Senandung Hati Zahra

11 April 2011


Muka Zahra memerah setelah mendengar kabar dari Saidah, benarkah Fathur menitipkan salam kepada Saidah? Benarkah apa yang diceritakannya bahwa Fathur mengajak pulang bersama di akhir pekan. Zahra setengah mimpi, ia gelisah, sepertinya tidak ada kursi yang enak untuk diduduki, seakan langkahnya di stir oleh kekuatan gaib, bolak-balik bak setrikaan. Sesekali ia menatap cermin, melihat wajahnya yang putih memerah, kemudian mencubitnya.

“Aku tidak bermimpi, Ya Allah, tapi benarkah yang dikatakan Saidah?” ia bergumam.

Jika ini memang terjadi, aku akan secepatnya menyampaikan kepada Ummi, dialah pemuda yang ingin aku jadikan imam di kehidupanku, Aku akan menceritakan bahwa dialah orang yang selama ini Ummi tanyakan, Ummi harapkan.

“Zahra, kapan kamu mau menikah” itu yang selalu Ummi sampaikan jika aku pulang diakhir pekan.

“iya Ummi, Zahra juga sedang istikhoroh, meminta petunjukNya, bukankah Ummi menginginkan menantu yang Sholeh, yang bias membimbing Zahra” jawabku, tersenyum.

“Selalu saja begitu jawabanmu nduk” Ummi selalu kecewa, sebenarnya aku tidak sedikitpun berkeinginan mengecewakan Ummi, hanya saja, Allah belum memberikan petunjuk, siapakah yang sebenarnya yang aku ingin jadikan pendampingku, Imamku.

Dua Minggu kemarin, Ustad Lutfi yang katanya ingin mengkhitbah (melamar) ku, tapi ternyata Pak Kiyai Idris tak mengizinkan, apalagi katanya Ustad Lutfi itu, walaupun lulusan Al-Azhar dia sudah pernah menikah di Mesir sana, tapi perjalanan keluarganya gagal, dan ia menelantarkan istriya di sana. Tadinya tidak ada yang tau, namun akhirnya, tetap aib itu terdengar juga.

Belum lama ini, sekitar 5 harian yang lalu, aku ditunjukan oleh Pak Kiyai Idris seorang Ustad, ia tidak pernah kuliah di luar negeri, a’lim, hafidz lagi, aku sudah tawakal, jika saja pak Kiyai meminta Ustad tersebut mengkhitbahku, namun, ternyata pemuda yang bernama Zaky ini lebih dulu ditunangkan oleh orang tuanya dengan putri salah seorang Kiyai di kampungnya.

Dan terakhir, Fathur, seorang ustad baru di Pondok pesantren Al-Amin ini, begitu memikat hatiku, dengan kesopanannya, kealimannya, dan kesholehannya.

“Ya Allah, dosakah hambamu jika jatuh cinta?” Zahra melenguh.

“Ya jelas tidak berdosalah, zahra,” sambil tersenyum Saidah melirik kepadaku, di depan cermin.

Benar juga katanya, Cinta itu fitrah, cinta itu ada, semua manusia yang hidup pasti merasakannya, hanya kita harus pandai-pandai memilih dan memilah, agar langkah yang kita jalani diridloi Allah, aku semakin mengerti, aku semakin faham.

Langit Madura malam ini tampak begitu cerah, bintang bertaburan, temaram cahaya rembulan yang seperempat pun ikut menghiasi pemandangan jagat raya, udara malam berhembus, masih hangat, bekas panasnya Madura di siang hari,  para santri masih khusyu dengan ayat-ayat-Nya, beberapa bawalis (jaga malam) mulai berdatangan ke pos-pos yang ditentukan. Aku dengan Saidah duduk-duduk di depan asrama, menghadap ke arah masjid, pemandangan Masjid Jami’e dimalam hari melengkapi keindahan alam. Subhanallah.

“Ukhti (saudara perempuanku) sudah siap untuk dikhitbah,?” Saidah mengawali obrolan, aku setengah kaget dengan pertanyaan yang dilontarkannya, kali ini.

“aku belum tau Saidah,” jawabku ragu.

“nikah,?” tanyanya kembali.

