Berkacamata, tapi Tak Suka Baca

17 August 2017

Saya pria berkacamata, tapi ternyata saya tak suka baca, terutama buku-buku tebal, setebal kamus Munjid atau setengahnya, mirip-mirip Jhon M Echol.

Dulu, saya pernah suka baca, Novel, sastra, terkadang sempetin baca cerpen, cerpen-cerpen islami karya Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa di Majalah Annida, kebetulan Teteh berlangganan majalah sastra islami itu, dan terkadang saya baca juga tulisan Seno Gumira Aji, meskipun harus dengan kerutan dahi ketika membacanya, dan tak cukup mengerti dengan mengulang dua kali, tapi itu dulu, bahkan jauh sebelum saya berkacamata.

membaca

Terakhir mungkin saya baca Tetralogi Laskar Pelangi nya Andrea Hirata, setelah itu kebiasaan baca saya berkurang, saya malah lebih sering baca status Fb orang, recent update BBM, atau running text di acara berita, kemudian pada akhirnya saya cuma baca naskah berita dari wartawan di email atau desk redaktur, itu setelah saya berkacamata.

Saya berkacamata awal mondok di TMI Al-Amien Prenduan, sejak di MTS Arifin Billah Cirebon kelas 1 juga pandangan saya mulai kabur, meskipun keukeuh duduk di bangku belakang. Kebiasaan duduk di bangku belakang itu juga membuat saya harus pakai kacamata, karena tulisan di papan tulis sudah tak berbentuk di pandangan dari belakang kelas.

Kelas 1 TMI, waktu itu, saya berkacamata, Min 1 untuk mata kiri dan 1 setengah mata kanan, slindris.

Teman-teman memanggil saya Saiful Mindor, Tak apalah mendapat gelar itu, sedikit keren, identik dengan kutu buku, yang tua di perpustakaan.

Namun, sebenarnya, saya tidak seperti yang kebanyakan orang kira, pengetahuan saya biasa saja, tulisan saya gitu-gitu aja. Apalagi setelah mengenal Copy Writer. Tulisan saya makin hambar ketika dibaca ulang.

Sempet terbersit iri ketika diskusi dengan mereka yang juga berkacamata, kata-kata yang terlontar berdasarkan buku-buku, kutipan-kutipannya berbuntut daftar pustaka atau footnote yang berisi referensi para penulis terkenal. Tak jarang mereka menyebutkan judul buku dan halaman, bahkan baris.

Tidak terbayangkan, bagaimana mereka menghafal nama-nama pengarang dan judul buku yang disebutkan. Mendengar pasal KUHP saja saya merinding.

Mereka pembaca sejati, pembaca yang baik, hoby membaca bukan sekadar mengisi biodata atau Curiculum Vitae saja. Membaca sepertinya sudah mendarah daging.

Beberapa teman seperti itu memang membuat saya kagum, baginya hidup adalah membaca, setiap tarikan nafasnya adalah untaian kata-kata dalam buku yang mereka baca.

Keirian itu, membuktikan bahwa saya bukan pembaca, apalagi berbuntut sejati, saya tidak suka baca, dan jauh dari sebutan kutu buku. Saya juga bukan penulis, penulis kan harus punya karya tulis, skripsi? Hanya sebatas syarat kelulusan saja.

Di usia saya yang berkepala 3 ini, saya tersadarkan, ternyata saya pernah ingin menjadi penulis handal, menelorkan karya-karya sastra, atau jadi cerpenis, kolomnis di media, minimal media nasional. Atau seorang jurnalis, beneran jurnalis yang tidak cuma cari berita dan cari omset saja.

Tapi, lebih dari itu, saya juga sudah lupa, bahwa tuhan juga menghendaki manusia untuk membaca. Selain itu saya juga telah berkhianat pada mata saya yang berkaca.

“Iqro’ bismi robbikalladzii kholaq”.

….

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: