Saya terlahir hidup selalu berkelompok, sejak sebelum memasuki dunia pendidikan saya sudah mempunyai kelompok (inget bukan genk), bergabung dengan sekolompok anak dibawah usia 7 tahun dan mendirikan sebuah klub sepakbola dengan nama Terusan Klub, dinamai terusan klub, karena pada waktu itu kebanyakan anak-anak dari desa tetangga, Mayangan tepatnya di gang terusan. Melakukan berbagai pertandingan persahabatan, dan berkali-kali menjuarai lomba 17 Agustusan, klub ini terus solid hingga akhirnya saya memasuki Sekolah Dasar.

Di awal saya sekolah dasar pun saya sudah membuat dan bergabung dengan kelompok lain, jujur pada waktu itu saya hanya bisa bergaul dengan anak-anak sebaya saya, dan saya tidak bisa bergaul dengan orang yang usianya lebih dewasa dari saya, hal ini juga mengakibatkan saya tidak seperti teman-teman saya yang lain yang bisa masuk juga dikalangan orang dewasa. Karena saya berfikiran kalau kita bergaul dengan orang dewasa fikiran kita akan cepet dewasa pula, sedangkan saya tidak akan menyianyiakan masa kecil indah saya dengan cepat ketika saya sering bergaul dengan orang dewasa.

Selepas SD pun demikian, mendirikan sebuah kelompok, dan selalu menjadi kelompok yang disoroti oleh anak-anak lain di MTS (SLTP), hingga pernah juga kelompok saya dihukum karena melanggar peraturan sekolah.

Di TMI Al-Amin, tidak jauh dengan sebelumnya, saya bersama teman-teman saya di kelas akhir, saya mendirikan MAPENA (Manusia Penikmat Alam), sekilas dari nama tersebut layaknya sebuah kelompok Pencita Alam, namun sebenarnya bukan, Wong manjat pohon aja kita ga bisa, hehe.

Secara historis Mapena kami dirikan atas dasar persaingan populeritas, pada waktu itu sedang marak-maraknya santri membuat kelompok Pecinta Alam, PA. Pangeran Biru, MAPALA, SANTPALA dan pala-pala lainnya, kami dari kaum minoritas-karena mungkin kalah popularitas, meskipun kami santri-santri berbakat harus gigit jari ketika melihat pertunjukan Para PA tersebut unjuk kebolehan dengan memanjat replika tebing pada suatu event perayaan tertentu, sorak sorai para santriwati itulah menjadi motivasi kami, haha.

Selepas melihat kejadian itu, digawangi Affani santri yang seharusnya senior saya itu -akan tetapi tidak naik kelas  hingga menjadi satu angkatan- yang berkolaborasi dengan 2 santri lainnya termasuk saya segera berinisiatif, mendirikan MAPENA (Manusia Penikmat Alam), program kerjanya, memberdayakan buah-buahan yang berada dilingkungan Pesantren, dengan dalih daripada dimakan hewan malam, buah-buahan itu kami panen (meskipun itu melanggar karena dianggap mencuri) dan kami bagikan secara sembunyi-sembunyi kepada tiap asrama, memperbaiki taman-taman asrama putra dengan mencuri bunga-bunga di asrama putri, dengan dalih di asrama putri itu kelebihan bunga, mengoperasi santri pelit yang kaya dengan menggeledah makannya kemudian membagikannya, dan program- lainnya yang positif yang akan saya ceritakan di coretan lain yang membuat MAPENA lebih populer dari PA bahkan para Ustadz.

Kebiasan berkelompok itu ternyata saya lanjutkan hingga memasuki kuliah, diawal saya bergabung dengan kelompok diskusi Fakultas Pertanian dan Fakultas Komputer yang dikawal oleh salah seorang Dosen favorit saya, Rahmayudi. Namun kelompok itu tidak berlanjut, hingga saya masuk ke organisasi Eksternal Kampus HMI, sayapun berkelompok, sebelumnya juga di Fakultas Pertanian Pa Teguh Dosen Statistik mendirikan Himpro Agrorektan, namun demikian tidak berlanjut dikarenakan Pa Teguh ditentang oleh orang fakultas, di HMI, saya juga berkelompok hingga akhir periode jabatan di HMI Cabang Subang saya bersama temen-temen yang satu ide satu pemikiran mendirikan Rutin Managemen, hingga sempat membesar dan akhirnya kolaps setelah ditinggalkan beberapa pengurus, meskipun saya mempertahankan Rutin ternyata, cukup berat, dikarenakan memang sulit menyatukan persepsi ditengah kesibukan masing-masing, hingga pada suatu saat saya berfikir, setelah sekian lama saya selalu hidup berkelompok, sepertinya saya perlu berkontemplasi, perlu menyendiri, merenungi hidup, dengan mandiri tanpa menyusahkan orang lain, yaitu hidup sendiri.

Advertisements