“Lho, kamu ini, di Khitbah aja aku ragu, apalagi untuk nikah,”

“Tapi kan Ukhti sudah cukup dan siap segalanya,”

‘Iya sikh, apalagi Ummi selalu menanyakan hal itu kepadaku, aku jadi bingung Saidah,”

“Aku kira Fathur lelaki baik ukhti,,, walaupun sepertinya lebih muda dari ukhti,”

Zahra tersenyum, malam itu kebimbangannya semakin memudar, apalagi keresahan hatinya tentang Cinta, setiap waktu, ia selalu meyakinkan diri, bahwa suatu saat nanti Fathur melamarnya, dan akan menjadi pendamping hidupnya, itulah Cinta.

“Ustadzah Zahra,,,” panggil salah seorang santriwati, mendekat dengan tergesa

“Ustadzah, dimohon datang ke kediaman Kiyai Imron ba’da Ashar,” katanya setengah berbisik.

“Kiyai Imron?, ada apa yah” Zahra penasaran.

“Ya Syukron,” ungkapnya sambil tersenyum, kemudian santriwati tersebut berlalu.

***

Hati Zahra bergetar ketika dengan tiba-tiba saja Kyiai Imron memerintahkannya untuk pulang ke kampong halamannya, Senyum kegembiraan Kyai Imron pun menghiasi wajahnya  mengiringi pamit Zahra dari kediaman Kiyai Imron, masih terngiang di telinganya kata-kata Kyai yang selama ini mendidiknya.

“Sekarang  anti (; Kamu) pulang, temui keluarga anti, akan ada tamu yang nampaknya harus anti banggakan dan mungkin rindukan” papar salah satu sesepuh Pesantren yang sudah 10 tahun ia diami.

Kata-kata terakhirnya yang terus menjadi tanda tanya besar selama ia melangkahkan kakinya ke asrama putri.  “Siapakah tamu yang harus aku banggakan dan aku rindukan selama ini” gumam Zahra dalam hatinya. Bahkan sepanjang perjalanan menuju kampungnya di Desa Mandala, Sumenep ia masih menekuk keningnya.

Perjalanan menuju Mandala tidak begitu menguras tenaga, hanya dengan naik beberapa mobil umum Zahra sudah bias melihat Desanya yang dirasa tentram dan damai itu dari puncak bukit Astha Tinggi, tak ada seorangpun akan jenuh melihat pemandangan di sepanjang perjalanan menuju desa Mandala, meskipun Zahra, yang merupakan penduduk setempat.

Dari balik kaca angkutan umum Zahra menikmati semuanya, keindahan alam. pemandangan pesawahan, kebun tembakau yang siap dipanen, bukit-bukit dan gemericik aliran air sungai membelah batu-batu besar bias dinikmati dan menenangkan hati yang melihatnya.

Memasuki desanya hatinya semakin bertanya-tanya, terlihat beberapa penduduk desa Mandala yang mengenalnya menyapa Zahra, Zahrapun membalas, dan tersenyum, walaupun fikirannya masih terbelit perkataan Kyai Imron.

Beberapa sedan hitam diparkir di depan rumahnya, memasuki halaman rumahnya semakin yakin bahwa Kyai Imron tidak sedang bercanda padanya, ini memang keyataan, ada tamu dirumahnya.

Annisah,  adik bungsu Zahra berteriak,

“Yayu (pangilan kepada kakak perempuan) datheng” sambil berlari dan mencoba memeluk Zahra, Zahrapun membalasnya dengan haru.

“Gimana kabarmu dek?” Tanya Zahra sambil tersenyum bahagia.

“Sehat Yu”

“Syukurlah, . . mana Ummi sama Abi?” tanyanya sambil menggandeng tangan Annisa dan berjalan memasuki pelataran rumahnya.

“Ada Yu di dalem, mbak yu, . . hehe” tawa annisa terhenti dan membuat Zahra bertanya.

“ada apa ko kamu tertawa seperti itu, eh trus siapa yang bawa mobil ini de?” Tanya Zahra.

“Ya udah Yu liat sendiri deh! Hehe…”

“Ah kamu ini, nakal yah” Zahra tersenyum sambil mencubit pipi Annisa.

“Assalamualaikum” salam Zahra menghentikan pembicaraan yang nampaknya penuh riang dan gembira bahkan dihiasi tawa-tawa.

“Wa’alaikum salam” dijawab dengan serentak dan kompak.

