Tak seperti angin, aku hanya terdiam, tidak sedikitpun berbisik, tak seperti hujan, aku sendirian tak berteman, tak seperti sungai yang terus mengalir dan mengalir, menyambangi semua yang terlewati, apapun itu, sedangkan aku, kebingungan. Entahlah aku tidak mirip dengan siapapun, tidak ada kesamaan didunia ini yang aku temui dengan wajahku, terlebih ketika aku bercermin, tak ada satupun, bahkan diriku dalam cermin, berbeda.

Kata orang, aku lebih mirip ayahku, dari hidung, kenyataannya tidak demikian, mungkin saja orang itu bercanda, nyatanya setelah aku perhatikan hidung ayahku mancung seperti bule yang sering aku lihat di layar televisi, sedangkan aku, sebaliknya, bahkan seandainya dalam ilmu alam ada istilah lebih dari 360 derajat, perbedaan hidung antara aku dan ayah adalah 500 derajat, ya, pasti orang itu bercanda. Bahkan saking peseknya hidungku, setiap kali kehujanan aku selalu menutupi hidungku, acapkali air hujan itu masuk hidungku, membuat aku flu.

Sekilas aku memperhatikan wajah ibuku, iya, aku menemukannya, mataku, mataku ada pada mata ibu, apalagi ketika ibuku melirik aku, lirikannya hampir, sekali lagi, hampir mirip aku, nah, mungkin ini yang bisa aku banggakan kepada orang-orang, ternyata aku sama seperti mereka, aku manusia, aku makhluk tuhan, aku juga punya hak yang sama seperti mereka. Dicintai dan mencintai, mendapatkan kedamaian. Dan yang paling aku inginkan, tidak ada diskriminasi.

Suatu saat, aku bercanda dengan ibuku, harapan untuk kemiripanku dengannya kembali lenyap, ketika saja aku melihatnya tertawa, matanya sangat berbeda, matanya tetap indah ketika ia tertawa, bening, bulat dan menyejukan, beribu kedamaian datang yang terpancar darinya, sedangkan aku, aku selalu saja merem ketika aku tertawa, mataku hampir menghilang ditelan kedua kelopak mataku. Aku berbeda dengan ibu.

***

“Tut, kamu sebaiknya belajar di luar, bawa buku-buku kamu sekalian!” Perintah Bu Guru kepadaku.

“Baik bu”. Aku bergegas seperti biasa.

“Jangan lupa, meja sama kursimu”. Bu Guru itu mengingatkanku.

Sebenarnya, aku selalu memaksakan diri, agar aku sama dengan teman-temanku, duduk dalam kelas, belajar dengan layak, bertanya sama bu guru, mengacungkan tanganku ketika ada lontaran pertanyaan, dan saling menyontek ketika ulangan akhir semester, nyatanya aku tetap tidak bisa.

Semenjak masuk sekolah, aku didudukan diluar kelas, aku selalu memperhatikan penjelasan dari guru dengan harus terhalang kaca jendela, aku tak pernah ditanya, bahkan aku tidak diberi kesempatan bertanya, menjawab pertanyaan gurupun aku tidak diperkenankan, meskipun aku sebenarnya mengetahui jawabannya, aku bingung, meskipun aku belum pernah menanyakan perihal ini, bu guru sering mengatakannya, alasan aku dibedakan dengan teman yang lainnya sangat sederhana, ya, aku berbeda.

Sampai pada suatu hari, ibu guru menjelaskan tentang Bhineka Tunggal Ika, nah, inilah pelajaran yang paling aku tunggu, karena sebelumnya aku sudah membaca pelajaran ini berkali-kali, dengan berbagai referensi, aku sudah menghafalnya diluar kepala, dan aku sudah diskusikan ini semua dengan para ahli, tentunya para ahli yang berasal dari duniaku, dunia yang berbeda dengan dunia mereka, yang berada dalam kelas. Aku menunggunya, menunggu penjelasan dari bu Guru.

Yang aku ketahui tentang Bhineka Tunggal Ika, adalah semboyan negara Indonesia, yang artinya meskipun kita beragam dalam berbagai hal, seperti suku bangsa, bahasa, budaya, warna kulit, agama dan lain-lain, kita adalah satu kesatuan, kita adalah saudara, kita adalah setanah air, jadi, sangat disayangkan jika sesama saudara kita sebangsa dan setanah air kita saling bertengkar saling mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan sehingga menuai keributan, bahkan hingga terjadi pertumpahan darah.

