Gajah di seberang kelihatan, semut dipelupuk mata tak nampak

Sedikitpun saya tak memungkiri pepatah diatas. Karena semua orang tau, semua orang sadar, bahwa mengkritik itu renyah kayak rengginang baru ngangkat dari penggorengan, empuk kayak kasur busa, dan seger kayak es buah yang diminum pas buka puasa.

Namun, disisi lain saya juga berpegang pada sebuah riwayat,

Ashlih nafsaka yashluh lakannaas

atau disisi lain ada sebuah peringatan “keras” bagi mereka yang suka mengkritik dalam Al-Quran, disebutkan bahwa Allah sangat membenci orang yang hanya pintar berbicara namun jauh dari implementasi. Dengan kata lain, Tuhan pun benci dengan orang yang banyak omong namun kosong.

Saya seorang melankolis yang selalu mempertimbangkan apa yang akan dibicarakan, selalu hati-hati ketika akan mengeluarkan pendapat, hal ini bertolak belakang dengan orang kebanyakan di Media Sosial (terutama Fesbuk) dimana di forum itu seolah orang berkata bebas, mengkritik pemerintah, mengkritik pemimpin dengan se-renyah-renyah. Seakan tak ada sisi baik sedikitpun dari seorang pemimpin.

Kemudian apakah kita tidak boleh mengkritik? Tentu saja boleh. Karena saya juga berpegang pada hadist Nabi.

Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka bertindaklah

Orang-orang selalu berkata, kami mengkritik untuk membangun, saya sepakat dengan itu, tapi apakah tidak sebaiknya. Membangun untuk mengkritik. Pertanyakanlah sejauhmana kita sudah membangun bangsa/daerah kita sesuai dengan kapasitas kita?

Kemudian bukankah lebih baik melakukan sesuatu yang kecil dari pada membicarakan hal yang besar?

Talk less do more.

Salam,,,

– Cacatan menjelang buka puasa

 

Advertisements