maaf, ga nemu ilustrasi yang cocok buat keduanya. hehehe

Saya pernah belajar keduanya, meskipun di karate saya hanya sebatas hafal nyampe kata 3 atau jangan-jangan cuma kata 2 saja, itu juga dulu, sekarang mungkin udah pada lupa, hehe. Dan sekarang saya sedang belajar taekwondo, niatannya sih mau nyelesein sampai bersabuk hitam, ngga cuman sabuk putih. Hehe.

Di karate, saya dilatih oleh dua orang hebat menurut saya, simpei jul dan simpei nur, ditengah-tengah kesibukan mereka, mereka masih sempet datang dan melatih para karateka muda, termasuk saya pada waktu itu, haha ngakunya karateka padahal kumite aja belum pernah. Latihannya waktu itu di kodim 0605 Subang, kalau gak salah tiap hari senin, kamis sama hari minggu, para simpei dengan sabar melatih kami, meskipun menurut saya anak-anak karate pada waktu itu susah diatur, buat latihan ngadepin pertandingan aja susah banget, sempet saya lihat wajah simpei nur kesel ketika melihat anak-anak yang mau bertanding tidak pada datang. Tapi saya tahu, beliau adalah orang yang sabar, oh iya lupa, saya sampai saat ini merasa bersalah sama dia, soalnya pas keluar karate, saya cuma bisa pamitan di jalan.

Perguruan kami pada waktu itu, saya lupa namanya, tapi yang jelas ada nama perkumpulannya, saya nemunya juga di Fesbuk, INKANAS Kabupaten Subang, ga tau juga sebenarnya, entah itu perkumpulannya atau emang itu nama perguruannya.

Di karate juga, saya dikenalkan, lebih tepatnya mengenal, seorang cewe yang cantik, dan kayaknya smart. Jujur, cewe itu salahsatu alasan saya pada waktu itu rajin latihan karate. Tapi nanti aja deh saya bahasnya, soalnya postingan kali ini saya akan membahas, perbedaan antara karate sama taekwondo.

Sedangkan Taekwondo, saya baru masuk akhir Juni 2012 kemarin, Sebenarnya saya mau masuk dari awal 2012, namun waktu latihan yang selalu bentrok dengan jadwal kegiatan saya lainnya, sehingga niatan saya itu baru kesampaian akhir juni kemarin, Nana, ya, sabum Nana kenalan waktu pas sebuah acara dinas kepemudaan di Subang, Pemuda pelopor, yang mengajak saya untuk ikut latihan taekwondo, dan mengenal lebih jauh tentang taekwondo.

Di taekwondo ini, saya lihat anak-anaknya lebih solid, mereka juga rajin latihan, ada kelas mahasiswanya lagi, sekarang, saya juga kalau latihan bareng kelas mahasiswa, kebanyakan anak-anak fakultas hukum.

Kalau di Karate INKANAS, nah di taekwondo ini nama perkumpulannya, atau juga perguruannya adalah STS ASKO, singkatannya yang saya tau Cuma STS nya saja, Subang Takwondo School, Sabum Nana yang ngediriin.

Perbedaan antara Takwondo dan Karate. Baca disini.

Dengan jumlah 13 tropi dari berbagai ajang seperti Liga Champions, BBVA, Piala Dunia Antar Club, Piala Raja yang ditorehkan Sang Kreator Pep Guardiola tenyata bagi saya itu belum cukup. Pra Semifinal Liga Champions (Chelsea Vs barcelona) kemarin menandakan kesombongan (yang tak patut) saya sebagai fans Messi dkk tersebut berharap agar Pep bisa mengantarkan Barca masuk ke babak final dan menjuarai ajang tersebut, walaupun pada Leg 1 Barca menyerah 1:0 di Stamfordbridge.

Harapan itu semakin menjadi ketika Catalan tertunduk lesu di ajang lokal setelah harapan meraih tropi La Liga musim ini semakin menipis, Barca kalah 1:2 oleh rival abadi mereka Real Madrid menjadikan jarak poin semakin jauh, di Nou Camp, oh,,, memalukan.

Itulah menjadi alasan keoptimisan saya bahwa kalah di ajang lokal yakin barca akan menjuarai ajang champions, meskipun saya hanya sebagai fans yang pastinya saja tidak terdeteksi sebagai cules atau barcelonistas oleh mereka (para pemain ataupun fans) yang berada di Spanyol sana. Namun, apa yang terjadi Leg ke-2 Semifinal Barcelona VS Chelsea menjadi sebuah petaka bagi saya, kemaluanku muncul tiba-tiba setelah barca dipaksa imbang 2:2 di kandang sendiri, seolah dunia meneriaki, “syukurin lo kalah!!!”, dan sayapun enggan keluar rumah selama 3 hari, mengurung diri di kamar.

