13274331341010731417_300x826.92307692308

Bubarkan saja HMI !!!” – Cak Nur (Nurkholis Majid)

“Bubarkan, jangan, bubarkan, jangan, bubarkan” gumam seorang kader belia HMI sambil menghitung kancing baju kokonya, yang 5 biji itu, setelah berhenti di kata “Bubarkan” maka kader tersebut kembali mengulang hitungannya dengan terbalik.

“Jangan, bubarkan, jangan, bubarkan, ja”. Ia terhenti.
“Hmm,,, berarti jangan, tapi… HMI layak dibubarkan” katanya.

Dilema seorang kader muda HMI ini rupanya mencerminkan isi hati saya, namun apa daya saya bukan pendiri HMI, saya bukan Petinggi HMI, saya juga bukan Ketum Cabang HMI. Saya hanya kader tanggung, low profile, yang hanya baru sebatas ikutan Intermediate Training, itu juga dipaksa senior waktu itu.

Lho, kenapa HMI harus dibubarkan?

HMI jaya itu kan dulu, HMI bagus itu kan dulu, HMI baik itu kan dulu, nah sekarang? Gimana? Hayoo gimana menurut kalian?, apakah dengan semakin tenggelamnya peran HMI dalam kancah perubahan sosial (khususnya di Daerah saya) HMI itu dikatakan bagus? Apakah dengan semakin seringnya terdengar kisruh intern HMI, berarti bahwa HMI itu jaya? Apakah dengan terdengar bahwa Alumni HMI yang jadi pejabat itu koruptor kemudian HMI dikatakan baik? Apakah dengan adanya kabar Ketum PB HMI diduga melakukan pelecehan sexual itu kemudian HMI bahagia?

Berbagai pembelaan, pembelaan dari kita yang seorang kader, saya yakin jika seorang kader kita akan melakukan pembelaan yang paling ampuh untuk menyangkal bahwa HMI itu terpuruk, HMI itu jelek dan buruk.

“Lah wong itukan kemabali pada orangnya, bukan HMI nya kan bagus, tapi itu salah orang-orangnya”
Inilah senjata ampuh buat kader untuk membela HMI jika dipojokan. Yah namanya juga kader HMI, bukan kader HMI jika tidak bisa melakukan pembelaan suatu kesalahan.

Menurut saya,

Bener juga pembelaan tersebut, tapi tidak sepenuhnya, ibarat sebuah Sepeda Motor, Baru, mesin oke, bensin full, ban oke, semua oke, siap dikendarai, namun pengendaranya ugal-ugalan dan belum punya sim kemudian sepeda motor itu tabrakan, pengendara terluka parah kemudian motornya rusak, parah juga, yang salah siapa?

Jelas pengendara, kita tidak mungkin menyalahkan sepeda motornya, namun apa yang terjadi? Setelah nabrak kondisi motor tersebut, meskipun bisa kembali dipake, mesti ada perubahan, yang jelas, tidak enak dipake, sering mogok, sering diservis dan masalah-masalah lainnya. Intinya motor tersebut rusak dan tidak layak pakai.

Dalam HMI, banyak penyimpangan menggunakan system yang sering kita sebut HMI, banyak yang menyalahgunakan jabatan HMI, dan merasa so’ so’ an menjadi kader HMI, mentang-mentang alumninya banyak yang jadi pejabat dan orang hebat kemudian kadernya mengagungkan HMI, tapi tidak dengan ngaca diri sampai dimana kontribusinya terhadap bangsa.

HMI rusak, HMI buruk, HMI terpuruk dan layak dibubarkan. Pantas saja jika beberapa tahun lalu seorang Cendikia Muslim, alumni HMI, Cak Nur mengatakan “bubarkan HMI” apalagi sekarang, dengan semakin banyak permasalahan ditubuh HMI.

Kalau sudah demikan harus bagaimana?

Tulisan saya ini bukanlah sebagai pencari solusi, tapi inilah masalah yang ada, bukan kader HMI jika tidak bisa menyelesaikan masalah.
Sepeda motornya sudah tidak layak pake lagi, harus diganti dengan sepeda motor yang baru,,,,
Tapi tetap dengan merek yang sama, HMI, cari aja di dealer… he.

Bagaimana menurut anda? 

…..

Yakusa. Met Milad kawan-kawan HMI, Perjuangan belum selesai, tapi kopi pekat dan rokok gepenya udah habis.

Advertisements