Terasa Tiga Jam Saja

16 July 2014

masjid1

Tak terasa sebentar lagi bulan Ramadhan akan berlalu dan baru ku sadari Ramadhan kali ini bulan Ramadhan dengan perputaran waktu yang paling cepat, kenapa aku mengatakan bulan Ramadhan ini bulan Ramadhan yang paling tercepat karena dalam bulan Ramadhan kali ini aku selalu merasa berpuasa selama tiga jam oleh karena itu aku tidak pernah merasa kerepotan oleh rasa lapar hingga waktu buka puasa tiba. Kalian pasti penasaran kemudian bertanya-tanya dalam hati sendiri, kenapa ko puasanya cuma tiga jam sih…..?

Padahalkan yang kalian tahu bahwa puasa itu biasa dikatakan dari bersuaranya adzan subuh hingga bersuaranya adzan maghrib itu kan waktu yang berjam-jam waktu yang cukup lama untuk menahan rasa lapar, kareana bukan waktu tiga jam, tapi kenapa ko ini puasanya malah dua jam, tentunya kalian juga dalam hati pasti punya prasangka bahwa saya ini gila karena pusanya Cuma tiga jam dan pasti juga kalian beranggapan puasa saya itu tidak pernah tamat dikarnakan puasanya hanya tiga jam, tapi kawan2 harus tenang dulu tidak boleh berprasangka buruk dulu, sebelum mendengarkan ceritanya kalian jagan berprasangka buruk terlebih dulu karena islam tidak menganjurkan untuk suudzon kawan, saya puasa selama dua jam pun insyaalah ga batal ko tenang aja ok.

Dari awal bulan puasa tiba, hari-hari yang ku alami di kontrakan tepat tinggal saya, saya bernama Sopian Aprilyana saya biasa di panggil dengan sebutan komod, saya juga tidak tahu kenapa saya dipanggil dengan sebutan Komod karena panggilan itu sudah tertera sejak kecil dan beberapa teman saya yang bernama, Saepul Bahri berhubung dia yang paling tua umurnya diantara kami jadi dia biasa di panggil dengan sebutan Pak Epul, kemudian Ujang Suryadi biasa disebut dengan panggilan UJ mungkin dia menyandang nama panggilan itu supaya tidak ribet kalo memanggil nama dia soalnya nama panggilanya berasal dari singkatan nama depanya (Ujang di singkat jadi UJ) dan satu lagi teman saya bernama Indri Rahman dengan panggilan Indro nah ini yang saya heran kenapa biasa di panggil Indro aku juga tidak tahu awal mulanya soalnya pas awal pertama kenal sama dia, nama dia sudah di panggil Indro bahkan saya pun sampai kaget pas saya tahu bahwa nama aslinya itu Indri Rahman, tapi disini saya akan menebak-nebak supaya kalian tidak terlalu penasaran dengan awal mula kenapa dia dipanggil dengan sebutan nama indro, menurut saya peribadi muingkin dia di panggil indro supaya lebih kedengaran jantan aja,hehehe soalnyakan nama asli dia nama perempuan mungkin itu dia alasan dia di panggil dengan sebutan Indro. Dan satu lagi Ricki teman seperjuanganku semasa kuliah.

Tiap hari rutinitas yang kami lakukan Cuma itu-itu aja, Paka Epul dengan blognya karena dia seorang bloger jadi kerjaanya tiap hari di depan laptop ngotak ngatik blognya dia juga menyelengara lomba hijab di blognya, lombanya brhadiah, hadiah nya menarik loh, hadiahnya ada uang tunai da nada tropi, melalui barangkali ada yang mau ikutan boleh daftar dan tidak lupa dia juga ahli konsep dan memiliki potensi kreatif yg luar biasa loh, kemudian Ujang Suryadi dia selalu asik dengan filem-filemnya (nonton filem maksudnya) dia juga ahli dalam download subtitle, kemudian photogarfer diajuga pintar berkomunikasi pintar membaca keadaan, terus Indro berhubung dia hobinya main game tiap hari dia diam dikamar di temani gejetnya yang isinya game, kemudian saya sendiri berhubung hobi saya itu tergantung mood saya, saya tidak terpaku pada satu aktifitas, terkadang saya bermain game, terkadang saya menulis terkadang saya membaca, download filem,yang pasti saya belajar dari kebiasaan beberapa teman saya di atas.

Setiap hari disela-sela waktu yang tidak direncanakan kami juga sering berdiskusi, tentang suatu pekerjaan, kami juga selalu online memburu kuota gratis di gedung wismakarya gedung yang berada di tenggah-tengah kota subang tapi rutinitas itu tidak dilakukan di sianghari bolong tapi dilakukan ketika malam hari tiba sesudah solat traweh slesai, kami langsung start kira-kira sekitar pukul 20:30 sampai waktunya sahur tiba yaitu pukul 03:00, karena pada malam harinya waktu kami dihabiskan dengan begadang oleh karaena itu waktu disiang hari kami habiskan dengan tidur sehingga kami tidak merasa lapar oleh keadaan yang sedang puasa sehingga perputaran waktu terasa sangat cepat karena kami semua selalu bangun pada pukul 15:00 setelah bangun kemudian kami selalu beraktivitas sesuai hobi masing-masing sambil menunggu adzan maghrib tiba untuk berbuka puasa dan melaksanakan solat, kami jarang kemana-kemana.