Kejadian seperti itu banyak sekali aku saksikan, di layar kaca, di koran-koran ataupun di media on-line, saling membunuh antar suku, saling menyerang karena beda agama, saling menyerang antar ras dan golongan, bahkan yang sangat disesali, sekarang ini terjadi keributan dan pertengkaran sesama bangsa indonesia yang ditengarai dengan kedok politik, saling menyerang antar partai politik, menjatuhkan, memfitnah, dan lain sebagainya, mereka kebanyakan hanya mendahulukan  kepentingan golongan mereka, dimana letak kesatuan bangsa kita? dimana letak persatuan bangsa? Meskipun aku dikatakan berbeda, tapi aku menginginkan perbedaan itu menjadi indah, perbedaan itu menjadikan lahirnya keadilan. Perbedaan itu menjadikan kita saling melengkapi satu sama lain, itulah Bhineka Tunggal Ika yang aku pahami. Meskipun berbeda, kita adalah saudara.

***

“Jadi Bhineka Tunggal Ika itu, artinya meskipun kita berbeda-beda suku, berbeda-beda bahasa, berbeda-beda warna kulit, kita tetap satu… ?“

“Juaaa….” teriak semua yang berada dalam kelas, bersamaan.

“Sekarang ada yang mau bertanya?” Kata Bu Guru sambil membenahi buku-bukunya.

Kelas terdiam, beberapa saat, tidak satupun bersuara, hanya lirikan sesama mereka, lirikan saling menyuruh, saling mengandalkan, lirikan kebingungan, lirikan kosong, inilah kesempatanku untuk bertanya, bertanya tentang alasan mereka memperlakukanku secara berbeda. Aku mengetuk-ngetuk jendela, dan mengangkat tanganku, semua yang ada dalam kelas itu melihatku, menunggu pertanyaan yang akan aku lontarkan, namun,

“Ya, sudah jika tidak ada yang bertanya, ibu akhiri pelajaran hari ini” Ucap ibu guru seolah tak melihatku.

“Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku harus bertanya”

Aku, mengetuk jendela lebih keras, lebih keras, dan lebih keras. Tak seorangpun menghiraukan, aku berlari ke arah pintu, dan memaksa masuk.

“Aku mau bertanya” teriak ku di depan mereka, tapi tak ada satupun mendengarku, semuanya merapihkan buku, meluruskan meja, saling bercanda, kemudian bersiap-siap membaca doa.

“Tidak kah kalian dengar,,, aku mau bertanya”

“Aku mau bertanya, aku mau bertanya, aku mau bertanya…!!!” teriak ku memaksa.

“Baiklah, anak-anak ku, ternyata teman kalian ada yang memaksa ingin bertanya, apa kalian bersedia?” Nampaknya aku akan diberi kesempatan, aku tersenyum, dalam hati.

“Tidaaakk” Teman-temanku serempak.

Ya tuhan, setega inikah mereka terhadapku, aku adalah bagian dari mereka, meskipun  absenku urutan terakhir, tapi aku berada disana, meskipun sebenarnya masih ada urutan alphabet setelah namaku seperti, Tatang, Tuti, Udin, Yayuk dan Zuhdi, karena namaku Smelekatut, yang penting aku telah hadir di Sekolah ini, di Kelas ini, aku menginginkan pengakuan mereka tentang keberadaanku.

“Sebentar, , ,” Kataku, semua terdiam.

“Demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, demi Tuhan yang menciptakan kalian dan diriku, demi tuhan yang menciptakan keindahan melalui perbedaan bentuk, demi tuhan yang menciptakan, . . .” aku mulai meneteskan air mata.

“Yang menciptakan aku yang berbeda dengan kalian, aku mohon, berikan alasan yang tepat kenapa kalian memperlakukan diriku berbeda, kenapa aku tidak diizinkan duduk bersama kalian, mendapatkan hak dan kewajiban layaknya murid sekolah ini? Mengapa aku tidak diperkenankan untuk bertanya, ditanya dan menjawab pertanyaan?, sedangkan diriku sama seperti kalian, aku punya telinga, aku punya hidung, aku punya mulut, aku tidak cacat, dan barusan kita sudah mempelajari tentang Bhineka tunggal Ika, tahukah kalian, kita itu satu, kita adalah sesama manusia, sesama makhluk tuhan, dan sesama manusia Indonesia”

Semua terdiam, hening, tak ada sedikitpun gerakan, patung, yah, mereka seakan menjadi patung, terdiam membisu.

“Kenapa…?”

“Kenapa…?”

“Kenapa…?” Teriakku. Semua masih terdiam.

“Baiklah, ibu akan menjawabnya, mungkin jawaban ibu akan sama seperti teman-teman mu Smelekatut”

Kali ini aku terdiam.

“Alasannya sangat sederhana sekali, kamu adalah berbeda, kamu adalah perbedaan”

Bersama Puisi Handphone, Ibu dan Facebook diikutkan Lomba di Penerbit Tigamaha, tapi kurang beruntung. hehe

Advertisements