Kemarin, waktu ada acara halal bihalal Blogger Subang saya diperkenalkan oleh pa Kaka Suminta (Guru dan Senior saya di Blogger Subang) dengan sebuah istilah yang baru buat saya, Hypnosis. Sebelumnya saya memang sudah pernah mendengar  kata hypnosis, tapi dengan “t”, lebih tepatnya Hypnotis, dan saya mengira kedua istilah itu sama, namun ternyata berbeda, menurut beberapa literatur yang saya baca di Internet, Hypnosis adalah ilmunya, atau kegiatan yang berkenaan dengan sugesti ke alam bawah sadar, sedangkan Hypnotis adalah orangnya atau pelakunya.

Kita lebih banyak ditahukan kata Hypnotis oleh sebuah acara televisi, yang dipandu Uya Kuya atau Romi Rafael, Jenisini hanya sebagai hiburan atau stage hypnosis , atau kita lebih sering mendengar berita kejahatan-kejahatan di televisi yang dilakukan oleh Hypnotis, termasuk salah satu contohnya ada beberapa temen saya yang menjadi korban kejahatan Hypnotis, sepeda motor, hape, kamera digital dan beberapa barang berharga miliknya lenyap digondol si Hypnotis.

Adalagi, salah seorang korban (penyalahgunaan) Hypnosis yang pernah saya wawancarai di tahun 2010an, Korban yang merupakan siswi yang mendapat beasiswa ke Jerman di Kabupaten Subang harus merelakan melepas beasiswanya tersebut dikarenakan diculik dengan cara dihipnosisoleh sebuah kelompok misterius, kelompok tersebut membawanya hingga ke Jawa timur sana, beruntung dalam perjalan si korban tersadar, dan melarikan diri, hingga beberapa hari kemudian, akhirnya korban yang perempuan itu, ditemukan oleh keluarganya di Brebes, Jawa Tengah.

Itulah yang kita sering dengar dari istilah Hypnosis dan Hypnotis, tapi sebenarnya bukan sekedar itu, ada sesuatu yang luar biasa tersembunyi dalam Hypnosis, diantaranya adalah penyembuhan yang dilakukan dengan cara menghipnosis, baik oleh orang lain (hypnotis) atau menghipnosis diri sendiri (self-hypnosis). Cara penyembuhan ini dinamakan Hypno-Teraphy.

Bahkan, sekarang  ada pengembangan dari hypnosis yaitu penyelidikan dan penyidikan sebuah kasus yang dilakukan polisi untuk mengungkap sebuah kasus kejahatan, hal ini dilakukan dengan cara menghipnosis saksi mata, pelaku bahkan korban (yang masih hidup tentunya, he), hipnosis jenis ini dinamakan Hypno-Forensic.

Dalam perkenalan dengan hypnosis itu, pa Kaka Suminta (selanjutnya: Papih) mendemokan hypnosis, ilmu yang sekarang sedang diperdalam olehnya. Kami diminta memejamkan mata dan merilekskan tubuh, dengan kedua tangan diangkat kedepan, tangan kiri menghadap ke atas, tangan kanan sebaliknya, kemudan papih dengan kata-kata ajaibnya memasuki alam bawah sadar kami, dalam pengantar (kata-katanya) papih mengilustrasikan bahwa tangan kiri kami sedang mengangkat beban yang berat, sedangkan tangan kanan sebaliknya, terangkat oleh balon yang banyak dan besar, apa yang terjadi? Ajaib!!, setelah kami membuka mata, posisi tangan kiri kami menurun bahkan rasanya seperti abis mengangkat kiloan beban, sangat berat. Kemudian tangan kanan, sebaliknya, terangkat dan terasa ringan.

Kemudian, demo lainnya, Papih meminta kami memejamkan mata, dan papih membawa kami ke alam bawah sadar, memerintahkan mata kami untuk  terpejam, dan seolah-olah tidak bisa membuka mata, apa yang terjadi, Mata saya benar-benar terpejam erat, tidak bisa terbuka, sayapun buta.