Nah oleh karena inilah saya sebut puasa kami itu hanya tiga jam, karena puasa kami Cuma terasa tiga jam hanya ketika saat kami bangun tidur sampai adzan maghrib tiba, sebagai mana hobi yang sudah dipaparkan diatas dan setelah kami tahu bahwa hobi kami ini merupakan keahlian kami, kami berdiskusi dan membuat rencana supaya keahlian kami biasa dipadukan dan kemudian bisa menjadi pekerjaan yang menghasilkan uang, kemudian terciptalah satu rencana dengan konsep yang luar biasa yaitu kami akan membuat warung online subang dengan berbagai keahlian yang kami semua miliki insyaallah rencana kami ini dapat berjalan dengan mulus dan lancar. Amieenn

Cerpen karya : Sopyan Apriliyana

Berbeda

15 August 2012

Tak seperti angin, aku hanya terdiam, tidak sedikitpun berbisik, tak seperti hujan, aku sendirian tak berteman, tak seperti sungai yang terus mengalir dan mengalir, menyambangi semua yang terlewati, apapun itu, sedangkan aku, kebingungan. Entahlah aku tidak mirip dengan siapapun, tidak ada kesamaan didunia ini yang aku temui dengan wajahku, terlebih ketika aku bercermin, tak ada satupun, bahkan diriku dalam cermin, berbeda.

Kata orang, aku lebih mirip ayahku, dari hidung, kenyataannya tidak demikian, mungkin saja orang itu bercanda, nyatanya setelah aku perhatikan hidung ayahku mancung seperti bule yang sering aku lihat di layar televisi, sedangkan aku, sebaliknya, bahkan seandainya dalam ilmu alam ada istilah lebih dari 360 derajat, perbedaan hidung antara aku dan ayah adalah 500 derajat, ya, pasti orang itu bercanda. Bahkan saking peseknya hidungku, setiap kali kehujanan aku selalu menutupi hidungku, acapkali air hujan itu masuk hidungku, membuat aku flu.

Sekilas aku memperhatikan wajah ibuku, iya, aku menemukannya, mataku, mataku ada pada mata ibu, apalagi ketika ibuku melirik aku, lirikannya hampir, sekali lagi, hampir mirip aku, nah, mungkin ini yang bisa aku banggakan kepada orang-orang, ternyata aku sama seperti mereka, aku manusia, aku makhluk tuhan, aku juga punya hak yang sama seperti mereka. Dicintai dan mencintai, mendapatkan kedamaian. Dan yang paling aku inginkan, tidak ada diskriminasi.

Suatu saat, aku bercanda dengan ibuku, harapan untuk kemiripanku dengannya kembali lenyap, ketika saja aku melihatnya tertawa, matanya sangat berbeda, matanya tetap indah ketika ia tertawa, bening, bulat dan menyejukan, beribu kedamaian datang yang terpancar darinya, sedangkan aku, aku selalu saja merem ketika aku tertawa, mataku hampir menghilang ditelan kedua kelopak mataku. Aku berbeda dengan ibu.

***

“Tut, kamu sebaiknya belajar di luar, bawa buku-buku kamu sekalian!” Perintah Bu Guru kepadaku.

“Baik bu”. Aku bergegas seperti biasa.

“Jangan lupa, meja sama kursimu”. Bu Guru itu mengingatkanku.

Sebenarnya, aku selalu memaksakan diri, agar aku sama dengan teman-temanku, duduk dalam kelas, belajar dengan layak, bertanya sama bu guru, mengacungkan tanganku ketika ada lontaran pertanyaan, dan saling menyontek ketika ulangan akhir semester, nyatanya aku tetap tidak bisa.

Semenjak masuk sekolah, aku didudukan diluar kelas, aku selalu memperhatikan penjelasan dari guru dengan harus terhalang kaca jendela, aku tak pernah ditanya, bahkan aku tidak diberi kesempatan bertanya, menjawab pertanyaan gurupun aku tidak diperkenankan, meskipun aku sebenarnya mengetahui jawabannya, aku bingung, meskipun aku belum pernah menanyakan perihal ini, bu guru sering mengatakannya, alasan aku dibedakan dengan teman yang lainnya sangat sederhana, ya, aku berbeda.

Sampai pada suatu hari, ibu guru menjelaskan tentang Bhineka Tunggal Ika, nah, inilah pelajaran yang paling aku tunggu, karena sebelumnya aku sudah membaca pelajaran ini berkali-kali, dengan berbagai referensi, aku sudah menghafalnya diluar kepala, dan aku sudah diskusikan ini semua dengan para ahli, tentunya para ahli yang berasal dari duniaku, dunia yang berbeda dengan dunia mereka, yang berada dalam kelas. Aku menunggunya, menunggu penjelasan dari bu Guru.

