Terasa Tiga Jam Saja

16 July 2014

masjid1

Tak terasa sebentar lagi bulan Ramadhan akan berlalu dan baru ku sadari Ramadhan kali ini bulan Ramadhan dengan perputaran waktu yang paling cepat, kenapa aku mengatakan bulan Ramadhan ini bulan Ramadhan yang paling tercepat karena dalam bulan Ramadhan kali ini aku selalu merasa berpuasa selama tiga jam oleh karena itu aku tidak pernah merasa kerepotan oleh rasa lapar hingga waktu buka puasa tiba. Kalian pasti penasaran kemudian bertanya-tanya dalam hati sendiri, kenapa ko puasanya cuma tiga jam sih…..?

Padahalkan yang kalian tahu bahwa puasa itu biasa dikatakan dari bersuaranya adzan subuh hingga bersuaranya adzan maghrib itu kan waktu yang berjam-jam waktu yang cukup lama untuk menahan rasa lapar, kareana bukan waktu tiga jam, tapi kenapa ko ini puasanya malah dua jam, tentunya kalian juga dalam hati pasti punya prasangka bahwa saya ini gila karena pusanya Cuma tiga jam dan pasti juga kalian beranggapan puasa saya itu tidak pernah tamat dikarnakan puasanya hanya tiga jam, tapi kawan2 harus tenang dulu tidak boleh berprasangka buruk dulu, sebelum mendengarkan ceritanya kalian jagan berprasangka buruk terlebih dulu karena islam tidak menganjurkan untuk suudzon kawan, saya puasa selama dua jam pun insyaalah ga batal ko tenang aja ok.

Dari awal bulan puasa tiba, hari-hari yang ku alami di kontrakan tepat tinggal saya, saya bernama Sopian Aprilyana saya biasa di panggil dengan sebutan komod, saya juga tidak tahu kenapa saya dipanggil dengan sebutan Komod karena panggilan itu sudah tertera sejak kecil dan beberapa teman saya yang bernama, Saepul Bahri berhubung dia yang paling tua umurnya diantara kami jadi dia biasa di panggil dengan sebutan Pak Epul, kemudian Ujang Suryadi biasa disebut dengan panggilan UJ mungkin dia menyandang nama panggilan itu supaya tidak ribet kalo memanggil nama dia soalnya nama panggilanya berasal dari singkatan nama depanya (Ujang di singkat jadi UJ) dan satu lagi teman saya bernama Indri Rahman dengan panggilan Indro nah ini yang saya heran kenapa biasa di panggil Indro aku juga tidak tahu awal mulanya soalnya pas awal pertama kenal sama dia, nama dia sudah di panggil Indro bahkan saya pun sampai kaget pas saya tahu bahwa nama aslinya itu Indri Rahman, tapi disini saya akan menebak-nebak supaya kalian tidak terlalu penasaran dengan awal mula kenapa dia dipanggil dengan sebutan nama indro, menurut saya peribadi muingkin dia di panggil indro supaya lebih kedengaran jantan aja,hehehe soalnyakan nama asli dia nama perempuan mungkin itu dia alasan dia di panggil dengan sebutan Indro. Dan satu lagi Ricki teman seperjuanganku semasa kuliah.

Tiap hari rutinitas yang kami lakukan Cuma itu-itu aja, Paka Epul dengan blognya karena dia seorang bloger jadi kerjaanya tiap hari di depan laptop ngotak ngatik blognya dia juga menyelengara lomba hijab di blognya, lombanya brhadiah, hadiah nya menarik loh, hadiahnya ada uang tunai da nada tropi, melalui barangkali ada yang mau ikutan boleh daftar dan tidak lupa dia juga ahli konsep dan memiliki potensi kreatif yg luar biasa loh, kemudian Ujang Suryadi dia selalu asik dengan filem-filemnya (nonton filem maksudnya) dia juga ahli dalam download subtitle, kemudian photogarfer diajuga pintar berkomunikasi pintar membaca keadaan, terus Indro berhubung dia hobinya main game tiap hari dia diam dikamar di temani gejetnya yang isinya game, kemudian saya sendiri berhubung hobi saya itu tergantung mood saya, saya tidak terpaku pada satu aktifitas, terkadang saya bermain game, terkadang saya menulis terkadang saya membaca, download filem,yang pasti saya belajar dari kebiasaan beberapa teman saya di atas.

