tau kan saya yang mana? hehe.. pasti yang berambut keren itu, (ke-dua dari kanan)

Subangshop.com merupakan toko on-line yang siap membantu Pengusaha Subang dan sekitarnya juga , seperti dalam bidang agribisnis, sembako, pengusaha kerajinan dan lain-lain terutama usaha kecil dan menengah untuk memasarkan produknya, agar bisa bersaing dengan pasar-pasar modern”

Demikian itulah sedikit pengantar Pak Kiki M Iqbal, salahsatu pendiri Subangshop yang bisa saya kutip ketika launching Subangshop di Kafe Rumah Dilla, (kalau kurang-kurang dikit, saya minta maaf pa).

Sebenarnya bukan Launchingnya yang akan dibahas, tapi buka puasa gratisnya yang menjadi perhatian saya, haha,,, becanda brow, toh kita walaupun ga ada tawaran buka puasa bersama gratis kita tetep hapy dan buka puasa bersama-sama. Yah, yang bikin saya tak habis pikir, selama ini baru ada yang ngajak buka puasa bersama, namun belum ada tawaran sahur bersama, hehe.

Balik lagi ke topik yang akan saya bahas, Subangshop.com sebenernya merupakan metamorfosis (atau apalah namanya) dari blogger subang, toh pada kenyataannya punggawa-punggawanya masih orang-orang blogger subang (blogger subang keren-keren tau, nanti saya ceritain deh kapan-kapan), sepertinya banyak alasan yang mendasari Pa Kiki M Iqbal, Mas Yanu, Mang Annas, Mang Brayn, Om Oki dll mendirikan subangshop, lebih ke ranah sosial, prihatin pada kondisi perekonomian Subang, khususnya pengusaha kecil (seperti, warung toko dan pasar tradisional ) semakin tergerus oleh maraknya pasar modern, subang shop ini andil dalam mempromosikan dan memasarkan produk-produk pengusaha-pengusaha kecil menengah di kota subang dan sekitarnya agar bisa bertahan dan bersaing dengan pasar modern. itu sisi sosialnya, ya  sebenarnya lebih ke sisi profitnya juga sih, hehe. Jadi pengen ikutan gabung di subangshop, siapa tau saya bisa berkontribusi disana, dan jelasnya dapat penghasilan deh. hehe

Jadi gini, saya ceritain mekanisme kerjasama di subangshop. Jika Anda orang Subang dan sekitarnya, sebagai pengusaha (sekala besar atau kecil) mempunyai produk, kemudian ingin produknya lebih dikenal secara luas oleh banyak orang, maka anda dapat mempromosikan produk anda di Subangshop, caranya, hubungi Pak Kiki M Iqbal dengan no kontak 082127140420-087760792282. (hehe,, gampangkan).

Oke, yang jelas subangshop ini adalah toko on-line, dan bisa dilihat di sini.

maaf, ga nemu ilustrasi yang cocok buat keduanya. hehehe

Saya pernah belajar keduanya, meskipun di karate saya hanya sebatas hafal nyampe kata 3 atau jangan-jangan cuma kata 2 saja, itu juga dulu, sekarang mungkin udah pada lupa, hehe. Dan sekarang saya sedang belajar taekwondo, niatannya sih mau nyelesein sampai bersabuk hitam, ngga cuman sabuk putih. Hehe.

Di karate, saya dilatih oleh dua orang hebat menurut saya, simpei jul dan simpei nur, ditengah-tengah kesibukan mereka, mereka masih sempet datang dan melatih para karateka muda, termasuk saya pada waktu itu, haha ngakunya karateka padahal kumite aja belum pernah. Latihannya waktu itu di kodim 0605 Subang, kalau gak salah tiap hari senin, kamis sama hari minggu, para simpei dengan sabar melatih kami, meskipun menurut saya anak-anak karate pada waktu itu susah diatur, buat latihan ngadepin pertandingan aja susah banget, sempet saya lihat wajah simpei nur kesel ketika melihat anak-anak yang mau bertanding tidak pada datang. Tapi saya tahu, beliau adalah orang yang sabar, oh iya lupa, saya sampai saat ini merasa bersalah sama dia, soalnya pas keluar karate, saya cuma bisa pamitan di jalan.

