sumber keluarnya ide-ide kritis para aktifis dari kalangan jurnalist, mahasiswa dan sebagian Eksekutif yang masih mempunyai nilai idealisme.

Jadi, jangan berpandangan kalau Café-ka merupakan tempat berkumpulnya para “mesumers”, akan tetapi  Café-ka ini tempat orang-orang yang mempunyai waktu luang untuk memikirkan kemajuan bangsa, ce’ileeee. . . (narsis mania).

Kenapa diberi nama Café-ka? Sebenarnya bukan kewenangan saya untuk menjelaskan penamaan ini, karena pemilik Café-ka adalah Papih (Kaka Suminta), berarti beliaulah yang punya kewenangan untuk menjelaskannya, tetapi kalau boleh saya berteori –lebih tepat mengira-ngira- Café-ka ini merupakan sebuah singkatan yang kepanjangannya Café Kaka Suminta.

Sesampainya ke Café-ka, tepatnya di Ranggawulung, Subang, saya bersama kawan-kawan bukannya melakukan diskusi malah segera melakukan manuver dengan menggelar nasi Timbel, hehehe,

MANUVER. Rumah Tinta segera menggelar Nasi Timbel di Cafe-ka

Dalam prakteknya, kita berdiskusi mengenang Malari (Malapetaka Lima belas Januari) yang terjadi pada tahun 1974  merupakan peristiwa demonstrasi mahasiswa  yang terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Tanaka Kakuei sedang berkunjung ke Jakarta (1417 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Dan selanjutnya, dari diskusi Malari itu kemudian ditarik substansi pergerakan ke wilayah ke daerahan, Subang.

Diskusi tersebut dihadiri oleh tiga elemen aktifis, Mahasiswa, Blogger, dan Jurnalist, sedangkan yang me-wakwak menjadi pengantar dialog adalah mang Anas (dari Blogger), kang Boing (aktifis senior), dan Papih (Ketua KPUD Subang, yang juga aktifis tulen).

Epul Dimana? Kali ini saya menjadi tukang photo

Diskusipun berjalan, . .  (tang…tung…teng…  tang…tung…teng…)

Dan Pada akhirnya, saya dapat mengambil kesimpulan dari pertemuan di Café-ka, perlu adanya revitalisasi ruh pergerakan, sehingga kita bukan saja dapat menyatukan suara pergerakan akan tetapi kita perlu melakukan penetrasi penjelasan pentingnya sebuah pergerakan terhadap mahasiswa untuk membangun sebuah bangsa yang adil, makmur dan sejahtera, tentunya mensejahterakan rakyatnya.

Dan pada kenyataannya, Ruh pergerakan tersebut sudah tergerus oleh hedonisme mahasiswa, mahasiswa lebih mementingkan kepentingan pribadi, kesenangan, hura-hura dan kegiatan yang sedikitpun tidak ada kontribusinya terhadap kemajuan bangsa.

Diskusipun berakhir, kembali dengan rasa penasaran saya dan rasa ingin tau, maka saya bersepakat dengan kawan-kawan yang lain untuk melakukan diskusi lanjutan, dan kembali akhirnya kami pulang dengan banyak PR, diantaranya adalah menyatukan isyu dalam pergerakan bersama mahasiswa lintas organisasi, selain itu, kami juga membawa oleh-oleh agar lebih mendalam mengkaji Pemekaran Subang. (*)