Yang aku ketahui tentang Bhineka Tunggal Ika, adalah semboyan negara Indonesia, yang artinya meskipun kita beragam dalam berbagai hal, seperti suku bangsa, bahasa, budaya, warna kulit, agama dan lain-lain, kita adalah satu kesatuan, kita adalah saudara, kita adalah setanah air, jadi, sangat disayangkan jika sesama saudara kita sebangsa dan setanah air kita saling bertengkar saling mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan sehingga menuai keributan, bahkan hingga terjadi pertumpahan darah.

Kejadian seperti itu banyak sekali aku saksikan, di layar kaca, di koran-koran ataupun di media on-line, saling membunuh antar suku, saling menyerang karena beda agama, saling menyerang antar ras dan golongan, bahkan yang sangat disesali, sekarang ini terjadi keributan dan pertengkaran sesama bangsa indonesia yang ditengarai dengan kedok politik, saling menyerang antar partai politik, menjatuhkan, memfitnah, dan lain sebagainya, mereka kebanyakan hanya mendahulukan  kepentingan golongan mereka, dimana letak kesatuan bangsa kita? dimana letak persatuan bangsa? Meskipun aku dikatakan berbeda, tapi aku menginginkan perbedaan itu menjadi indah, perbedaan itu menjadikan lahirnya keadilan. Perbedaan itu menjadikan kita saling melengkapi satu sama lain, itulah Bhineka Tunggal Ika yang aku pahami. Meskipun berbeda, kita adalah saudara.

***

“Jadi Bhineka Tunggal Ika itu, artinya meskipun kita berbeda-beda suku, berbeda-beda bahasa, berbeda-beda warna kulit, kita tetap satu… ?“

“Juaaa….” teriak semua yang berada dalam kelas, bersamaan.

“Sekarang ada yang mau bertanya?” Kata Bu Guru sambil membenahi buku-bukunya.

Kelas terdiam, beberapa saat, tidak satupun bersuara, hanya lirikan sesama mereka, lirikan saling menyuruh, saling mengandalkan, lirikan kebingungan, lirikan kosong, inilah kesempatanku untuk bertanya, bertanya tentang alasan mereka memperlakukanku secara berbeda. Aku mengetuk-ngetuk jendela, dan mengangkat tanganku, semua yang ada dalam kelas itu melihatku, menunggu pertanyaan yang akan aku lontarkan, namun,

“Ya, sudah jika tidak ada yang bertanya, ibu akhiri pelajaran hari ini” Ucap ibu guru seolah tak melihatku.

“Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku harus bertanya”

Aku, mengetuk jendela lebih keras, lebih keras, dan lebih keras. Tak seorangpun menghiraukan, aku berlari ke arah pintu, dan memaksa masuk.

“Aku mau bertanya” teriak ku di depan mereka, tapi tak ada satupun mendengarku, semuanya merapihkan buku, meluruskan meja, saling bercanda, kemudian bersiap-siap membaca doa.

“Tidak kah kalian dengar,,, aku mau bertanya”

“Aku mau bertanya, aku mau bertanya, aku mau bertanya…!!!” teriak ku memaksa.

“Baiklah, anak-anak ku, ternyata teman kalian ada yang memaksa ingin bertanya, apa kalian bersedia?” Nampaknya aku akan diberi kesempatan, aku tersenyum, dalam hati.

“Tidaaakk” Teman-temanku serempak.

Ya tuhan, setega inikah mereka terhadapku, aku adalah bagian dari mereka, meskipun  absenku urutan terakhir, tapi aku berada disana, meskipun sebenarnya masih ada urutan alphabet setelah namaku seperti, Tatang, Tuti, Udin, Yayuk dan Zuhdi, karena namaku Smelekatut, yang penting aku telah hadir di Sekolah ini, di Kelas ini, aku menginginkan pengakuan mereka tentang keberadaanku.

“Sebentar, , ,” Kataku, semua terdiam.

“Demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, demi Tuhan yang menciptakan kalian dan diriku, demi tuhan yang menciptakan keindahan melalui perbedaan bentuk, demi tuhan yang menciptakan, . . .” aku mulai meneteskan air mata.

“Yang menciptakan aku yang berbeda dengan kalian, aku mohon, berikan alasan yang tepat kenapa kalian memperlakukan diriku berbeda, kenapa aku tidak diizinkan duduk bersama kalian, mendapatkan hak dan kewajiban layaknya murid sekolah ini? Mengapa aku tidak diperkenankan untuk bertanya, ditanya dan menjawab pertanyaan?, sedangkan diriku sama seperti kalian, aku punya telinga, aku punya hidung, aku punya mulut, aku tidak cacat, dan barusan kita sudah mempelajari tentang Bhineka tunggal Ika, tahukah kalian, kita itu satu, kita adalah sesama manusia, sesama makhluk tuhan, dan sesama manusia Indonesia”

Semua terdiam, hening, tak ada sedikitpun gerakan, patung, yah, mereka seakan menjadi patung, terdiam membisu.

“Kenapa…?”

“Kenapa…?”

“Kenapa…?” Teriakku. Semua masih terdiam.