Selanjutnya, papih membawa untuk mengendurkan otot syaraf kami,  dan meminta untuk lebih dalam lagi memejamkan mata, pada akhirnya, kami benar-benar rileks, dan lucunya, ada beberapa temen saya yang kebablasan, tertidur. Jujur, itu adalah pengalaman pertama saya dihipnosis. Hingga mata saya buta untuk sementara.

Bagi yang gemar internetan pake Modem, ada kabar lumayan baik nich, kemaren waktu saya pulang kampung, pas mudik lebaran saya merasa kuesel banget dengan salah satu provider internetan yang biasa saya pake, ga ada sinyal, entah kampung indah permai saya yang  terlalu mojok entah si provider  yang males bikin tower karena takut dijadiin tempat jemur pakaian.

Jangankan buat internetan, buat ngucapin selamat lebaran lewat sms sayapun tidak bisa, emang terkadang sms dari temen suka masuk, Cuma kalo pas ngebales, minta ampun deh, your message is not sent. Jadi meskipun ucapan selamat lebaran dari temen-temen numpuk di Inbox, hanya satu yang bisa saya lakukan, Abaikan…

Oke, Prolog setengah promo nya kepanjangan yah??? Sorry,, hehe.

Maksain, saya nyari provider yang bisa internetan di kampung saya, ternyata melihat dari “garis-garis” sinyal di hape bapak saya Telkomsel lumayan penuh, gak banyak nunggu, sayapun ke Gerai Telkomsel yang berada di Pamanukan, dan berniat membeli Kartu Flash, sialnya, kartu internetan tersebut, abis, atau gak ada. Hanya ada penawaran dari si Mas-mas penjaga gerai.

“Ada juga kartu Simpati mas, Cuma kartu ini bisa dijadiin kartu internetan layaknya Flash, ada keunggulan dari kartu ini, kami dari tekomsel, ada promo buat internetan pake kartu Simpati Khusus ini, mengisi satu kali, gratis Internetan selama 3 Bulan” Katanya.

“Wah yang bener mas?” Tanya saya katro.

“Iya, jadi gini mas dengan biaya Rp.55.000,-,,, bla..bla..bla..” si Mas Telkomsel itupun cerita panjang lebar, hingga saya sedikit ngantuk.

“Yo, wis, Jadi” kata saya memotong dari pada keburu tidur di Gerai.

Dengan sebuah gerakan, pencat sana pencet sini di sekitar keypad hapenya si Mas tersebut, dan hanya memerlukan beberapa menit, Jrenggg… jadilah No simpati yang saya beli tersebut, kartu Internetan layaknya Flash dan Gratis 3 Bulan, Katanya, sayapun belum membuktikan pas 3 bulan karena sampai hari ini berarti genap 5 hari. (kalau diitung, sebenernya gratis 2 bulan, karena kan yang sebulannya saya bayar)

Sebenarnya, Promo ini atau hal seperti ini saya juga tidak mengetahuinya berlaku atau tidaknya di gerai-gerai yang lain, dan untuk di Gerai Telkomsel Pamanukan sendiri saya sempet hitung, masih ada sekitar 10 kartu Simpati (Khusus) lagi yang bisa dijadikan Kartu Internetan gratis 3 bulan tersebut, makanya yang minat buruan deh datengin Gerai Setempat siapa tau ada dan masih bisa.

Begito ceritanya.

Salah satu alasan kenapa saya suka menulis adalah saya seorang yang lemah dalam bercerita secara lisan, pernah suatu kali, saya berkumpul bersama beberapa teman, kemudian semuanya saling bercerita, lucu, angker, dan ada juga yang romantis, tis, ala kisah Romeo dan Juliet. Anehnya saya selalu dipas (baca:lewat) untuk bercerita, hingga pada suatu jeda akhirnya salah seorang teman saya nyeletuk, “lho kamu pul, dari tadi belum bercerita?”, sayapun terperanjat, “oh, iya yah, ya udah saya akan cerita”. Maka dimulailah cerita yang sebenarnya sudah saya konsep sedemikan rupa semenjak orang pertama dalam kumpulan tersebut bercerita.