Subhanallah, Kyai Imron, Kyai Ali, Kyai Mahfud, Kyai Mahmud semuanya ada disini, dan itu… Fathur dengan baju batik khas Madura dengan celana hitam memakai kopiah hitam juga hadir disini, ada pa sebenarnya. Hati Zahra semakin bertanya, tidak banyak berdiam diri Zahra kemudian pamit untuk masuk kedalam ruangan tengah, di ruang tengah para ibu-ibu juga semua berkumpul dan ternyata semuanya adalah para nyai, dan seorang perempaun setengah baya yang duduk bersama Ummi, siapakah dia?

Seetelah mengucapkan salam, Zahrapun menyalami mereka dan Umminya, kemudian ia duduk disampng Umminya, dan ia tersenyum penuh tanda tanya.

“Zahra, kamu udah tau nak?” Tanya Ummi.

Zahra terdiam kemudain ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Semua yang hadi memandangi wajah ayunya.

“Kamu di Khitbah oleh Fathur” Suara  Ummi mengagetkan Zahra dan membuatnya tidak percaya.

“Bener Ummi?” Zahra tersenyum.

“Lho, sejak kapan Ummi mu ini berbohong pada kamu nak, apalagi didepan nyai-nyaimu ini”  tegas Ummi.

“Alhamdulillah,” Zahra tersenyum kemudian bersujud syukur, lelaki yang selama ini ia idam kan benar-benar dating dan mengkhitbahnya.

***

Bersambung

Kasih Diantara Dua Titian

17 February 2011

Aku merenung, berada ditengah kebingungan, memilih dua kesempurnaan makhluk-Nya, cinta ini sungguh benar-benar menyiksaku, aku kemudian bersimpuh diantara istikhorohku, antara cintaku yang pertama dengan dirinya yang akhir-akhir ini menemaniku, menjadi tempat keluh kesah, mengerti diamku, memahami gerakku.

Ya Allah, tunjukanlah yang terbaik, tanpa harus ada yang tersakiti, tak bisa aku memilih, engkauhlah sang penunjuk, engkaulah yang maha adil, dan akulah makhluk-Mu yang jauh dengan berbuat adil.

Kegelisahanku berawal dari pertemuan dengan Ririn, gadis periang itu telah merubah semuanya, kehidupannku yang berantakan seakan tertata dengan rapi, aku seakan-akan bangkit dari tidur panjangku, sehingga aku menemukan jatidiriku.

Walaupun sebenarnya aku telah memiliki Dewi, hubungan yang sudah ku jalin selama 4 tahun terakhir ini, Dewi memang memiliki segalanya, cantik, pintar, keturunan orang ningrat dan orang berada, akan tetapi, entahlah perasaanku seakan masih ada yang tak dilengkapi olehnya, sepertinya perhatian, kasih sayang, dan segalanya seakan tidak sempurna, dan kesempuranaan itu aku rasakan ketika aku bersama Ririn.

Ya Allah, sekali lagi aku memohon petunjuk-Mu,…

¤ ¤ ¤

Pagi itu, kabut masih tebal menyelimuti jalan dan pesawahan, suara air gemuruh menerpa batu-batu besar di tengah sungai, aku sengaja mengajak Ririn jalan, menghirup udara segar, sesekali kita lari-lari kecil, bercanda, kadang kejar-kejaran, dan pada kesempatan itu aku juga ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di kegelisahanku, aku tak kuasa, namun semuanya harus ku katakan.

Aku menghentikan langkahku,

“Rin,..” aku terdiam, lama.

“Ada apa Mas?,” Ririn bingung.

“Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu,” kemudian aku mengajaknya duduk dibatu-batu besar dipnggiran jalan.

“apa toh Mas?,” tanyanya.

“Udah berapa lama kita hubungan?,” Ririn terdiam, pertanyaanku seakan membuat lidahnya kelu, membuat raut wajahnya berubah, ia terdiam menunduk.

“Rin, Maafkan aku,.,”

“Tidak mas, mas ga usah minta maaf, aku toh yang sebenarnya bersalah,” Ririn menghentikan kata-kataku.

“Aku yang sudah berani masuk dalam kehidupan Mas Anto sama mbak Dewi, aku yang lancang,” Ku lihat matanya berkaca, namun ia tegar, tak membiarkan air matanya mengalir.

“Tapi, aku juga gak tau harus berbuat apa Rin,” Jelasku.