“Baiklah, ibu akan menjawabnya, mungkin jawaban ibu akan sama seperti teman-teman mu Smelekatut”

Kali ini aku terdiam.

“Alasannya sangat sederhana sekali, kamu adalah berbeda, kamu adalah perbedaan”

Bersama Puisi Handphone, Ibu dan Facebook diikutkan Lomba di Penerbit Tigamaha, tapi kurang beruntung. hehe

Setia

14 August 2012

Namaku Rio, nama yang cukup elit bagiku, tapi aku sebenarnya tak menghendaki nama itu, terlalu elit, dan boleh dikata sangat elit dan diembel-embeli banget bagi seorang anak desa sepertiku, kebanyakan orang yang mengenal aku di dunia maya, dengan nama Rio, orang tersebut akan membandingkan aku dengan si Modis Rio Ferdinand sang pemain belakang Club Sepak bola dari Inggris itu, atau se romantis Rio Febrian sang penyanyi, atau seperti temen satu kampusku Rio Anggara, yang menjadi pujaan banyak wanita.

Anehnya, aku dianugrahi nama Rio aja, Rio doang, ataupun Rio tanpa kepanjangan, padahal juga aku selalu ingin nama yang panjang, layaknya beberapa temanku di fesbuk, andisicakepdanbaikhati, atau  reniclaluchayankkamufolefel atau Ryanclaluadadisisimuelaelong, tidak sepertiku, yang hanya berani mencantumkan nama Rio di semua akun jejaring sosial.

Tidak banyak nama sepertiku yang terdiri dari 3 huruf, meskipun ada itu hanya nama panggilan, tidak banyak orang yang aneh sepertiku, walaupun ada, hanya segelintir orang, tidak ada orang yang sebodoh diriku, walaupun ada, itu lebih bodoh dariku beberapa derajat, yang jelas aku adalah orang yang jujur dan setia, itu cukup bagiku.

Setia? Apa maksudku, setia yang ku maksud hanya ada dalam definisiku, definisi privasi. Setia kumaksud itu hanya ada dalam dimensiku, dimensi kebodohan dan keanehanku. Dan tak ada seorangpun yang bisa aku fahamkan makna yang tersembunyi dalam setiaku itu, meski aku jelaskan dengan terminologi sederhana, meski hanya dengan tutur kata sehari-hari tak jua seorangpun faham, jangan-jangan termasuk aku. Pernah suatu kali aku membaca sebuah karya Arswendo Atmowiloto, katanya “Bahwa sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak.”, mungkin definisi ini yang hampir menyamai dengan definisiku, meski pada akhirnya berbeda.

Aku seorang pemuas, aku seorang deliveri handal, aku seorang yang setia pada waktu, aku orang yang setia pada si Moncong, sepeda bututku, tidak lebih, aku hanya seorang mahasiswa yang nyambi jadi loper koran, pemuas khasanah pengetahuan pelanggan-pelangganku hanya dengan mengantarkan koran tiap pagi, tiap hari, mengayuh sepeda, sejauh alamat pelanggan. Ketepatan waktu bagiku adalah setia dalam dimensiku, terserah semua orang, setuju ataupun tidak dengan pendapatku. Yang jelas aku adalah orang yang setia.

Pernah suatu pagi, hujan beserta angin mengerutkan dunia, hujan bulan September memang sering mendapat perhatian banyak orang, kadang disertai badai atau kurang lebih angin topan, terkadang membuat aku parno dan tak berniat mengeluarkan si Moncong, untuk mengantarkan koran. Tapi aku yakin, setiaku tidak memaksa, ia mengalir dalam nadiku, ia menghipnotis gerakku, ia membakar geloraku, untuk kembali memuaskan pelanggan koranku. Ya aku adalah orang yang setia.

Terpaksa jalan kaki, dan meninggalkan si Moncong, inilah momen yang paling aku pertanyakan akan setiaku, sepeda lusuh rapuh satu-satunya yang aku miliki, terkadang memang mengesalkan, keseringan ban bocor tidak pada waktu dan tempatnya, sementara tukang tambal ban jam –jam subuh seperti ini belum ada yang buka, meskipun ada jauh dari kontrakanku, bahkan jauh dari kantor tempatku mengambil koran, dengan bahasa sederhana tanpa mengurangi rasa hormatku pada setiaku, terpaksa aku jalan kaki. Bagiku, Aku masih seorang yang setia.

Pelanggan bagiku adalah lapar bagiku, dimana aku harus mengenyangkan laparku itu dengan makanan, koran yang aku maksud, tentunya dengan setia itu. Suatu kali aku lupa kepada Pak Marto, list pelanggan yang biasa aku bawa, tertinggal, lebih tepatnya terselip, entah dimana, Pak Marto dikategorikan pelanggan baru, menurutku maklum jika aku lupa terhadap dirinya.

Hingga keesokan harinya aku harus menyiapkan kata-kata maaf kepada pak Marto, karena kelupaan mengantarkan koran. Rumah pak Marto adalah rute terakhir dalam peta langganan koran, sesampainya di depan rumah Pak Marto, saya siap dimarahin olehnya, namun apa yang terjadi, ia memaafkanku, dan keesokan harinya, pak Marto kembali menjadi objek setiaku.