Perguruan kami pada waktu itu, saya lupa namanya, tapi yang jelas ada nama perkumpulannya, saya nemunya juga di Fesbuk, INKANAS Kabupaten Subang, ga tau juga sebenarnya, entah itu perkumpulannya atau emang itu nama perguruannya.

Di karate juga, saya dikenalkan, lebih tepatnya mengenal, seorang cewe yang cantik, dan kayaknya smart. Jujur, cewe itu salahsatu alasan saya pada waktu itu rajin latihan karate. Tapi nanti aja deh saya bahasnya, soalnya postingan kali ini saya akan membahas, perbedaan antara karate sama taekwondo.

Sedangkan Taekwondo, saya baru masuk akhir Juni 2012 kemarin, Sebenarnya saya mau masuk dari awal 2012, namun waktu latihan yang selalu bentrok dengan jadwal kegiatan saya lainnya, sehingga niatan saya itu baru kesampaian akhir juni kemarin, Nana, ya, sabum Nana kenalan waktu pas sebuah acara dinas kepemudaan di Subang, Pemuda pelopor, yang mengajak saya untuk ikut latihan taekwondo, dan mengenal lebih jauh tentang taekwondo.

Di taekwondo ini, saya lihat anak-anaknya lebih solid, mereka juga rajin latihan, ada kelas mahasiswanya lagi, sekarang, saya juga kalau latihan bareng kelas mahasiswa, kebanyakan anak-anak fakultas hukum.

Kalau di Karate INKANAS, nah di taekwondo ini nama perkumpulannya, atau juga perguruannya adalah STS ASKO, singkatannya yang saya tau Cuma STS nya saja, Subang Takwondo School, Sabum Nana yang ngediriin.

Perbedaan antara Takwondo dan Karate. Baca disini.

Subang, Kota Garmen

1 June 2011

Jangan heran jika satu atau dua tahun mendatang sebutan kota Nanas bagi Subang akan berubah menjadi  Kota Garmen, hal ini dibuktikan dengan semakin maraknya pendirian pabrik garmen di beberapa daerah. Sangat disayangkan, karena sebutan kota Nanas yang memang sudah menjadi ikon kebanggaan masyarakat Subang akan berganti dengan sebuah ikon yang lahir bukan dari masyarakat Subang melainkan dari investor asing, investor Korea tepatnya, yang kemudian bisa juga Kota Subang, kota Nanas berubah menjadi Kota Korea, sangat miris sekali.

Seperti yang dirilis, Harian Umum Pasundan Ekspres (Senin, 23/05/2011) “Subang Dikepung Investor Asing”  bahwa sekitar 80 persen  perusahaan asing memiliki pabrik, lebih spesifikasi lagi yaitu investor Korea, disebutkan pula dalam catatan Badan Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP) tercatat sebanyak 27 perusahaan yang telah mendirikan Pabrik di Kota Subang. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan merangsang investor asing lainnya untuk berlomba mendirikan pabrik di Subang, sehingga satu atau dua tahun kedepan ratusan pabrik akan bermunculan disetiap titik di Kabupaten Subang.

Apalagi melihat pernyataan Ketua DPRD Atin Supriatin yang mengharapkan disetiap Kecamatan di Kabupaten Subang terdapat Pabrik Garmen dengan alasan penyerapan tenaga kerja, dan pertimbangan banyaknya angka pengangguran di Subang (Pasundan Ekspres, 25/5/2011) ini akan berakibat pada kelonggaran perijinan pendirian Pabrik sehingga adanya keleluasaan dan peluang Investor untuk bisa mendirikan pabrik di Subang, Nampaknya Raperda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang sedang digodok di DPRD Subang ini juga berindikasi akan melebarkan Zona Industri di Setiap Kecamatan di Subang, Perda (RTRW) pun sepertinya akan menguntungkan para investor asing.

