Fira termenung, ketika ia memandang lembayung senja yang menggaris membelah sebagian langit, sore itu begitu cerah, tidak seperti biasanya, kabut hanya menyelimuti tipis kaki bukit Papandayan, sesaat kemudian terlintas bayangan Afandi, kekasih hatinya, tunangannya, air matanya pun tak terbendung, Fira terisak, butir air mata menetes dipipinya yang merah.

“haha, kamu ini ada-ada saja, massa mas mu ini disuruh bawa onta, itu bukan romantis tapi menyiksa” ujar Afandi lewat telepon seluler.

“Abis aku bosen mas, naik sepeda onthel, katanya mau yang romantis sekalian aja pake onta, nah mas yang beli tuh di Mekah” jawab Fira sambil cemberut.

Meskipun jarak mereka berjauhan tapi seakan mereka memahami ekspresi wajah diantara mereka.

“Yo wis, aku mau isti’dzan (mohon izin) pulang ke Ustad Abu bakar di kediamannya di Madinah, setelah itu aku mau berkemas, besok aku sudah berangkat dari Jeddah, kamu istirahat gih, besok kan katanya mau nemenin ummi belanja ke pasar” kata Fandi.

“ya mas mangga (silahkan, sunda)” jawab Fira.

“Assalamualaikum”

“wa’alaikum salam”.

Kata-kata itu seakan masih melekat ditelinga Fira, selalu membayang dibenaknya, canda terakhir lewat telepon sebelum akhirnya pesawat boing 7774R yang ditumpangi Afandi mengalami kerusakan mesin dan gagal mendarat darurat di Kuala Lumpur, terdengar kabar tidak ada korban dalam gagal landing tersebut namun semua penumpang terbengkalai di Malaysia hingga akhirnya Fira menyadari bahwa Afandi tidak ada kabar, handphonenya tidak bisa dihubungi, dan semenjak itu pula Afandi hilang.

Fira masih terbaring di sofa di beranda rumahnya, pandangannya kosong, hatinya masih melayang membayangkan Afandi, senyumnya, candanya, segalanya dan apapun kenangan yang pernah diarungi bersama Afandi kembali terkenang, meskipun sebenarnya lelah, ia tetap terhadap keyakinannya, suatu saat Afandi akan datang, menjawab semua impian yang pernah mereka berdua rajut, tak terasa iapun terlelap, tidur dengan senyuman hampa.

***

“Apa mi??? Kenapa Ummi ga bilang dulu sama aku?” jawab Fira setengah kaget, setelah mendengar kabar dari Umminya bahwa dirinya dilamar oleh Ustadz Arif.

“Lho kan Ummi juga belum menerimanya neng, Ummi dan Abimu belum bisa menentukan jawabannya sebelum kamu sendiri yang menentukan” jelas Ummi.

“Oh, Syukurlah ummi, masalahnya aku kan masih dalam khitbah (lamarannya) nya mas Afandi, aku masih berharap mas Fandi datang” kata Fira.

“Ya ummi juga mengerti neng, tapi hingga sekarang mas Fandi-mu belum ada kabar, bisa saja kan dia. . . .” Ummi nya tidak meneruskan kata-katanya, ketika saja menatap wajah putri semata wayangnya berbinar. Kemudian Ummi memeluk Fira, keduanya larut dalam kesedihan.

“Maafkan Ummi, neng! sudahlah, mungkin ini sudah jalan yang ditentukan Allah” Ibu itu mengelus pundak anak perawannya tersayang.

***

Arif Muhammad, seorang ustadz di desa Cimuncang, tidak ada catatan buruk dalam hidup bermasyarakatnya, baik, alim, sopan, dan hmm, lumayan ganteng, apalagi katanya  banyak para gadis yang suka sama dia, tapi ternyata hati Fira masih belum bisa memaksakan untuk menerima lamaran Ustadz Arif, hingga kini lamarannya masih ditangguhkan, namun ia menyadari, semuanya tidak bisa didiamkan begitu saja, ia harus memilih, menerimanya atau menolak, ia juga menyadari bahwa menunggu adalah hal yang membosankan, dan menjenuhkan, ia sadar betul apa yang dirasakan Ustadz Arif.

“Istikhoroh neng, mungkin itu bisa membantu” Saran Umminya.

“Iya mi, sudah Neng jalanin, belum ada petunjuk mi” terang Fira.

“Ya sabar aja, nanti juga pasti ada petunjuk dari Allah” sambung Umminya.

***

Sebulan berlalu,

“”Ummi,,, Surat undangan yang buat temen-temen Fira disebelah mana?” tanya Fira pada Umminya yang sedang di dapur.

“Mungkin di kamar neng” jawab Ummi,

Firapun bergegas ke kamarnya dan segera merapihkan surat undangan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, pasca penerimaan lamarannya ia bener-bener sibuk mempersiapkan hari pernikahannya.

Ia masih menyimpan Foto Afandi yang dibingkai, diatas meja, ia bergumam.

“Akhirnya, aku memutuskan untuk menerima lamaran Udstaz Arif mas” sambil membayangkan wajah Afandi.

“Maafkan aku mas”  . . .

Hari yang dinantikan pun akan tiba, besok pernikahan Fira Mariana akan segera dilangsungkan, rumah Fira sudah dipenuhi oleh kerabat-kerabat jauhnya, hari ini dia akan sowan ke rumah kakeknya di Bandung, Fira berangkat ditemani Irna, ternyata dalam hatinya masih membayangkan dan mengharapkan Afandi, selama perjalanan ia melamun, hingga pada akhirnya ia tak menyadari mobil yang disetirnya oleng dan,,,,

“Gubrakkk” Fira menyerempet sepeda motor yang berlawanan arah.

“ya Allah, apa yang terjadi” Fira terkejut, wajahnya pucat pasi.

“Fira kamu tidak apa-apa?” tanya Irna pada Fira.

“Tidak Na,, Aku menabrak seseorang, coba kamu lihat keluar, apa dia baik-baik saja?” Pinta Fira. Irna pun keluar untuk memastikan keadaan lelaki itu.

Lelaki yang ditabrak mobil Fira, terpental beberapa langkah, sepertinya orang tersebut tidak mengalami luka yang parah, terlihat orang tersebut bangkit. Dan menatap ke Fira yang masih didalam mobilnya.

Fira pun keluar dari mobilnya,

“mas ga apa-apa?” tanya Fira, tapi sesaat kemudian ia terkejut,,,

“Ya Allah, Mas Afandi???”

Di End. . . .

Advertisements