Suatu ketika, seperti biasa hujan tengah malam belum pamit pagi ini, anginpun masih setia menghembus keras-keras menyongsong fajar, mirip badai, bahkan beberapa pohon tua tumbang, beberapa papan reklame sudah mulai miring, semua orang panik, meskipun harus terbiasa, diawal musim hujan ini. Beberapa tahun terakhir memang sepertinya hujan adalah bencana. Dan tidak jauh berbeda dengan kemarau, kemarau adalah musibah.

Aku dengan sepedaku, bergerak, menerobos gerombolan hujan, yang terkadang terasa seperti jarum, menghujam, tajam, yang terkadang bagaikan gada, memukul mukul raut muka, aku tak peduli, aku adalah orang yang setia, meski ku antarkan semua koran ini kepada pelangganku, yang juga setia.

Akhirnya, tiba juga aku di depan rumah pak marto, Rute terakhirku, meski hujan ini, badai ini, menghalangiku, aku sampai juga untuk bisa mengantarkan koran pesanannya, Namun, tak kusadari, sebuah sedan Merah melaju kencang dan oleng, tiba-tiba menghantam tubuhku yang masih di atas si Moncong, aku terpental dan …..

Sebuah Pengharapan

29 January 2012

Fira termenung, ketika ia memandang lembayung senja yang menggaris membelah sebagian langit, sore itu begitu cerah, tidak seperti biasanya, kabut hanya menyelimuti tipis kaki bukit Papandayan, sesaat kemudian terlintas bayangan Afandi, kekasih hatinya, tunangannya, air matanya pun tak terbendung, Fira terisak, butir air mata menetes dipipinya yang merah.

“haha, kamu ini ada-ada saja, massa mas mu ini disuruh bawa onta, itu bukan romantis tapi menyiksa” ujar Afandi lewat telepon seluler.

“Abis aku bosen mas, naik sepeda onthel, katanya mau yang romantis sekalian aja pake onta, nah mas yang beli tuh di Mekah” jawab Fira sambil cemberut.

Meskipun jarak mereka berjauhan tapi seakan mereka memahami ekspresi wajah diantara mereka.

“Yo wis, aku mau isti’dzan (mohon izin) pulang ke Ustad Abu bakar di kediamannya di Madinah, setelah itu aku mau berkemas, besok aku sudah berangkat dari Jeddah, kamu istirahat gih, besok kan katanya mau nemenin ummi belanja ke pasar” kata Fandi.

“ya mas mangga (silahkan, sunda)” jawab Fira.

“Assalamualaikum”

“wa’alaikum salam”.

Kata-kata itu seakan masih melekat ditelinga Fira, selalu membayang dibenaknya, canda terakhir lewat telepon sebelum akhirnya pesawat boing 7774R yang ditumpangi Afandi mengalami kerusakan mesin dan gagal mendarat darurat di Kuala Lumpur, terdengar kabar tidak ada korban dalam gagal landing tersebut namun semua penumpang terbengkalai di Malaysia hingga akhirnya Fira menyadari bahwa Afandi tidak ada kabar, handphonenya tidak bisa dihubungi, dan semenjak itu pula Afandi hilang.

Fira masih terbaring di sofa di beranda rumahnya, pandangannya kosong, hatinya masih melayang membayangkan Afandi, senyumnya, candanya, segalanya dan apapun kenangan yang pernah diarungi bersama Afandi kembali terkenang, meskipun sebenarnya lelah, ia tetap terhadap keyakinannya, suatu saat Afandi akan datang, menjawab semua impian yang pernah mereka berdua rajut, tak terasa iapun terlelap, tidur dengan senyuman hampa.

***

“Apa mi??? Kenapa Ummi ga bilang dulu sama aku?” jawab Fira setengah kaget, setelah mendengar kabar dari Umminya bahwa dirinya dilamar oleh Ustadz Arif.

“Lho kan Ummi juga belum menerimanya neng, Ummi dan Abimu belum bisa menentukan jawabannya sebelum kamu sendiri yang menentukan” jelas Ummi.

“Oh, Syukurlah ummi, masalahnya aku kan masih dalam khitbah (lamarannya) nya mas Afandi, aku masih berharap mas Fandi datang” kata Fira.

“Ya ummi juga mengerti neng, tapi hingga sekarang mas Fandi-mu belum ada kabar, bisa saja kan dia. . . .” Ummi nya tidak meneruskan kata-katanya, ketika saja menatap wajah putri semata wayangnya berbinar. Kemudian Ummi memeluk Fira, keduanya larut dalam kesedihan.

“Maafkan Ummi, neng! sudahlah, mungkin ini sudah jalan yang ditentukan Allah” Ibu itu mengelus pundak anak perawannya tersayang.