Setiap hari disela-sela waktu yang tidak direncanakan kami juga sering berdiskusi, tentang suatu pekerjaan, kami juga selalu online memburu kuota gratis di gedung wismakarya gedung yang berada di tenggah-tengah kota subang tapi rutinitas itu tidak dilakukan di sianghari bolong tapi dilakukan ketika malam hari tiba sesudah solat traweh slesai, kami langsung start kira-kira sekitar pukul 20:30 sampai waktunya sahur tiba yaitu pukul 03:00, karena pada malam harinya waktu kami dihabiskan dengan begadang oleh karaena itu waktu disiang hari kami habiskan dengan tidur sehingga kami tidak merasa lapar oleh keadaan yang sedang puasa sehingga perputaran waktu terasa sangat cepat karena kami semua selalu bangun pada pukul 15:00 setelah bangun kemudian kami selalu beraktivitas sesuai hobi masing-masing sambil menunggu adzan maghrib tiba untuk berbuka puasa dan melaksanakan solat, kami jarang kemana-kemana.

Nah oleh karena inilah saya sebut puasa kami itu hanya tiga jam, karena puasa kami Cuma terasa tiga jam hanya ketika saat kami bangun tidur sampai adzan maghrib tiba, sebagai mana hobi yang sudah dipaparkan diatas dan setelah kami tahu bahwa hobi kami ini merupakan keahlian kami, kami berdiskusi dan membuat rencana supaya keahlian kami biasa dipadukan dan kemudian bisa menjadi pekerjaan yang menghasilkan uang, kemudian terciptalah satu rencana dengan konsep yang luar biasa yaitu kami akan membuat warung online subang dengan berbagai keahlian yang kami semua miliki insyaallah rencana kami ini dapat berjalan dengan mulus dan lancar. Amieenn

Cerpen karya : Sopyan Apriliyana

Rindu Mawar

29 May 2014

Aku rindu kamu,
Kemarin, saat ini dan selamanya,
Tak mesti bertemu, tak harus sama,
Tak harus ada padamu, tak harus kau sadari.
Biar aku simpan baik-baik.

Meskipun hanya akan menjadi doa-doa, cerita-cerita, sajak-sajak pendek.
Rinduku adalah genangan rahmah,
Adalah kepingan Al-fatihah,
Adalah butiran tasbih,
Adalah sebaris tahmid,
Dan seikat amin

Aku rindu kamu,
Mawar…

Hujan Bulan Januari

15 January 2013

Rintiknya menindih detik waktu,
Tak ada jeda tersisakan.
Meskipun laun.
Meragukan langkah para penyamun,
Menyayat hati  saudagar tua di kota mati.
 
Hujan bulan januari
Terangkai dalam sajak-sajak yang mendesah
Terlukis dalam kanvas-kanvas basah
 
Hujan bulan Januari
Dentingan rindu kemarau lalu.
Rupanya kini mengharap mentari.

Hujan

31 December 2012

Sebenarnya enggan  bermesraan dengan hujan,
Dekapannya terlalu dingin untuk kunikmati
Meski memaksa, mengajak angin merayu, meronta atap bilik imanku
Berkolaborasi dengan tarian petir nan erotis
aku tak bergeming
 
hanya malam tadi dunia mengakui,
hujan ini begitu deras, menggoda
tak sengaja senggama itu aku lewati
kulihat sisa-sisanya menggenang
di jalanan, pagi ini.

Berbeda

15 August 2012

Tak seperti angin, aku hanya terdiam, tidak sedikitpun berbisik, tak seperti hujan, aku sendirian tak berteman, tak seperti sungai yang terus mengalir dan mengalir, menyambangi semua yang terlewati, apapun itu, sedangkan aku, kebingungan. Entahlah aku tidak mirip dengan siapapun, tidak ada kesamaan didunia ini yang aku temui dengan wajahku, terlebih ketika aku bercermin, tak ada satupun, bahkan diriku dalam cermin, berbeda.

Kata orang, aku lebih mirip ayahku, dari hidung, kenyataannya tidak demikian, mungkin saja orang itu bercanda, nyatanya setelah aku perhatikan hidung ayahku mancung seperti bule yang sering aku lihat di layar televisi, sedangkan aku, sebaliknya, bahkan seandainya dalam ilmu alam ada istilah lebih dari 360 derajat, perbedaan hidung antara aku dan ayah adalah 500 derajat, ya, pasti orang itu bercanda. Bahkan saking peseknya hidungku, setiap kali kehujanan aku selalu menutupi hidungku, acapkali air hujan itu masuk hidungku, membuat aku flu.

