Dulu, sewaktu saya masih kecil, saya cukup manja, ya walaupun manja, tapi manjanya orang kampung, mungkin kalau jaman sekarang saya masih kecil, manja saya itu bisa dibilang manja kamseupay (kampungan sekali, payah). Berhubung jaman jadul, untung saja saya ga dibilang kamseupay.

Pernah suatu saat saya merengek sama bapak saya (dulu kalau gak salah masih menjadi pegawai Desa) meminta sepeda, berhubung bapak saya belum mempunyai uang cukup, bapak belum bisa membelikan saya sepeda, dan pada akhirnya sayapun ngambek, sering ga makan, mengurung diri di kamar, dan marah-marah, layak anak manja pada umumnya.

Berhari-hari perbuatan bodoh itu saya lakukan, bahkan bertambah parah, saya tidak berkomunikasi dengan baik sama bapak, kemudian saya sering bolos ngaji dan dengan sengaja pulang menjelang maghrib, hingga suatu saat, ketika saya pulang dari lapang sepak bola, saya sengaja memperlambat diri pulang ke rumah, dan duduk-duduk di galengan (pematang) tambak, sampai terdengar suara adzan maghrib, dari kejauahan bapak memanggil manggil saya.

“Jang (panggilan ke anak, sunda) ayo pulang,,, sini bapak punya sesuatu” teriaknya.

Terdengar sayup, suara bapak, dan saya berharap sesuatu yang di sebutkan oleh bapak adalah sepeda, tapi, ternyata bukan, sepasang burung dalam sangkar yang bapak perlihatkan dari kejauhan, sejenak saya kecewa, namun akhirnya, saya tertarik juga untuk melihatnya.

“Ayo sini, bapak beli ini di pasar” teriaknya kembali.

Pada akhirnya saya mendekati bapak, oh, sepasang burung dara, tapi saya masih cemberut walaupun saya terbujuk oleh bapak agar pulang ke rumah, kemudian bapak pun menceritakan bagaimana dia mendapakan burung dara tersebut, sampai bercerita cara merawatnya juga.

Ngambek saya belum berakhir, masih sering memperlambat makan dan mengurung diri di kamar, tapi saya penasaran dengan usaha bapak untuk segera berbaikan dengan saya, pagi-pagi dia memanggil saya, terlihat dia sedang memberikan makanan sepasang burung itu, kemudian ia membuat sangkar dengan bentuk rumah-rumahan, lucu, pernah juga suatu saat tiba-tiba ia bercerita kepada saya yang sedang duduk di beranda rumah, tentang keadaan burung-burung itu. Sampai akhirnya saya bener-bener tertarik, dan mencoba berinteraksi dengan burung-burung tersebut, dan cukup menarik, memberi makan mereka, melihatnya terbang, dan akhirnya kembali lagi ke kandang dan tingkah laku lainnya, semua itu cukup menghibur saya, hingga saya pun lupa keinginan saya sebenarnya pada saat itu, membeli sepeda.

Sampai akhirnya saya bisa membeli sepeda setelah saya khitan, karena pada saat itu saya punya uang pemberian orang hingga cukup untuk membeli sepeda. Kemudian bapak berbisik pada saya,

“Sekarang kamu boleh menjual burung-burung itu” sambil tersenyum. Sayapun tersenyum, dan tidak, saya tidak mempunyai niatan untuk menjualnya. Bapakpun sebenarnya berharap seperti itu, berharap saya tetep merawat mereka yang hingga saat itu berjumlah 8 pasang burung dara.

Advertisements