“Bla..bla..bla..” saya bercerita panjang, terkadang saya tertawa, anehnya, kok sepertinya saya tertawa sendiri, meskipun ada, kayaknya sebagai penghormatan aja, hingga pada endingnya, saya bercerita dengan semangat dan diakhiri dengan tawa terbahak-bahak. Inilah detik yang saya tunggu, menunggu teman-teman saya juga pada tertawa mendengar kisah yang saya berikan, namun apa yang terjadi, jarak, ya berjarak sekitar kurang lebih 1 menit baru mereka tertawa, itupun hanya 3 kali ha. Ha..ha..ha.. –terbayangkan- ternyata cerita yang saya suguhkan, dengan konsep sedemikian rupa, kemudian dengan semangat menggebu-gebu, hanya mendapatkan H+3, (ha..ha..ha) alias garing.

Dari situlah, saya tau bahwa saya adalah salah seorang yang lemah menggunakan komunikasi secara lisan, tapi, saya pantang menyerah, saya belajar komunikasi secara lisan secara terus menerus dari mulai menyapa hingga ke lelucon bahkan lomba dongengpun saya ikuti.

Sepanjang perjalanan saya belajar bercerita secara lisan (maksud: komunikasi lisan), saya juga tidak sengaja belajar menulis, kata beberapa sastrawan dan penulis terkenal bahwa menulis itu asik. Bahkan ada istilah “Orang pandai berbicara belum tentu pandai menulis, tapi orang yang pandai menulis akan otomatis dia pandai berbicara”.

Diawali puisi. Pada waktu itu ada lomba penulisan puisi di Ma’had (pondok pesantren), tapi hanya sebatas tingkat shof (kelas), jadi saya bersaing dengan sekitar (gak banyak) 400an santri yang satu shof dengan saya, saya ikutan lomba tersebut, lebih tepatnya iseng, namun ternyata saya masuk nominasi dan menang, hadiahnya dapat buku-buku sastra, kayak cerpen, antologi puisi dan majalah gratis serta bonus Photo saya berpose kaku nampang di Majalah Santri. (Lumayan, dikenal santriwati). Sampai disitu, sebenarnya saya belum yakin kalau menulis itu asik.

Dikemudian hari, saya juga menulis beberapa cerita, tapi pada dasarnya saya males eksist sehingga cerita-cerita tersebut tidak mau saya keluarkan (ekspose), dan hanya sebatas penghuni diary dekil (waktu itu belom ngarti blog), namun ternyata berawal dari keisengan beberapa temen saya, diary tersebut sengaja dibaca oleh temen-temen kemudian dikomentari dengan dingin, “tulisan kamu bagus”, Hah, apa? Diary saya dibaca orang, padahal saya layaknya menelanjangi diri saya dalam diary tersebut, dengan sedikit malu dicampur marah terpendam saya bilang “makasih”.

Ketertarikan temen saya akan tulisan-tulisan saya pun berlanjut, saya diajak untuk ikut mengisi majalah dinding MAPENA (komunitas saya bersama temen-temen), sayapun semangat, dan selalu nyumbangin dan nampang asik di Mading tersebut. Hingga saya rampung nyantri.

Tidak jauh berbeda sewaktu saya di Ma’had, masa awal-awal kuliahpun saya masih suka nulis, walaupun sebatas up-date status (masa-masa Friendster dan Awal Facebook), puisi, ceritapun sering saya buat. Pernah juga saya menyimpang sedikit akan pola tulisan saya, yang tadinya saya bercerita dan mencoba belajar bersastra tiba-tiba saya harus menulis berdasarkan fakta, ya, saya harus menulis berita, karena pada saat itu saya menjadi wartawan di salah satu media lokal. Dan itupun saya sering menulis feature, bahkan kadang-kadang saya harus dimarahi redaktur dengan gaya penulisan berita saya yang mirip-mirip Opini –ya, katanya berita saya adalah cerita fiksi saya- haha.