***

Arif Muhammad, seorang ustadz di desa Cimuncang, tidak ada catatan buruk dalam hidup bermasyarakatnya, baik, alim, sopan, dan hmm, lumayan ganteng, apalagi katanya  banyak para gadis yang suka sama dia, tapi ternyata hati Fira masih belum bisa memaksakan untuk menerima lamaran Ustadz Arif, hingga kini lamarannya masih ditangguhkan, namun ia menyadari, semuanya tidak bisa didiamkan begitu saja, ia harus memilih, menerimanya atau menolak, ia juga menyadari bahwa menunggu adalah hal yang membosankan, dan menjenuhkan, ia sadar betul apa yang dirasakan Ustadz Arif.

“Istikhoroh neng, mungkin itu bisa membantu” Saran Umminya.

“Iya mi, sudah Neng jalanin, belum ada petunjuk mi” terang Fira.

“Ya sabar aja, nanti juga pasti ada petunjuk dari Allah” sambung Umminya.

***

Sebulan berlalu,

“”Ummi,,, Surat undangan yang buat temen-temen Fira disebelah mana?” tanya Fira pada Umminya yang sedang di dapur.

“Mungkin di kamar neng” jawab Ummi,

Firapun bergegas ke kamarnya dan segera merapihkan surat undangan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, pasca penerimaan lamarannya ia bener-bener sibuk mempersiapkan hari pernikahannya.

Ia masih menyimpan Foto Afandi yang dibingkai, diatas meja, ia bergumam.

“Akhirnya, aku memutuskan untuk menerima lamaran Udstaz Arif mas” sambil membayangkan wajah Afandi.

“Maafkan aku mas”  . . .

Hari yang dinantikan pun akan tiba, besok pernikahan Fira Mariana akan segera dilangsungkan, rumah Fira sudah dipenuhi oleh kerabat-kerabat jauhnya, hari ini dia akan sowan ke rumah kakeknya di Bandung, Fira berangkat ditemani Irna, ternyata dalam hatinya masih membayangkan dan mengharapkan Afandi, selama perjalanan ia melamun, hingga pada akhirnya ia tak menyadari mobil yang disetirnya oleng dan,,,,

“Gubrakkk” Fira menyerempet sepeda motor yang berlawanan arah.

“ya Allah, apa yang terjadi” Fira terkejut, wajahnya pucat pasi.

“Fira kamu tidak apa-apa?” tanya Irna pada Fira.

“Tidak Na,, Aku menabrak seseorang, coba kamu lihat keluar, apa dia baik-baik saja?” Pinta Fira. Irna pun keluar untuk memastikan keadaan lelaki itu.

Lelaki yang ditabrak mobil Fira, terpental beberapa langkah, sepertinya orang tersebut tidak mengalami luka yang parah, terlihat orang tersebut bangkit. Dan menatap ke Fira yang masih didalam mobilnya.

Fira pun keluar dari mobilnya,

“mas ga apa-apa?” tanya Fira, tapi sesaat kemudian ia terkejut,,,

“Ya Allah, Mas Afandi???”

Di End. . . .

Lembayung Senja

30 October 2011

Aku masih dengan laptopku, hari sudah senja, kafe Insani yang berada dilingkungan kampus sudah mulai sepi, mungkin beberapa menit lagi adzan maghrib, sebenarnya skripsiku rampung beberapa lembar lagi, tinggal memasukan data, dan semua data sudah ku olah. Aku masih dengan laptopku, dan haripun semakin senja, ah, biarlah, sekalian menunggu adzan maghrib, kebetulan masjid di kampus lagi ramai, anak-anak rohis lagi ngadain acara, mungkin ba’da maghrib aku bisa berdiskusi dengan mereka tentang agama. Sehingga aku memilih tidak pulang ke rumah.

Betul perkiraanku, adzan maghrib berkumandang, aku segera berkemas, membayar bon di kasir, dan bergegas ke tempat wudhu, sesaat kemudian aku bersama jamaah yang lain terlarut dalam kekhusyuan shalat maghrib.

“Menikah itu, sunnah, dan bahkan bisa menjadi hal yang wajib,” Jelas ustadz Irfan, beliau merupakan pembimbing anak-anak rohis sekaligus dosen agama, kami sering bertukar fikiran tentang agama, dan entah dimulai dari mana beliau tiba-tiba membahas pernikahan.

Katanya, mungkin saja nikah itu menjadi wajib hukumnya bagiku, usiaku sudah menginjak 30 tahun, dari segi materi insya allah cukup mapan, orangtua di kampung sudah udzur dan menuntut aku segera menikah, ditambah dengan pekerjaanku yang baru sebagai aktifis keluarga berencana.

“Bagaimana kamu bisa menerangkan tentang berhubungan suami istri yang baik secara islam kepada klien, sedangkan kamu sendiri belum menikah?,” ungkapnya sambil tersenyum.

Benar juga kata-katanya, mungkin salah satu alasan yang membuat aku belum menikah adalah wisuda, aku berencana akan menikah setelah usai S1, maklumlah, saking sibuknya diluaran kampus, nyambi bisnis kecil-kecilan dan menjadi aktifis diberbagai kegiatan sosial hampir menjadikan aku mahasiswa abadi, dan di tahun ke-8 ini aku sudah memutuskan untuk menyelesaikannya.