“Aku sayang kamu, Rin,”

“Iya mas aku juga nyadar, tapi tidak mungkin kita meneruskan semua ini, Aku gak mau nyakitin perasaan mbak Dewi, aku gak bisa mas,”

Sudah 3 bulan aku bersama Ririn, 3 bulan yang lalu aku dengannya melakukan perjanjian, untuk berhubungan hanya dalam waktu 3 bulan, aku mengungkapkan perasaanku kepadanya, aku mencintainya, demikian pula dirinya, kehadiaran Ririn bagiku sangat berarti, dia begitu baik, begitu mengisi kehidupanku, merubah kehidupanku, aku juga mengungkapakan keberadaan Dewi yang selama ini menjadi kekasihku. Ririn menerima semuanya, dia bersedia menjadi kekasih yang kedua, dia dengan sabar menemaniku, walau aku kadang harus menemani Dewi dengan disaksikan olehnya, dia seolah menerima semuanya. Hingga akhirnya, perjanjian aku dengan Ririn harus berakhir, di bulan ini, di hari ulang tahunnya, sungguh kado yang menyakitkan bagi Ririn. Tapi semuanya harus terjadi. Nampak air matanya tak bisa lagi dibendung, mengalir dikedua pipinya, kesedihan menyelimuti pagi ini, menyelimuti hati Ririn.

¤ ¤ ¤

Dewi memakai baju dengan rapi, jilbab berwarna abu-abu menutupi rambutnya, tak seperti biasa, rambut indah lurusnya selalu terurai, aku sudah sering memintanya memakai kerudung, namun tak pernah ia lakukan, tapi malam ini, ia sepertinya memberikan kejutan bagiku, Dewi memang cantik, sekali lagi kesempurnaan sang pencipta tergambar di makhluk-Nya, di kecantikan dan keanggunan Dewi, Subhanallah.

Ia duduk tepat di depanku, di ruang tengah nampak semua keluarganya berkumpul, si mbok membawakan baki berisikan 2 cangkir jus jeruk.

“Silahkan diminum den,”

“Ga usah repot-repot toh mbok,” Si mbok ini selalu ga pernah telat bikinin minuman, tanpa disuruh oleh majikannya.

“Aden ini, yo ngerepotin opo toh, wong cuma air,”

“Ya mbok, makasih yah,” aku tersenyum padanya.

“Monggo den,” ia pamit ke belakang dengan membawa baki, Dewi tersenyum, ia memandangku.

“Kamu itu baik mas,” Selorohnya mengawali pembicaraan.

“Kamu baru tau toh kalau aku baik?,” aku tersenyum.

“Kamu ini bisa aja,” kita berdua tertawa, aku bahagia didekatnya, sudah 2 minggu ini aku ga main kerumahnya, pantas saja, sepertinya ada banyak perubahan pada diri Dewi yang aku rasakan.

“Mas,” Dewi tertunduk, terdiam.

“Apa wi?,” Aku penasaran menunggu kata-kata lanjutan darinya.

“Aku sudah tau semuanya, hubungan Mas dengan Ririn,”

Aku kaget, tak mampu berkata-kata.

“Aku tau Mas ga mungkin melupakannya, Ririn begitu baik, dan benar-benar sudah menjadi bagian hidup Mas Anto”

Aku masih terdiam,

“Mas mencintainya kan?”

Aku makin tertunduk, tak bisa menjawab pertanyaan Dewi.

“Mas, , ,” Dewi menatap diriku yang tertunduk,

“Aku rela kehilangan Mas Anto, aku tau Mas akan bahagia bersamanya,”

Aku mencoba menatapnya, ia nampak tegar, walau terkadang suaranya bergetar.

“Aku mohon jangan sakiti Ririn, Ririn sahabatku yang terbaik, jalanilah kehidupan Mas bersamanya, aku rela Mas,” perkataannya yang terakhir membuat diriku galau, entah perasaanku campur aduk, nyaris tak terdefinisikan, aku merasakan kebingungan yang sangat amat.

Dewi mohon diri, ia terisak dan beranjak meninggalkanku di beranda rumahnya, aku pun pamit ke keluarganya, aku pulang dengan perasaan yang masih kacau. Sesampainya di rumah, aku mencoba menghubungi Dewi, aku masih penasaran dengan segala keputusan Dewi, Aku mencintainya, aku ingin menjalani kehidupan dengannya, namun benar apa kata Dewi, aku juga mencintai Ririn, aku ga bisa hidup tanpa Ririn. Hpnya tidak aktif, ia tidak bisa aku hubungi.