Yang jelas, menurut saya menulis itu asyik, bercerita itu memuaskan, saya selalu ingin cerita saya dibaca orang, walaupun kadang tulisan atau cerita saya ada (bahkan banyak) yang sulit dimengerti, saya merasa puas ketika opini saya terbit di media cetak, saya merasa bangga ketika tulisan saya ada yang membaca dan terkomentari, entah, saya juga belum mengetahui wujud dari kepuasan saya tersebut, dan saya hanya merasakan (katanya) kepuasan bathin, sehingga saya baru mengerti apa makna dari kata “menulis itu asyik”.

 

 

 

Berbeda

15 August 2012

Tak seperti angin, aku hanya terdiam, tidak sedikitpun berbisik, tak seperti hujan, aku sendirian tak berteman, tak seperti sungai yang terus mengalir dan mengalir, menyambangi semua yang terlewati, apapun itu, sedangkan aku, kebingungan. Entahlah aku tidak mirip dengan siapapun, tidak ada kesamaan didunia ini yang aku temui dengan wajahku, terlebih ketika aku bercermin, tak ada satupun, bahkan diriku dalam cermin, berbeda.

Kata orang, aku lebih mirip ayahku, dari hidung, kenyataannya tidak demikian, mungkin saja orang itu bercanda, nyatanya setelah aku perhatikan hidung ayahku mancung seperti bule yang sering aku lihat di layar televisi, sedangkan aku, sebaliknya, bahkan seandainya dalam ilmu alam ada istilah lebih dari 360 derajat, perbedaan hidung antara aku dan ayah adalah 500 derajat, ya, pasti orang itu bercanda. Bahkan saking peseknya hidungku, setiap kali kehujanan aku selalu menutupi hidungku, acapkali air hujan itu masuk hidungku, membuat aku flu.

Sekilas aku memperhatikan wajah ibuku, iya, aku menemukannya, mataku, mataku ada pada mata ibu, apalagi ketika ibuku melirik aku, lirikannya hampir, sekali lagi, hampir mirip aku, nah, mungkin ini yang bisa aku banggakan kepada orang-orang, ternyata aku sama seperti mereka, aku manusia, aku makhluk tuhan, aku juga punya hak yang sama seperti mereka. Dicintai dan mencintai, mendapatkan kedamaian. Dan yang paling aku inginkan, tidak ada diskriminasi.

Suatu saat, aku bercanda dengan ibuku, harapan untuk kemiripanku dengannya kembali lenyap, ketika saja aku melihatnya tertawa, matanya sangat berbeda, matanya tetap indah ketika ia tertawa, bening, bulat dan menyejukan, beribu kedamaian datang yang terpancar darinya, sedangkan aku, aku selalu saja merem ketika aku tertawa, mataku hampir menghilang ditelan kedua kelopak mataku. Aku berbeda dengan ibu.

***

“Tut, kamu sebaiknya belajar di luar, bawa buku-buku kamu sekalian!” Perintah Bu Guru kepadaku.

“Baik bu”. Aku bergegas seperti biasa.

“Jangan lupa, meja sama kursimu”. Bu Guru itu mengingatkanku.

Sebenarnya, aku selalu memaksakan diri, agar aku sama dengan teman-temanku, duduk dalam kelas, belajar dengan layak, bertanya sama bu guru, mengacungkan tanganku ketika ada lontaran pertanyaan, dan saling menyontek ketika ulangan akhir semester, nyatanya aku tetap tidak bisa.

Semenjak masuk sekolah, aku didudukan diluar kelas, aku selalu memperhatikan penjelasan dari guru dengan harus terhalang kaca jendela, aku tak pernah ditanya, bahkan aku tidak diberi kesempatan bertanya, menjawab pertanyaan gurupun aku tidak diperkenankan, meskipun aku sebenarnya mengetahui jawabannya, aku bingung, meskipun aku belum pernah menanyakan perihal ini, bu guru sering mengatakannya, alasan aku dibedakan dengan teman yang lainnya sangat sederhana, ya, aku berbeda.

