Namaku Rio, nama yang cukup elit bagiku, tapi aku sebenarnya tak menghendaki nama itu, terlalu elit, dan boleh dikata sangat elit dan diembel-embeli banget bagi seorang anak desa sepertiku, kebanyakan orang yang mengenal aku di dunia maya, dengan nama Rio, orang tersebut akan membandingkan aku dengan si Modis Rio Ferdinand sang pemain belakang Club Sepak bola dari Inggris itu, atau se romantis Rio Febrian sang penyanyi, atau seperti temen satu kampusku Rio Anggara, yang menjadi pujaan banyak wanita.

Anehnya, aku dianugrahi nama Rio aja, Rio doang, ataupun Rio tanpa kepanjangan, padahal juga aku selalu ingin nama yang panjang, layaknya beberapa temanku di fesbuk, andisicakepdanbaikhati, atau  reniclaluchayankkamufolefel atau Ryanclaluadadisisimuelaelong, tidak sepertiku, yang hanya berani mencantumkan nama Rio di semua akun jejaring sosial.

Tidak banyak nama sepertiku yang terdiri dari 3 huruf, meskipun ada itu hanya nama panggilan, tidak banyak orang yang aneh sepertiku, walaupun ada, hanya segelintir orang, tidak ada orang yang sebodoh diriku, walaupun ada, itu lebih bodoh dariku beberapa derajat, yang jelas aku adalah orang yang jujur dan setia, itu cukup bagiku.

Setia? Apa maksudku, setia yang ku maksud hanya ada dalam definisiku, definisi privasi. Setia kumaksud itu hanya ada dalam dimensiku, dimensi kebodohan dan keanehanku. Dan tak ada seorangpun yang bisa aku fahamkan makna yang tersembunyi dalam setiaku itu, meski aku jelaskan dengan terminologi sederhana, meski hanya dengan tutur kata sehari-hari tak jua seorangpun faham, jangan-jangan termasuk aku. Pernah suatu kali aku membaca sebuah karya Arswendo Atmowiloto, katanya “Bahwa sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak.”, mungkin definisi ini yang hampir menyamai dengan definisiku, meski pada akhirnya berbeda.

Aku seorang pemuas, aku seorang deliveri handal, aku seorang yang setia pada waktu, aku orang yang setia pada si Moncong, sepeda bututku, tidak lebih, aku hanya seorang mahasiswa yang nyambi jadi loper koran, pemuas khasanah pengetahuan pelanggan-pelangganku hanya dengan mengantarkan koran tiap pagi, tiap hari, mengayuh sepeda, sejauh alamat pelanggan. Ketepatan waktu bagiku adalah setia dalam dimensiku, terserah semua orang, setuju ataupun tidak dengan pendapatku. Yang jelas aku adalah orang yang setia.

Pernah suatu pagi, hujan beserta angin mengerutkan dunia, hujan bulan September memang sering mendapat perhatian banyak orang, kadang disertai badai atau kurang lebih angin topan, terkadang membuat aku parno dan tak berniat mengeluarkan si Moncong, untuk mengantarkan koran. Tapi aku yakin, setiaku tidak memaksa, ia mengalir dalam nadiku, ia menghipnotis gerakku, ia membakar geloraku, untuk kembali memuaskan pelanggan koranku. Ya aku adalah orang yang setia.

Terpaksa jalan kaki, dan meninggalkan si Moncong, inilah momen yang paling aku pertanyakan akan setiaku, sepeda lusuh rapuh satu-satunya yang aku miliki, terkadang memang mengesalkan, keseringan ban bocor tidak pada waktu dan tempatnya, sementara tukang tambal ban jam –jam subuh seperti ini belum ada yang buka, meskipun ada jauh dari kontrakanku, bahkan jauh dari kantor tempatku mengambil koran, dengan bahasa sederhana tanpa mengurangi rasa hormatku pada setiaku, terpaksa aku jalan kaki. Bagiku, Aku masih seorang yang setia.

Pelanggan bagiku adalah lapar bagiku, dimana aku harus mengenyangkan laparku itu dengan makanan, koran yang aku maksud, tentunya dengan setia itu. Suatu kali aku lupa kepada Pak Marto, list pelanggan yang biasa aku bawa, tertinggal, lebih tepatnya terselip, entah dimana, Pak Marto dikategorikan pelanggan baru, menurutku maklum jika aku lupa terhadap dirinya.

Hingga keesokan harinya aku harus menyiapkan kata-kata maaf kepada pak Marto, karena kelupaan mengantarkan koran. Rumah pak Marto adalah rute terakhir dalam peta langganan koran, sesampainya di depan rumah Pak Marto, saya siap dimarahin olehnya, namun apa yang terjadi, ia memaafkanku, dan keesokan harinya, pak Marto kembali menjadi objek setiaku.

Suatu ketika, seperti biasa hujan tengah malam belum pamit pagi ini, anginpun masih setia menghembus keras-keras menyongsong fajar, mirip badai, bahkan beberapa pohon tua tumbang, beberapa papan reklame sudah mulai miring, semua orang panik, meskipun harus terbiasa, diawal musim hujan ini. Beberapa tahun terakhir memang sepertinya hujan adalah bencana. Dan tidak jauh berbeda dengan kemarau, kemarau adalah musibah.

Aku dengan sepedaku, bergerak, menerobos gerombolan hujan, yang terkadang terasa seperti jarum, menghujam, tajam, yang terkadang bagaikan gada, memukul mukul raut muka, aku tak peduli, aku adalah orang yang setia, meski ku antarkan semua koran ini kepada pelangganku, yang juga setia.

Akhirnya, tiba juga aku di depan rumah pak marto, Rute terakhirku, meski hujan ini, badai ini, menghalangiku, aku sampai juga untuk bisa mengantarkan koran pesanannya, Namun, tak kusadari, sebuah sedan Merah melaju kencang dan oleng, tiba-tiba menghantam tubuhku yang masih di atas si Moncong, aku terpental dan …..

Advertisements