Tapi, meskipun demikian, saya tetap optimis, musim depan Barca akan kembali merebut gelar-gelar tersebut, seperti yang diungkapkan Pep: Barca Masih Perkasa.

Glory…glory… United hehe…

Namaku Andi (nama paslu) menyiapkan kemeja putih dengan jins itemku, besok adalah hari pertamaku Ujian Akhir Semester (Singk. UAS) di fakultas PKT (Peternakan Kambing Perah) Unyil (Universitas Nyingslep Saeutik) yang merupakan kampus kebanggaan di daerahku Lebak Bulu (Bulu kuduk, bulu kumuut, bulu ayam, bulu kuduk dan bulu lainnya)

Ayahku sangat berharap ne’ aku bisa menjadi sarjana peternakan kambing yang solutif dan dinamis, dalam memecahkan permasalahan peternakan, dan yakin bisa berguna bagi humanisme (kemanusiaan). Bahkan dalam suatu obrolan panjang tengah malam, ditemani dengan air susu dan hamparan meja catur dengan beberapa pion diatasnya, Bapakku pernah mengungkapkan isi hatinya.

“Bapak tuh kepingin kamu bias membuat kambing-kambing bapa bunting  5 kali dalam setahun” Ungkapnya serius sambil memandangi pion caturnya.

“Ups” Aku menutup mulutnya sambil menahan tawa, takut tawaku meledak, alih-alih bapak yang super killer melebihi Dosen Kimia mendampratku.

“Wualah, bapak ini ada-ada saja, toh. Masa aku yang buntingin kambing-kambing bapak?” jawabku sambil hamper-hampir tertawa.

“Maksud bapak, kamu kuliah yang bener di Unyil sana, supaya kamu bias membuat solusi yang baik buat para peternak didesa ini, gitu ndi” papar Bapak

“Nah gitu dong pak, yang jelas”

“Susah ngomong karo koe ndi, udah ni aku nye-Kak Mat kamu” bapak melangkahkan Menteri tepat didepan Raja Caturku.

Aku pun menghuleng, waduh, ini gara-gara aku diajak ngobrol terus sama si Bapak, Mati deh.

Paginya, dengan semangat membakar membara, aku berkemas, beberapa menit kemudian aku menuju kampus dengan vespa tuaku. Mengingat aku belum mempunyai kartu ujian segera aku mendatangi ruang TU yang katanya angker kalau malam, ya sebenarnya siang juga, banyak orang-orang yang sangar. Hehe.

“Andi, maaf kamu tidak bisa mengikuti ujian, tunggakan uang kuliah kamu sangat banyak sekali” Jelas pak Kuncen (lengkapnya pak Kuncen Suseno, hehe).

“Aduh pak tolong dong, Bapak aku belum panen kambingnya pak” rengek ku.

“Tidak bisa” Bu Sri menimpal dengan tegas.

Uh, mendengar suaranya aku bergidik apalagi melihat wajahnya, Osram banget. Yahh… dengan lesu aku keluar, terlihat puluhan mahasiswa bermuka sama denganku, lemah, letih, lesu. Pasti mereka senasib dengan mereka.

Apa kata bapak ku, jika Ujian aja aku gak bisa. Bagaimana aku bisa mensejahterakan kambing-kambing bapak. Sebesar dan semegah Kampus Unyil ternyata tidak ada toleransi bagi mahasiswa miskin kayak aku, nasib.. oh nasib…

Subang, Kota Garmen

1 June 2011

Jangan heran jika satu atau dua tahun mendatang sebutan kota Nanas bagi Subang akan berubah menjadi  Kota Garmen, hal ini dibuktikan dengan semakin maraknya pendirian pabrik garmen di beberapa daerah. Sangat disayangkan, karena sebutan kota Nanas yang memang sudah menjadi ikon kebanggaan masyarakat Subang akan berganti dengan sebuah ikon yang lahir bukan dari masyarakat Subang melainkan dari investor asing, investor Korea tepatnya, yang kemudian bisa juga Kota Subang, kota Nanas berubah menjadi Kota Korea, sangat miris sekali.

