Salah satu alasan kenapa saya suka menulis adalah saya seorang yang lemah dalam bercerita secara lisan, pernah suatu kali, saya berkumpul bersama beberapa teman, kemudian semuanya saling bercerita, lucu, angker, dan ada juga yang romantis, tis, ala kisah Romeo dan Juliet. Anehnya saya selalu dipas (baca:lewat) untuk bercerita, hingga pada suatu jeda akhirnya salah seorang teman saya nyeletuk, “lho kamu pul, dari tadi belum bercerita?”, sayapun terperanjat, “oh, iya yah, ya udah saya akan cerita”. Maka dimulailah cerita yang sebenarnya sudah saya konsep sedemikan rupa semenjak orang pertama dalam kumpulan tersebut bercerita.

“Bla..bla..bla..” saya bercerita panjang, terkadang saya tertawa, anehnya, kok sepertinya saya tertawa sendiri, meskipun ada, kayaknya sebagai penghormatan aja, hingga pada endingnya, saya bercerita dengan semangat dan diakhiri dengan tawa terbahak-bahak. Inilah detik yang saya tunggu, menunggu teman-teman saya juga pada tertawa mendengar kisah yang saya berikan, namun apa yang terjadi, jarak, ya berjarak sekitar kurang lebih 1 menit baru mereka tertawa, itupun hanya 3 kali ha. Ha..ha..ha.. –terbayangkan- ternyata cerita yang saya suguhkan, dengan konsep sedemikian rupa, kemudian dengan semangat menggebu-gebu, hanya mendapatkan H+3, (ha..ha..ha) alias garing.

Dari situlah, saya tau bahwa saya adalah salah seorang yang lemah menggunakan komunikasi secara lisan, tapi, saya pantang menyerah, saya belajar komunikasi secara lisan secara terus menerus dari mulai menyapa hingga ke lelucon bahkan lomba dongengpun saya ikuti.

Sepanjang perjalanan saya belajar bercerita secara lisan (maksud: komunikasi lisan), saya juga tidak sengaja belajar menulis, kata beberapa sastrawan dan penulis terkenal bahwa menulis itu asik. Bahkan ada istilah “Orang pandai berbicara belum tentu pandai menulis, tapi orang yang pandai menulis akan otomatis dia pandai berbicara”.

Diawali puisi. Pada waktu itu ada lomba penulisan puisi di Ma’had (pondok pesantren), tapi hanya sebatas tingkat shof (kelas), jadi saya bersaing dengan sekitar (gak banyak) 400an santri yang satu shof dengan saya, saya ikutan lomba tersebut, lebih tepatnya iseng, namun ternyata saya masuk nominasi dan menang, hadiahnya dapat buku-buku sastra, kayak cerpen, antologi puisi dan majalah gratis serta bonus Photo saya berpose kaku nampang di Majalah Santri. (Lumayan, dikenal santriwati). Sampai disitu, sebenarnya saya belum yakin kalau menulis itu asik.

Dikemudian hari, saya juga menulis beberapa cerita, tapi pada dasarnya saya males eksist sehingga cerita-cerita tersebut tidak mau saya keluarkan (ekspose), dan hanya sebatas penghuni diary dekil (waktu itu belom ngarti blog), namun ternyata berawal dari keisengan beberapa temen saya, diary tersebut sengaja dibaca oleh temen-temen kemudian dikomentari dengan dingin, “tulisan kamu bagus”, Hah, apa? Diary saya dibaca orang, padahal saya layaknya menelanjangi diri saya dalam diary tersebut, dengan sedikit malu dicampur marah terpendam saya bilang “makasih”.

Ketertarikan temen saya akan tulisan-tulisan saya pun berlanjut, saya diajak untuk ikut mengisi majalah dinding MAPENA (komunitas saya bersama temen-temen), sayapun semangat, dan selalu nyumbangin dan nampang asik di Mading tersebut. Hingga saya rampung nyantri.

Tidak jauh berbeda sewaktu saya di Ma’had, masa awal-awal kuliahpun saya masih suka nulis, walaupun sebatas up-date status (masa-masa Friendster dan Awal Facebook), puisi, ceritapun sering saya buat. Pernah juga saya menyimpang sedikit akan pola tulisan saya, yang tadinya saya bercerita dan mencoba belajar bersastra tiba-tiba saya harus menulis berdasarkan fakta, ya, saya harus menulis berita, karena pada saat itu saya menjadi wartawan di salah satu media lokal. Dan itupun saya sering menulis feature, bahkan kadang-kadang saya harus dimarahi redaktur dengan gaya penulisan berita saya yang mirip-mirip Opini –ya, katanya berita saya adalah cerita fiksi saya- haha.

Yang jelas, menurut saya menulis itu asyik, bercerita itu memuaskan, saya selalu ingin cerita saya dibaca orang, walaupun kadang tulisan atau cerita saya ada (bahkan banyak) yang sulit dimengerti, saya merasa puas ketika opini saya terbit di media cetak, saya merasa bangga ketika tulisan saya ada yang membaca dan terkomentari, entah, saya juga belum mengetahui wujud dari kepuasan saya tersebut, dan saya hanya merasakan (katanya) kepuasan bathin, sehingga saya baru mengerti apa makna dari kata “menulis itu asyik”.

 

 

 

Advertisements