Sampai pada suatu hari, ibu guru menjelaskan tentang Bhineka Tunggal Ika, nah, inilah pelajaran yang paling aku tunggu, karena sebelumnya aku sudah membaca pelajaran ini berkali-kali, dengan berbagai referensi, aku sudah menghafalnya diluar kepala, dan aku sudah diskusikan ini semua dengan para ahli, tentunya para ahli yang berasal dari duniaku, dunia yang berbeda dengan dunia mereka, yang berada dalam kelas. Aku menunggunya, menunggu penjelasan dari bu Guru.

Yang aku ketahui tentang Bhineka Tunggal Ika, adalah semboyan negara Indonesia, yang artinya meskipun kita beragam dalam berbagai hal, seperti suku bangsa, bahasa, budaya, warna kulit, agama dan lain-lain, kita adalah satu kesatuan, kita adalah saudara, kita adalah setanah air, jadi, sangat disayangkan jika sesama saudara kita sebangsa dan setanah air kita saling bertengkar saling mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan sehingga menuai keributan, bahkan hingga terjadi pertumpahan darah.

Kejadian seperti itu banyak sekali aku saksikan, di layar kaca, di koran-koran ataupun di media on-line, saling membunuh antar suku, saling menyerang karena beda agama, saling menyerang antar ras dan golongan, bahkan yang sangat disesali, sekarang ini terjadi keributan dan pertengkaran sesama bangsa indonesia yang ditengarai dengan kedok politik, saling menyerang antar partai politik, menjatuhkan, memfitnah, dan lain sebagainya, mereka kebanyakan hanya mendahulukan  kepentingan golongan mereka, dimana letak kesatuan bangsa kita? dimana letak persatuan bangsa? Meskipun aku dikatakan berbeda, tapi aku menginginkan perbedaan itu menjadi indah, perbedaan itu menjadikan lahirnya keadilan. Perbedaan itu menjadikan kita saling melengkapi satu sama lain, itulah Bhineka Tunggal Ika yang aku pahami. Meskipun berbeda, kita adalah saudara.

***

“Jadi Bhineka Tunggal Ika itu, artinya meskipun kita berbeda-beda suku, berbeda-beda bahasa, berbeda-beda warna kulit, kita tetap satu… ?“

“Juaaa….” teriak semua yang berada dalam kelas, bersamaan.

“Sekarang ada yang mau bertanya?” Kata Bu Guru sambil membenahi buku-bukunya.

Kelas terdiam, beberapa saat, tidak satupun bersuara, hanya lirikan sesama mereka, lirikan saling menyuruh, saling mengandalkan, lirikan kebingungan, lirikan kosong, inilah kesempatanku untuk bertanya, bertanya tentang alasan mereka memperlakukanku secara berbeda. Aku mengetuk-ngetuk jendela, dan mengangkat tanganku, semua yang ada dalam kelas itu melihatku, menunggu pertanyaan yang akan aku lontarkan, namun,

“Ya, sudah jika tidak ada yang bertanya, ibu akhiri pelajaran hari ini” Ucap ibu guru seolah tak melihatku.

“Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku harus bertanya”

Aku, mengetuk jendela lebih keras, lebih keras, dan lebih keras. Tak seorangpun menghiraukan, aku berlari ke arah pintu, dan memaksa masuk.

“Aku mau bertanya” teriak ku di depan mereka, tapi tak ada satupun mendengarku, semuanya merapihkan buku, meluruskan meja, saling bercanda, kemudian bersiap-siap membaca doa.

“Tidak kah kalian dengar,,, aku mau bertanya”

“Aku mau bertanya, aku mau bertanya, aku mau bertanya…!!!” teriak ku memaksa.

“Baiklah, anak-anak ku, ternyata teman kalian ada yang memaksa ingin bertanya, apa kalian bersedia?” Nampaknya aku akan diberi kesempatan, aku tersenyum, dalam hati.

“Tidaaakk” Teman-temanku serempak.