Sekilas aku memperhatikan wajah ibuku, iya, aku menemukannya, mataku, mataku ada pada mata ibu, apalagi ketika ibuku melirik aku, lirikannya hampir, sekali lagi, hampir mirip aku, nah, mungkin ini yang bisa aku banggakan kepada orang-orang, ternyata aku sama seperti mereka, aku manusia, aku makhluk tuhan, aku juga punya hak yang sama seperti mereka. Dicintai dan mencintai, mendapatkan kedamaian. Dan yang paling aku inginkan, tidak ada diskriminasi.

Suatu saat, aku bercanda dengan ibuku, harapan untuk kemiripanku dengannya kembali lenyap, ketika saja aku melihatnya tertawa, matanya sangat berbeda, matanya tetap indah ketika ia tertawa, bening, bulat dan menyejukan, beribu kedamaian datang yang terpancar darinya, sedangkan aku, aku selalu saja merem ketika aku tertawa, mataku hampir menghilang ditelan kedua kelopak mataku. Aku berbeda dengan ibu.

***

“Tut, kamu sebaiknya belajar di luar, bawa buku-buku kamu sekalian!” Perintah Bu Guru kepadaku.

“Baik bu”. Aku bergegas seperti biasa.

“Jangan lupa, meja sama kursimu”. Bu Guru itu mengingatkanku.

Sebenarnya, aku selalu memaksakan diri, agar aku sama dengan teman-temanku, duduk dalam kelas, belajar dengan layak, bertanya sama bu guru, mengacungkan tanganku ketika ada lontaran pertanyaan, dan saling menyontek ketika ulangan akhir semester, nyatanya aku tetap tidak bisa.

Semenjak masuk sekolah, aku didudukan diluar kelas, aku selalu memperhatikan penjelasan dari guru dengan harus terhalang kaca jendela, aku tak pernah ditanya, bahkan aku tidak diberi kesempatan bertanya, menjawab pertanyaan gurupun aku tidak diperkenankan, meskipun aku sebenarnya mengetahui jawabannya, aku bingung, meskipun aku belum pernah menanyakan perihal ini, bu guru sering mengatakannya, alasan aku dibedakan dengan teman yang lainnya sangat sederhana, ya, aku berbeda.

Sampai pada suatu hari, ibu guru menjelaskan tentang Bhineka Tunggal Ika, nah, inilah pelajaran yang paling aku tunggu, karena sebelumnya aku sudah membaca pelajaran ini berkali-kali, dengan berbagai referensi, aku sudah menghafalnya diluar kepala, dan aku sudah diskusikan ini semua dengan para ahli, tentunya para ahli yang berasal dari duniaku, dunia yang berbeda dengan dunia mereka, yang berada dalam kelas. Aku menunggunya, menunggu penjelasan dari bu Guru.

Yang aku ketahui tentang Bhineka Tunggal Ika, adalah semboyan negara Indonesia, yang artinya meskipun kita beragam dalam berbagai hal, seperti suku bangsa, bahasa, budaya, warna kulit, agama dan lain-lain, kita adalah satu kesatuan, kita adalah saudara, kita adalah setanah air, jadi, sangat disayangkan jika sesama saudara kita sebangsa dan setanah air kita saling bertengkar saling mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan sehingga menuai keributan, bahkan hingga terjadi pertumpahan darah.

Kejadian seperti itu banyak sekali aku saksikan, di layar kaca, di koran-koran ataupun di media on-line, saling membunuh antar suku, saling menyerang karena beda agama, saling menyerang antar ras dan golongan, bahkan yang sangat disesali, sekarang ini terjadi keributan dan pertengkaran sesama bangsa indonesia yang ditengarai dengan kedok politik, saling menyerang antar partai politik, menjatuhkan, memfitnah, dan lain sebagainya, mereka kebanyakan hanya mendahulukan  kepentingan golongan mereka, dimana letak kesatuan bangsa kita? dimana letak persatuan bangsa? Meskipun aku dikatakan berbeda, tapi aku menginginkan perbedaan itu menjadi indah, perbedaan itu menjadikan lahirnya keadilan. Perbedaan itu menjadikan kita saling melengkapi satu sama lain, itulah Bhineka Tunggal Ika yang aku pahami. Meskipun berbeda, kita adalah saudara.