Yang sangat disayangkan lagi, Pendirian pabrik bukan saja hanya dilahan yang tidak produktif melainkan di lahan pertanian produktif, puluhan hektare sawahpun berubah menjadi pabrik-pabrik yang menjulang, Daenong misalnya. Selain itu diindikasikan  pabrik juga didirikan di daerah resapan air. Pendirian Pabrik di Subang juga sudah melenceng dari Perda Nomor 32 Tahun 1996  tentang Zona dan Kawasan Industri yang terdiri dari Kecamatan Pabuaran, Cipeundeuy, Kalijati, Purwadadi, Pagaden, Cibogo dan Cipunagara. Kabupaten Subang, dengan potensi pertaniannya, kemudian hari akan menghilang, tergusur dan tergantikan oleh pabrik-pabrik sehingga menjadi kawasan industri.

Selain itu, tentu tidak dipungkiri dampak pabrik terhadap lingkungan yang sangat membahayakan, limbah yang dihasilkan pabrik tekstil misalnya, akan mencemari lingkungan, mencemari air sungai dan udara karena limbahnya mengandung unsure logam yang termasuk kategori B3 (Bahan Beracun Berbahaya), yang bisa memacu kanker kulit dan gangguan saluran pernafasan. Limbah yang di buang ke sungai juga akan mengakibatkan kerusakan ekosistem sungai, ikan-ikan mati, aliran air juga akan terkirim ke lahan pertanian dan terjadinya pencemaran hasil pertanian dan bisa juga meresap ke sumur-sumur perumahan sehingga sangat memungkinkan membahayakan manusia.

Adanya pabrik tentu di satu sisi memang menguntungkan, selain menguntungkan pemerintahan dari pajaknya juga dengan proyek perijinannya serta juga penyerapan tenaga kerja sehingga mengurangi angka pengangguran, akan tetapi dibalik itu maraknya pendirian pabrik akan sangat merugikan sekali, terutama bagi mentalitas masyarakat Subang yang akan menjadi masyarakat pekerja (buruh), yang akan sangat bergantung sekali terhadap beroperasinya pabrik, Masyarakat tidak akan lagi mengindahkan pendidikan, dengan alasan mudahnya mencari uang dengan tanpa harus sekolah tinggi-tinggi. Hasil penelusuran penulis, hampir 90 persen dari 30 Siswa SLTP di daerah Patokbeusi dan Purwadadi yang ditanya kelanjutan studi pasca SLTP, mereka menjawab akan bekerja di Pabrik. Subang kini akan mencetak manusia-manusia buruh dari pada manusia-manusia berfikir dan intelektual.

Kemudian, Pemerintah serta sebagian masyarakat Subang yang bekerja di Pabrik boleh berbangga saat ini, dengan mudahnya mencari pekerjaan menjadi buruh pabrik, akan tetapi, masa depan mereka dipertaruhkan, dengan menjual lahan-lahan Kabupaten Subang bahkan  diistilahkan dengan Subang dikelilingi Investor asing, tidak menutup kemungkinan pabrik-pabrik garmen atau tekstil yang sekarang marak di Subang ini akan bermetamorfosis menjadi sebuah pabrik yang tidak banyak menyerap tenaga kerja masyarakat Subang, melainkan dengan menggunakan tenaga mesin, mereka akan mem-PHK-kan pekerja dari Subang dengan alasan keterbatasan pengetahuan dan keterampilan. Atau pemilik pabrik-pabrik tersebut akan membuat scenario drama kepailitan dan kebangkrutan sehingga menjadi alasan memberhentikan buruh-buruhnya, tetapi kemudian pemilik pabrik tersebut akan menjadikan tempatnya sebagai gudang produk asing yang didatangkan dari Negara asalnya.

Yang lebih parah, sangat memungkinkan jika kedepannya, pabrik-pabrik di Subang akan merger menjadi sebuah kesatuan Mega Pabrik yang hanya diisi dengan tenaga kerja yang didatangkan dari Negara mereka, sehingga masyarakat Subang hanya menjadi penonton ansich.