Seperti yang dirilis, Harian Umum Pasundan Ekspres (Senin, 23/05/2011) “Subang Dikepung Investor Asing”  bahwa sekitar 80 persen  perusahaan asing memiliki pabrik, lebih spesifikasi lagi yaitu investor Korea, disebutkan pula dalam catatan Badan Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP) tercatat sebanyak 27 perusahaan yang telah mendirikan Pabrik di Kota Subang. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan merangsang investor asing lainnya untuk berlomba mendirikan pabrik di Subang, sehingga satu atau dua tahun kedepan ratusan pabrik akan bermunculan disetiap titik di Kabupaten Subang.

Apalagi melihat pernyataan Ketua DPRD Atin Supriatin yang mengharapkan disetiap Kecamatan di Kabupaten Subang terdapat Pabrik Garmen dengan alasan penyerapan tenaga kerja, dan pertimbangan banyaknya angka pengangguran di Subang (Pasundan Ekspres, 25/5/2011) ini akan berakibat pada kelonggaran perijinan pendirian Pabrik sehingga adanya keleluasaan dan peluang Investor untuk bisa mendirikan pabrik di Subang, Nampaknya Raperda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang sedang digodok di DPRD Subang ini juga berindikasi akan melebarkan Zona Industri di Setiap Kecamatan di Subang, Perda (RTRW) pun sepertinya akan menguntungkan para investor asing.

Yang sangat disayangkan lagi, Pendirian pabrik bukan saja hanya dilahan yang tidak produktif melainkan di lahan pertanian produktif, puluhan hektare sawahpun berubah menjadi pabrik-pabrik yang menjulang, Daenong misalnya. Selain itu diindikasikan  pabrik juga didirikan di daerah resapan air. Pendirian Pabrik di Subang juga sudah melenceng dari Perda Nomor 32 Tahun 1996  tentang Zona dan Kawasan Industri yang terdiri dari Kecamatan Pabuaran, Cipeundeuy, Kalijati, Purwadadi, Pagaden, Cibogo dan Cipunagara. Kabupaten Subang, dengan potensi pertaniannya, kemudian hari akan menghilang, tergusur dan tergantikan oleh pabrik-pabrik sehingga menjadi kawasan industri.

Selain itu, tentu tidak dipungkiri dampak pabrik terhadap lingkungan yang sangat membahayakan, limbah yang dihasilkan pabrik tekstil misalnya, akan mencemari lingkungan, mencemari air sungai dan udara karena limbahnya mengandung unsure logam yang termasuk kategori B3 (Bahan Beracun Berbahaya), yang bisa memacu kanker kulit dan gangguan saluran pernafasan. Limbah yang di buang ke sungai juga akan mengakibatkan kerusakan ekosistem sungai, ikan-ikan mati, aliran air juga akan terkirim ke lahan pertanian dan terjadinya pencemaran hasil pertanian dan bisa juga meresap ke sumur-sumur perumahan sehingga sangat memungkinkan membahayakan manusia.

Adanya pabrik tentu di satu sisi memang menguntungkan, selain menguntungkan pemerintahan dari pajaknya juga dengan proyek perijinannya serta juga penyerapan tenaga kerja sehingga mengurangi angka pengangguran, akan tetapi dibalik itu maraknya pendirian pabrik akan sangat merugikan sekali, terutama bagi mentalitas masyarakat Subang yang akan menjadi masyarakat pekerja (buruh), yang akan sangat bergantung sekali terhadap beroperasinya pabrik, Masyarakat tidak akan lagi mengindahkan pendidikan, dengan alasan mudahnya mencari uang dengan tanpa harus sekolah tinggi-tinggi. Hasil penelusuran penulis, hampir 90 persen dari 30 Siswa SLTP di daerah Patokbeusi dan Purwadadi yang ditanya kelanjutan studi pasca SLTP, mereka menjawab akan bekerja di Pabrik. Subang kini akan mencetak manusia-manusia buruh dari pada manusia-manusia berfikir dan intelektual.

Kemudian, Pemerintah serta sebagian masyarakat Subang yang bekerja di Pabrik boleh berbangga saat ini, dengan mudahnya mencari pekerjaan menjadi buruh pabrik, akan tetapi, masa depan mereka dipertaruhkan, dengan menjual lahan-lahan Kabupaten Subang bahkan  diistilahkan dengan Subang dikelilingi Investor asing, tidak menutup kemungkinan pabrik-pabrik garmen atau tekstil yang sekarang marak di Subang ini akan bermetamorfosis menjadi sebuah pabrik yang tidak banyak menyerap tenaga kerja masyarakat Subang, melainkan dengan menggunakan tenaga mesin, mereka akan mem-PHK-kan pekerja dari Subang dengan alasan keterbatasan pengetahuan dan keterampilan. Atau pemilik pabrik-pabrik tersebut akan membuat scenario drama kepailitan dan kebangkrutan sehingga menjadi alasan memberhentikan buruh-buruhnya, tetapi kemudian pemilik pabrik tersebut akan menjadikan tempatnya sebagai gudang produk asing yang didatangkan dari Negara asalnya.