Ya tuhan, setega inikah mereka terhadapku, aku adalah bagian dari mereka, meskipun  absenku urutan terakhir, tapi aku berada disana, meskipun sebenarnya masih ada urutan alphabet setelah namaku seperti, Tatang, Tuti, Udin, Yayuk dan Zuhdi, karena namaku Smelekatut, yang penting aku telah hadir di Sekolah ini, di Kelas ini, aku menginginkan pengakuan mereka tentang keberadaanku.

“Sebentar, , ,” Kataku, semua terdiam.

“Demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, demi Tuhan yang menciptakan kalian dan diriku, demi tuhan yang menciptakan keindahan melalui perbedaan bentuk, demi tuhan yang menciptakan, . . .” aku mulai meneteskan air mata.

“Yang menciptakan aku yang berbeda dengan kalian, aku mohon, berikan alasan yang tepat kenapa kalian memperlakukan diriku berbeda, kenapa aku tidak diizinkan duduk bersama kalian, mendapatkan hak dan kewajiban layaknya murid sekolah ini? Mengapa aku tidak diperkenankan untuk bertanya, ditanya dan menjawab pertanyaan?, sedangkan diriku sama seperti kalian, aku punya telinga, aku punya hidung, aku punya mulut, aku tidak cacat, dan barusan kita sudah mempelajari tentang Bhineka tunggal Ika, tahukah kalian, kita itu satu, kita adalah sesama manusia, sesama makhluk tuhan, dan sesama manusia Indonesia”

Semua terdiam, hening, tak ada sedikitpun gerakan, patung, yah, mereka seakan menjadi patung, terdiam membisu.

“Kenapa…?”

“Kenapa…?”

“Kenapa…?” Teriakku. Semua masih terdiam.

“Baiklah, ibu akan menjawabnya, mungkin jawaban ibu akan sama seperti teman-teman mu Smelekatut”

Kali ini aku terdiam.

“Alasannya sangat sederhana sekali, kamu adalah berbeda, kamu adalah perbedaan”

Bersama Puisi Handphone, Ibu dan Facebook diikutkan Lomba di Penerbit Tigamaha, tapi kurang beruntung. hehe

Setia

14 August 2012

Namaku Rio, nama yang cukup elit bagiku, tapi aku sebenarnya tak menghendaki nama itu, terlalu elit, dan boleh dikata sangat elit dan diembel-embeli banget bagi seorang anak desa sepertiku, kebanyakan orang yang mengenal aku di dunia maya, dengan nama Rio, orang tersebut akan membandingkan aku dengan si Modis Rio Ferdinand sang pemain belakang Club Sepak bola dari Inggris itu, atau se romantis Rio Febrian sang penyanyi, atau seperti temen satu kampusku Rio Anggara, yang menjadi pujaan banyak wanita.

Anehnya, aku dianugrahi nama Rio aja, Rio doang, ataupun Rio tanpa kepanjangan, padahal juga aku selalu ingin nama yang panjang, layaknya beberapa temanku di fesbuk, andisicakepdanbaikhati, atau  reniclaluchayankkamufolefel atau Ryanclaluadadisisimuelaelong, tidak sepertiku, yang hanya berani mencantumkan nama Rio di semua akun jejaring sosial.

Tidak banyak nama sepertiku yang terdiri dari 3 huruf, meskipun ada itu hanya nama panggilan, tidak banyak orang yang aneh sepertiku, walaupun ada, hanya segelintir orang, tidak ada orang yang sebodoh diriku, walaupun ada, itu lebih bodoh dariku beberapa derajat, yang jelas aku adalah orang yang jujur dan setia, itu cukup bagiku.

Setia? Apa maksudku, setia yang ku maksud hanya ada dalam definisiku, definisi privasi. Setia kumaksud itu hanya ada dalam dimensiku, dimensi kebodohan dan keanehanku. Dan tak ada seorangpun yang bisa aku fahamkan makna yang tersembunyi dalam setiaku itu, meski aku jelaskan dengan terminologi sederhana, meski hanya dengan tutur kata sehari-hari tak jua seorangpun faham, jangan-jangan termasuk aku. Pernah suatu kali aku membaca sebuah karya Arswendo Atmowiloto, katanya “Bahwa sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak.”, mungkin definisi ini yang hampir menyamai dengan definisiku, meski pada akhirnya berbeda.