¤ ¤ ¤

Seminggu kemudian, Dewi masih belum bisa ku hubungi, ku coba menghubungi telpon rumahnya, nihil, tidak aktif, aku belum berani datang kerumahnya, dengan taunya hubungan aku dengan Ririn tentunya sangat mengecewakan keluarga Dewi, yang tidak aku mengerti akupun sulit menghubungi Ririn, terakhir ku hubungi dia tengah di Jogjakarta, berkunjung ke Rumah pamannya,

Ya Allah, ada apa sebenarnya ini.

Aku memberanikan diri ke Rumah Dewi, Sepi, nampaknya sudah beberapa hari ini tidak dibersihkan oleh penghuninya, disiang hari lampu depannyapun tampak menyala, aku coba berkeliling, mengitari rumah, ku lihat bi Inas tetangga Dewi sedang duduk-duduk di teras rumahnya.

“Aslamualaikum,” Salamku pada bi Inas,

“Waalaikum salam, eh de Anto, Kemana aja de baru kelihatan, Ko de Anto baru Kesini?,” Tanyanya.

“Lho, emang Dewi kemana bi,?” aku heran dengan pertanyaan bi Inas.

“Lho, De anto ga dikasih tau yah?, De Dewikan udah pindah seminggu yang lalu,” “Pindah??, kemana??,” Aku tambah kaget.

“Iya de, ke Palembang katanya, Masa De anto ga dikasih tau?,”

Aku terdiam, nafasku sesak, aku terduduk lemas.

“Ga, bi, Dewi ga bilang, sampai saat ini saya susah menghubunginya,” jawabku.

“owh, bisanya de Dewi yah?,”

“Iya Bi, ya udah saya pamit dulu bi, udah sore,”

“Lho ga minum dulu toh?,”

“Iya bi, makasih, Assalamualaikum,”

“Waaialikum salam, hati-hati de”

Aku berlalu, meninggalkan bi Inas, masih sempat ku lihat rumah dewi, yang kini sudah sepi, tak berpenghuni.

Sesampainya aku di Rumah, aku mendapatkan sebuah kado, berwarna biru, setelah ku buka, sebuah Album, Ririn, foto-fotonya bersamaku mengingatkan semua kenanganku bersamanya, Ya Allah, dimanakah dia?, aku merindukannya.

Diakhir album ku menemukan sebuah amplop berisikan surat, kemudian kubuka dan mulai membacanya.

Wahai Mas Anto yang baik hatinya,

Ketika dirimu mulai membuka lembaran demi lembaran foto-foto di Album ini, aku yakin ada sekilas senyum dibibirmu, semuanya pasti mengingatkan kebersamaan kita.

Namun, Mas, aku sudah memutuskan semuanya, untuk memohon undur diri dari ruang hatimu, aku telah mengurungkan semua niatku untuk mengarungi bahtera kehidupan denganmu, sungguh engkaulah manusia yang kurasa sempurna menjadi pendampingku, namun aku telah berpasrah pada kehendaknya, istikhorohku berpetunjukan lain, selain memang aku tidak mau mengganggu hubungan Mas dengan Mbak Dewi aku juga sudah ada lelaki pilihan Bapak.

Aku menangis mas, aku menyesal, tetapi aku harus tabah, aku harus kuat memilih jalan yang sedikit ada paksaan dari kedua orangtuaku mas, Pamanku menjodohkanku dengan anak temannya, Bapak sama Ibupun menyetujui, akhir bulan ini aku akan menikah, maafkan aku mas, sekali lagi, maafkan aku.

Orang yang pernah mengisi kehidupanmu Ririn Astrianing Sari

Tak kuasa aku menahan air mata, aku lemah tak berdaya, aku tersungkur, aku bersimpuh. Aku terlarut dalam penyesalan.

Buat sahabat-sahabatku, di Rumah Tinta

Cinta Tak Harus Memiliki

7 February 2011

“Cinta itu gak selalu harus memiliki, Kara,”

“Cinta itu bahagia meliat orang yang kita cintai bahagia,” ujar Mama seraya memberikan pelukan hangatnya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa meneteskan air mata.

Fikiranku menelaah perkataan Mama. Benar juga apa yang Mama katakan. Cinta itu tak selalu harus memiliki, cinta itu bahagia saat melihat orang yang kita cintai juga bahagia. Tapi  apa aku kuat menerima ini? Apa aku sanggup melihat orang yang aku cintai bahagia?

***

Kulihat Hpku yang sedari tadi bergetar, sengaja kumatikan nada deringnya, ada 11 missed call. Kulihat ternyata dari Martina. Dengan malas kulempar kembali Hpku ke tempat tidur. Aku sangat tidak ingin berhubungan dengan Martina. Muak rasanya, jijik.