Antara menikah dan melanjutkan studi sebenarnya tidaklah menjadi masalah, keduanya akan aku tempuh, selepas S1, beasiswa S2 diberbagai perguruan tinggi sudah didepan mata, tinggal memilih diluar atau di dalam negeri, sedangkan menikah, aku tersenyum, ternyata aku belum menemukan calon istri yang tepat, entahlah, dan tak terbayangkan sebelumnya, namun aku yakin, aku sudah mampu, dan mungkin benar apa yang dikatakan sang ustad, aku wajib menikah.

Sebenarnya ada beberapa wanita yang sedang dekat denganku, dan bisa saja sewaktu-waktu aku meminta salah seorang dari mereka untuk menikah denganku, aku yakin yang aku pilih tak akan menolak. misalkan saja Nisa, dari pertamakali kuliah aku dekat dengan dia, sahabatku yang satu ini memang manis, cantik, namun sayang sekali ia tak berjilbab, sedangkan aku menginginkan wanita yang berjilbab. Satu saat nanti jika memang dia pilihanku yang pertamakali aku lakukan adalah memintanya untuk memakai jilbab.

Iis, masih sepupuku, ia seorang bidan, meski mungil tapi dia cantik, mungkin kalau aku boleh membandingkan dengan artis masa kini Iis mirip Ayu ting-ting, haha. Namun yang aku kagumi darinya selain pintar dia tak pernah melepaskan jilbabnya, dan satu hal lagi, ayahnya orang tajir, dan mungkin itu satu-satunya alasan aku minder sama dia, tapi aku yakin dia pasti menerimaku jika aku meminangnya.

Mbak Ria, semenjak aku punya rumah di kota, aku punya tetangga baru, kebetulan dia sendiri, wajahnya keibuan, usianya mungkin 1 tahun lebih tua dariku, namun sungguh demikan sepertinya aku suka sama dia, haha. Sedikit aneh memang seleraku, kami mulai akrab karena aku sering minta diajarin masak olehnya, dan masakannya itu juga yang membuat aku tertarik.Tapi pada dasarnya siapapun jodohku kelak, aku berharap adalah istri yang sholehah, seperti yang disarankan ustad Irfan.

###

Di Beranda rumah, lampu taman mulai temaram, gemericik air kolam hias terdengar sayup, sang bulanpun redup, secangkir kopi hitam dan rokok yang terselip dijari masih setia menemani malamku, jam menunjukkan arah 12 lebih, selepas shalat isya aku memilih untuk tidak ke kota, Distro dan Toko kelontong udah aku titipkan ke Yudi, tadinya aku mau nyempatin waktu buat ke rumah Ustad Irfan, mungkin beliau mempunyai saran atau rujukan soal calon istri, atau bisa saja aku dijodohin dengan mahasiswi dikalangan rohis, mereka biasa menyebutnya akhwat. Namun aku fikir aku harus berusaha terlebih dahulu, dan aku yakin aku bisa. Malam semakin larut, hening, angin malampun mulai menusuk-nusuk, dingin, aku beranjak, besok aku harus menemui klien, sebaiknya aku istirahat.

Ba’da shubuh, aku mempersiapkan beberapa materi presentasi, kali ini ada klien yang memintaku menjelaskan pacaran dalam islam, dari biodata yang tertera di inbox e-mailku, namanya Windiawati, 22 tahun, asal Bandung, namun dari riwayat singkatnya, ia sudah 3 tahun tinggal di Subang, ia menginginkan penjelasan dari Organisasi yang aku geluti saat ini, Konsultan Keluarga Berencana, lebih tepatnya ia ingin mengetahui hukum pacaran dalam islam, khitbah, hingga pernikahan, dan terakhir yang membuat aku ragu, hubungan seksual dalam islam, aku tersenyum.

Tepat pukul 8 aku berada dikantor, ada pesan di hapeku, sepertinya Windi sudah menunggu di ruanganku, biasanya Desi, sekretarisku sudah menemani klien yang datang sebelum aku datang, Mang Ujangpun sudah menyiapkan ruangan konsultasi, aku memasuki ruangan, nampak Desi dan Wanita muda berjilbab di meja tamu, mungkin itu Windi.

“Assalamualaikum,” aku tersenyum kepada mereka berdua

“Wa alaikum salam”

Akupun memperkenalkan diri, setelah beberapa menit berbincang, kitapun mulai dengan diskusi tentang, konsep keluarga berencana, Windi sangat mengagumkan, selain wajahnya cantik, dia juga smart, tak pelak diskusi kita jadi panjang, hingga menjelang shalat dhuhur, diselang dengan sholat dan istirahat, aku mengajak Windi makan siang di Nasi timbel Ciheuleut, langgananku.

“Mas, sudah menikah?,” Tanya Windi disela-sela makan, mengagetlkanku.

“Belum,” Jawabku singkat, separuh makanan masih didalam mulutku.

Windi tersenyum, kemudain tertawa, sepertinya jawaban itu lucu baginya.

“Aneh Mas ini, aku kira mas udah menikah, sebegitu fahamnya ngejelasin masalah pernikahan, sampai detail hingga masalah kewanitaan,” katanya.