***

“Jadi Bhineka Tunggal Ika itu, artinya meskipun kita berbeda-beda suku, berbeda-beda bahasa, berbeda-beda warna kulit, kita tetap satu… ?“

“Juaaa….” teriak semua yang berada dalam kelas, bersamaan.

“Sekarang ada yang mau bertanya?” Kata Bu Guru sambil membenahi buku-bukunya.

Kelas terdiam, beberapa saat, tidak satupun bersuara, hanya lirikan sesama mereka, lirikan saling menyuruh, saling mengandalkan, lirikan kebingungan, lirikan kosong, inilah kesempatanku untuk bertanya, bertanya tentang alasan mereka memperlakukanku secara berbeda. Aku mengetuk-ngetuk jendela, dan mengangkat tanganku, semua yang ada dalam kelas itu melihatku, menunggu pertanyaan yang akan aku lontarkan, namun,

“Ya, sudah jika tidak ada yang bertanya, ibu akhiri pelajaran hari ini” Ucap ibu guru seolah tak melihatku.

“Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku harus bertanya”

Aku, mengetuk jendela lebih keras, lebih keras, dan lebih keras. Tak seorangpun menghiraukan, aku berlari ke arah pintu, dan memaksa masuk.

“Aku mau bertanya” teriak ku di depan mereka, tapi tak ada satupun mendengarku, semuanya merapihkan buku, meluruskan meja, saling bercanda, kemudian bersiap-siap membaca doa.

“Tidak kah kalian dengar,,, aku mau bertanya”

“Aku mau bertanya, aku mau bertanya, aku mau bertanya…!!!” teriak ku memaksa.

“Baiklah, anak-anak ku, ternyata teman kalian ada yang memaksa ingin bertanya, apa kalian bersedia?” Nampaknya aku akan diberi kesempatan, aku tersenyum, dalam hati.

“Tidaaakk” Teman-temanku serempak.

Ya tuhan, setega inikah mereka terhadapku, aku adalah bagian dari mereka, meskipun  absenku urutan terakhir, tapi aku berada disana, meskipun sebenarnya masih ada urutan alphabet setelah namaku seperti, Tatang, Tuti, Udin, Yayuk dan Zuhdi, karena namaku Smelekatut, yang penting aku telah hadir di Sekolah ini, di Kelas ini, aku menginginkan pengakuan mereka tentang keberadaanku.

“Sebentar, , ,” Kataku, semua terdiam.

“Demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, demi Tuhan yang menciptakan kalian dan diriku, demi tuhan yang menciptakan keindahan melalui perbedaan bentuk, demi tuhan yang menciptakan, . . .” aku mulai meneteskan air mata.

“Yang menciptakan aku yang berbeda dengan kalian, aku mohon, berikan alasan yang tepat kenapa kalian memperlakukan diriku berbeda, kenapa aku tidak diizinkan duduk bersama kalian, mendapatkan hak dan kewajiban layaknya murid sekolah ini? Mengapa aku tidak diperkenankan untuk bertanya, ditanya dan menjawab pertanyaan?, sedangkan diriku sama seperti kalian, aku punya telinga, aku punya hidung, aku punya mulut, aku tidak cacat, dan barusan kita sudah mempelajari tentang Bhineka tunggal Ika, tahukah kalian, kita itu satu, kita adalah sesama manusia, sesama makhluk tuhan, dan sesama manusia Indonesia”

Semua terdiam, hening, tak ada sedikitpun gerakan, patung, yah, mereka seakan menjadi patung, terdiam membisu.

“Kenapa…?”

“Kenapa…?”

“Kenapa…?” Teriakku. Semua masih terdiam.

“Baiklah, ibu akan menjawabnya, mungkin jawaban ibu akan sama seperti teman-teman mu Smelekatut”

Kali ini aku terdiam.

“Alasannya sangat sederhana sekali, kamu adalah berbeda, kamu adalah perbedaan”

Bersama Puisi Handphone, Ibu dan Facebook diikutkan Lomba di Penerbit Tigamaha, tapi kurang beruntung. hehe