Tak pernah kuduga. Martina, sahabat karibku sendiri, bahkan sudah aku anggap adik, tega merebut Dira, pujaan hatiku. Yang lebih menyakitkan lagi, Martina sendiri yang selama ini jadi mak comblang antara Aku dan Dira. Sakit rasanya hatiku saat tahu Martina dan Dira telah jadian sebelum Dira ‘nembak’ aku. Batapa sakit rasanya hatiku, di tipu oleh orang yang paling aku sayangi.

***

“Kara, di bawah ada Martina. Katanya mau ketemu kamu,” kata mamah sambil duduk di tepi kasurku.

“Suruh pulang aja, mah! Kara gak mau ketemu dia. Kara benci dia!!,” kataku menahan isak. Kurasakan amarah dalam diriku, tak terasa, pipiku kembali hangat. Mama tak banyak bicara . ia langsung meninggalkan ku. Mungkin saat ini Martina sudah pulang, entahlah. Aku tak peduli. Terlalu sakit hati ini karena tingkah Martina.

Mama kembali masuk ke kamarku, duduk di sampingku sambil sesekali mengusap rambutku.

“Cinta itu gak bisa dipaksa, Kara. Cinta akan memilh jalannya sendiri,”

“Tapi Kara sayang banget sama Dira,” kataku terisak.

“Mama tahu, tapi apa Dira juga merasakan hal yang sama? Kalu kita memaksakan cinta. Rasanya jauh lebih menyiksa, kara. Kamu sepenuh hati mencintai Dira. Tapi yang dipikirkan Dira adalah orang lain. Apa itu yang kamu mau?,”

Aku terdiam. Mamah benar, sejak jadian dengan Dira sikapnya dingin. Seolah-olah yang ada difikirannya adalah orang lain.

“Fikirkan lagi, Kara! Jangan sampai kamu kehilangan orang-orang yang kamu sayangi hanya karena ambisimu, cinta itu akan menemukan jalanya sendiri,”.

***

Hari itu Martina datang kerumahku, Ia langsung masuk  ke kamarku, dan memelukku dengan mata berlinang.

“Maafin aku, mbak. Ade udah salah sama mbak…,” ujarnya terisak. Aku tak bisa apa-apa, apa aku masih tetap bersikeras ingin memiliki Dira? Betapa kejamnya aku jika seperti itu. Aku akan merebut kebahagiaan dua orang yang aku sayangi hanya untuk mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Sungguh tak adil.

“Mbak, aku rela ko putus ama Dira, asal mbak mau maafin aku,” ujarnya lagi.

Ya Tuhan, betapa egoisnya aku, sudah menghalangi kebahagiaan orang-orang yang sayang kepadaku.

“De…, ga perlu. Mbak ga mau jadi orang yang egois. Mbak gak mau merebut kebahagiaan kamu,” kataku

“Tapi mbak cinta banget sama Dira,”

“Dira ga cinta mbak, dia cinta sama kamu” ucapku lugas. Lega rasanya.

Martina makin memerah, ia memelukku lagi kita hanyut dalam tangis.

“Mbak seneng kok. Cinta itu bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia. Dira bahagia deket sama kamu, de!,” ucapku tegar.

“Makasih, Kara!,”

Aku dan Martina terkejut, itu suara Dira. Ia sudah berada di pintu kamarku. Aku menarik Dira hingga ia berdiri disamping Martina.

“Sekarang, kalian bebas pacaran, maaf atas keegoisanku. Sekarang aku sadar cinta itu gak bisa dipaksa…”

Senyum merekah tersimpul di bibir Martina dan Dira, mereka saling berpegang tangan. Awalnya sedikit sesak. Tapi, setelah itu aku justru merasa sangat bahagia.

Tiba-tiba saja Dira memelukku. Tubuhnya terasa hangat, dan pelukannya terasa amat tulus. Jauh berbeda saat kita masih pacaran. Aku tak kuasa menahan airmata,. Dira mengusapnya dan ,engecup keningku.

“Makasih, kara…” ujarnya.

Hmmmhh. . .  Rasanya semua bebanku hilang Melihat Dira dan Martina bahagia, Aku pun merasa hal yang sama. Makasih mama, udah nyadarin Kara kalau cinta itu gak bisa dipaksa, kalau cinta akan menemukan jalannya. Semoga Kara akan menemukan cinta Kara di luar sana. (Nda)