“Haha,,” aku tertawa.

“untuk faham hal tersebut apakah aku harus nikah dulu de Windi?'” Tanyaku padanya.

“hmmh, ya seharusnya begitu, selain untuk lebih memahami juga agar bisa meyakinkan klien,” jelasnya.

“Meyakinkan? Apakah Mas kurang meyakinkan?” tanyaku.

“setidaknya orang akan lebih percaya jika apa yang dikatakan mas sudah dialami oleh mas sendiri” Windi memandangku.

“Rasulullahpun mencontohkannya” tambahnya.

Kembali aku tertegun sejenak kemudian aku memandangnya, mata kita beradu, Windi, cantik ayu, dan mengagumkan, astaghfirullah, aku langsung menundukan pandanganku, aku yakin Windi menangkap hal yang berbeda dari pandanganku barusan.

Sehabis makan siang Windi pamitan, aku mengantarnya ke Wisma, ia akan dijemput adeknya dari Bandung, akupun kembali ke kantor dengan perasaan aneh, ya sangat aneh terhadap Windi, apakah ini cinta. Entahlah.

Perasaan itu, semakin menjadi, malamku aneh, diamku aneh, gerakku aneh, bayangan wajah Windi terus mengikutiku, di langit-langit kamar, di teras rumah, di ruang tamu, di buku yang kubaca, Windi, dimana-mana ada wajahnya. Astaghfirulloh, dalam sujudkupun kenapa Wajahnya tepat berada di sajadah ku. Sunggguh malam yang membosankan, aku tak bisa memejamkan mata, hingga ba’da shubuh, hanya lelah yang bisa membuat aku tersungkur, di sini, di sofa beranda rumahku, tentunya dengan bayangan Windi di sampingku.

“Mas, mas pul, mas bangun”

Suara itu, aku mengenalnya, ya itu suara windi, aku terjaga, Windi??, kenapa dia benar-benar di sampingku, aku melihat jam tanganku, 10.20, ya ampun sudah siang, oh, syukurnya sekarang hari minggu.

“De’ Windi? silahkan duduk de’,” aku mempersilahkannya duduk

“Mas kebelakang dulu, mau minum apa?,”

“Air putih aja mas” jawabnya.

Aku berlalu, ke kamar mandi membasuh wajuhku yang masih kusut, kemudian ke dapur dan kembali dengan segelas air putih.

“Ko bisa nyampe sini?,” tanyaku.

“Aku tanya Desi Mas,” jawabnya.

“Mas, ada acara hari ini?, aku mau minta bantun Mas,”

“Hmmh, sepertinya ga ada, kenapa?,”

“Hehe, aku takut mas keberatan,”

“Insya allah, selama itu bisa mas lakukan,”Jawabku, sambil berharap semoga ini merupakan jalan untuk mengenalnya lebih dekat.

###

Sebulan berlalu, akupun sudah mempersiapkan resepsi pernikahanku dengan windi, memang begitu cepat tapi sepertinya itulah yang digariskanNya, setelah mengenalnya lebih dekat akupun langsung mengenalkannya dengan abi dan ummi di kampung, mereka pun cocok demikian pula keluarga windi, mereka tampak bahagia anak gadisnya dipinang olehku.

Hari ini, hari bahagia bagiku, beberapa kerabat dan saudaraku sudah siap untuk mengantarku ke masjid agung subang, tak menunggu waktu lama aku dengan rombongan segera menuju ke Masjid untuk akad nikah, sesampainya di Masjid keluarga Windi belum nampak hadir, sepertinya masih dijalan.

Beberapa menit kemudian iringan pengantin perempuan datang, nampaknya Windi menaiki Toyota Yaris warna merah melaju paling depan, hatiku berdegup kencang, namun dari arah berlawanan sebuah bis melaju kencang.

“Bruakkkk!??!!”

“Astaghfirullah, bis itu menabrak mobil paling depan, yang hendak masuk halaman masjid, semua orang panik dan berteriak, aku berlari kearah mobil windi,

“Windi? Apa  yang terjadi, ya allah”

beberapa orang segera mengeluarkan korban, aku berharap tak terjadi apa-apa dengan windi, Windi berhasil dikeluarkan, darah mengucur diwajahnya aku memaksa masuk kerumunan orang aku meraih Windi.

“Win, windi,” tak bergeming, denyut nadinya terhenti, tak ada degup jantung.

“Windiiiii” aku berteriak, suaraku tersekat.

“Mas pul, mas, bangun mas pul” Suara  Yudi mengagetkanku, astaghfirullah, aku bermimpi buruk, tapi syukurlah ini hanya mimpi.

“Kenapa? mimpi buruk yah” tanyanya.

“Iya yud, aku bersyukur ini hanya mimpi,” jawabku.

“Tadi ada cewe yang nganterin undangan ke Distro Mas, katanya maaf ga bisa ke rumah,” Yudi memberikan undangan pernikahan.

Menikah Windiawati dengan Andi Prasetya, Subhanallah, akupun tersenyum.