Yang lebih parah, sangat memungkinkan jika kedepannya, pabrik-pabrik di Subang akan merger menjadi sebuah kesatuan Mega Pabrik yang hanya diisi dengan tenaga kerja yang didatangkan dari Negara mereka, sehingga masyarakat Subang hanya menjadi penonton ansich.

Marilah kita berfikir bersama segala kemungkinan yang ada, terutama Pemerintah serta DPRD penyambung aspirasi suara masyarakat jangan hanya dengan alasan penyerapan tenaga kerja tetapi sekian banyak dampak negatifnya tidak diperhatikan, terutama masa depan Masyarakat Subang, tentunya masyarakat tidak rela Ikon Kota Nanas berubah menjadi Kota Garmen yang diyakini sangat merugikan.

Dipostkan di HU PASUNDAN EKSPRES

Peta Subang

Saya ingat sewaktu masih menjadi jurnalis di sebuah media massa lokal Subang, ketika itu saya meliput acara talk show yang diselenggarakan oleh Tim Perintis Pemekaran Kabupaten Subang yang dikomandoi Bambang Herdadi (mantan ketua DPRD Subang ), kemudian saya mencoba menghafal –dan hamper-hampir lupa- barisan terakhir Tema dari Talk Show tersebut, “Pantura antara dan kenyataan,”. Dari tema tersebut kemudian saya berfikir adakah harapan, masa depan cerah bagi saya sebagai salah seorang warga masyarakat Pantura Subang?. Jawabannya tentu saja ya! Kami harus melakukan pemekaran.

Beberapa orang yang disebut sebagai tokoh Pantura saya datangi, dari mulai kepala desa, LSM-LSM, Camat-camat, dan beberapa pejabat teras pemerintah daerah Subang. Dan kesemuanya pada intinya adalah mendukung adanya Pemekaran Pantura, tentunya dengan berbagai tanggapan dan alasan.

Dinamika demokrasi, Keadilan, pembangunan pemberayaan masyarakat serta tuntutan perbaikan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat diantaranya menjadi beberapa alasan yang dimunculkan beberapa tokoh Pantura kenapa sangat apresiasi dilakukan Pemekarannya Pantura. Saya kemudian mencoba menganalogikannya dan OK.

Tetapi kemudian pertanyaan kembali merujuk pada tema talkshow diatas, adakah harapan Pantura untuk mekar? Adakah kesejahteraan Pantura pasca pemekaran? Akankah semuanya menjadi kenyataan? Optimisme pun sengaja saya bangun dalam kerangka berfikir saya.

Kemudian, sayapun melakukan diskusi dengan beberapa rekan saya di Rumah Tinta, yang kebetulan notabene adalah sebagian besar dari Pantura, saya undang langsung Sekretais Tim Pemekaran, Kang Boing Zakaria, dari diskusi tersebut saya bisa menarik kesimpulan bahwa alasan yang paling mendasar dari keinginan Pantura untuk melakukan pemekaran adalah masyarakat Pantura merasa termarjinalkan, dari berbagai aspek semisal pembangunan infrastruktur, perhatian pendidikan contohnya pendistribusian guru atau tenaga pengajar, selain itu masyarakat Pantura merasa kesulitan dengan jauhnya pelayanan public. Sebuah ilustrasi, seseorang yang sakit parah berasal dari daerah pantura yang memerlukan perawatan intensif harus jauh-jauh ke Subang Kota, karena di daerah Pantura belum terdapat Rumah Sakit, yang dikhawatirkan belum nyampe rumah sakit orang tersebut keburu meninggal dunia diakibatkan jauhnya Rumah Sakit. Alangkah malangnya orang tersebut. Pelayanan public yang jauh tentunmya akan mempengaruhi costnya juga, orang pantura yang seharusnya mendapatkan pelanan pembuatan KTP secara gratis melah mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar, ini diakibatkan jauhnya ongkos ke Subang kota.

Dari berbagai alasan tersebut, kemudian dari pengalamannya menjadi seseorang yang menjadi wakil rayat (anggota DPRD) Boing beserta Bambang merintis gerakan pemekaran Pantura Subang.

Menurut salah seorang teman saya yang juga sebagai ketua Forum Sillaturrahim Pantura, Dadang Juanda (DJ) yang layak menjadi pemimpin di Pantura adalah orang yang tau karakter orang-orang dan wilayah Pantura.