Marilah kita berfikir bersama segala kemungkinan yang ada, terutama Pemerintah serta DPRD penyambung aspirasi suara masyarakat jangan hanya dengan alasan penyerapan tenaga kerja tetapi sekian banyak dampak negatifnya tidak diperhatikan, terutama masa depan Masyarakat Subang, tentunya masyarakat tidak rela Ikon Kota Nanas berubah menjadi Kota Garmen yang diyakini sangat merugikan.

Dipostkan di HU PASUNDAN EKSPRES

Peta Subang

Saya ingat sewaktu masih menjadi jurnalis di sebuah media massa lokal Subang, ketika itu saya meliput acara talk show yang diselenggarakan oleh Tim Perintis Pemekaran Kabupaten Subang yang dikomandoi Bambang Herdadi (mantan ketua DPRD Subang ), kemudian saya mencoba menghafal –dan hamper-hampir lupa- barisan terakhir Tema dari Talk Show tersebut, “Pantura antara dan kenyataan,”. Dari tema tersebut kemudian saya berfikir adakah harapan, masa depan cerah bagi saya sebagai salah seorang warga masyarakat Pantura Subang?. Jawabannya tentu saja ya! Kami harus melakukan pemekaran.

Beberapa orang yang disebut sebagai tokoh Pantura saya datangi, dari mulai kepala desa, LSM-LSM, Camat-camat, dan beberapa pejabat teras pemerintah daerah Subang. Dan kesemuanya pada intinya adalah mendukung adanya Pemekaran Pantura, tentunya dengan berbagai tanggapan dan alasan.

Dinamika demokrasi, Keadilan, pembangunan pemberayaan masyarakat serta tuntutan perbaikan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat diantaranya menjadi beberapa alasan yang dimunculkan beberapa tokoh Pantura kenapa sangat apresiasi dilakukan Pemekarannya Pantura. Saya kemudian mencoba menganalogikannya dan OK.

Tetapi kemudian pertanyaan kembali merujuk pada tema talkshow diatas, adakah harapan Pantura untuk mekar? Adakah kesejahteraan Pantura pasca pemekaran? Akankah semuanya menjadi kenyataan? Optimisme pun sengaja saya bangun dalam kerangka berfikir saya.

Kemudian, sayapun melakukan diskusi dengan beberapa rekan saya di Rumah Tinta, yang kebetulan notabene adalah sebagian besar dari Pantura, saya undang langsung Sekretais Tim Pemekaran, Kang Boing Zakaria, dari diskusi tersebut saya bisa menarik kesimpulan bahwa alasan yang paling mendasar dari keinginan Pantura untuk melakukan pemekaran adalah masyarakat Pantura merasa termarjinalkan, dari berbagai aspek semisal pembangunan infrastruktur, perhatian pendidikan contohnya pendistribusian guru atau tenaga pengajar, selain itu masyarakat Pantura merasa kesulitan dengan jauhnya pelayanan public. Sebuah ilustrasi, seseorang yang sakit parah berasal dari daerah pantura yang memerlukan perawatan intensif harus jauh-jauh ke Subang Kota, karena di daerah Pantura belum terdapat Rumah Sakit, yang dikhawatirkan belum nyampe rumah sakit orang tersebut keburu meninggal dunia diakibatkan jauhnya Rumah Sakit. Alangkah malangnya orang tersebut. Pelayanan public yang jauh tentunmya akan mempengaruhi costnya juga, orang pantura yang seharusnya mendapatkan pelanan pembuatan KTP secara gratis melah mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar, ini diakibatkan jauhnya ongkos ke Subang kota.

Dari berbagai alasan tersebut, kemudian dari pengalamannya menjadi seseorang yang menjadi wakil rayat (anggota DPRD) Boing beserta Bambang merintis gerakan pemekaran Pantura Subang.

Menurut salah seorang teman saya yang juga sebagai ketua Forum Sillaturrahim Pantura, Dadang Juanda (DJ) yang layak menjadi pemimpin di Pantura adalah orang yang tau karakter orang-orang dan wilayah Pantura.