Aku seorang pemuas, aku seorang deliveri handal, aku seorang yang setia pada waktu, aku orang yang setia pada si Moncong, sepeda bututku, tidak lebih, aku hanya seorang mahasiswa yang nyambi jadi loper koran, pemuas khasanah pengetahuan pelanggan-pelangganku hanya dengan mengantarkan koran tiap pagi, tiap hari, mengayuh sepeda, sejauh alamat pelanggan. Ketepatan waktu bagiku adalah setia dalam dimensiku, terserah semua orang, setuju ataupun tidak dengan pendapatku. Yang jelas aku adalah orang yang setia.

Pernah suatu pagi, hujan beserta angin mengerutkan dunia, hujan bulan September memang sering mendapat perhatian banyak orang, kadang disertai badai atau kurang lebih angin topan, terkadang membuat aku parno dan tak berniat mengeluarkan si Moncong, untuk mengantarkan koran. Tapi aku yakin, setiaku tidak memaksa, ia mengalir dalam nadiku, ia menghipnotis gerakku, ia membakar geloraku, untuk kembali memuaskan pelanggan koranku. Ya aku adalah orang yang setia.

Terpaksa jalan kaki, dan meninggalkan si Moncong, inilah momen yang paling aku pertanyakan akan setiaku, sepeda lusuh rapuh satu-satunya yang aku miliki, terkadang memang mengesalkan, keseringan ban bocor tidak pada waktu dan tempatnya, sementara tukang tambal ban jam –jam subuh seperti ini belum ada yang buka, meskipun ada jauh dari kontrakanku, bahkan jauh dari kantor tempatku mengambil koran, dengan bahasa sederhana tanpa mengurangi rasa hormatku pada setiaku, terpaksa aku jalan kaki. Bagiku, Aku masih seorang yang setia.

Pelanggan bagiku adalah lapar bagiku, dimana aku harus mengenyangkan laparku itu dengan makanan, koran yang aku maksud, tentunya dengan setia itu. Suatu kali aku lupa kepada Pak Marto, list pelanggan yang biasa aku bawa, tertinggal, lebih tepatnya terselip, entah dimana, Pak Marto dikategorikan pelanggan baru, menurutku maklum jika aku lupa terhadap dirinya.

Hingga keesokan harinya aku harus menyiapkan kata-kata maaf kepada pak Marto, karena kelupaan mengantarkan koran. Rumah pak Marto adalah rute terakhir dalam peta langganan koran, sesampainya di depan rumah Pak Marto, saya siap dimarahin olehnya, namun apa yang terjadi, ia memaafkanku, dan keesokan harinya, pak Marto kembali menjadi objek setiaku.

Suatu ketika, seperti biasa hujan tengah malam belum pamit pagi ini, anginpun masih setia menghembus keras-keras menyongsong fajar, mirip badai, bahkan beberapa pohon tua tumbang, beberapa papan reklame sudah mulai miring, semua orang panik, meskipun harus terbiasa, diawal musim hujan ini. Beberapa tahun terakhir memang sepertinya hujan adalah bencana. Dan tidak jauh berbeda dengan kemarau, kemarau adalah musibah.

Aku dengan sepedaku, bergerak, menerobos gerombolan hujan, yang terkadang terasa seperti jarum, menghujam, tajam, yang terkadang bagaikan gada, memukul mukul raut muka, aku tak peduli, aku adalah orang yang setia, meski ku antarkan semua koran ini kepada pelangganku, yang juga setia.

Akhirnya, tiba juga aku di depan rumah pak marto, Rute terakhirku, meski hujan ini, badai ini, menghalangiku, aku sampai juga untuk bisa mengantarkan koran pesanannya, Namun, tak kusadari, sebuah sedan Merah melaju kencang dan oleng, tiba-tiba menghantam tubuhku yang masih di atas si Moncong, aku terpental dan …..