Aku masih dengan laptopku, hari sudah senja, kafe Insani yang berada dilingkungan kampus sudah mulai sepi, mungkin beberapa menit lagi adzan maghrib, sebenarnya skripsiku rampung beberapa lembar lagi, tinggal memasukan data, dan semua data sudah ku olah. Aku masih dengan laptopku, dan haripun semakin senja, ah, biarlah, sekalian menunggu adzan maghrib, kebetulan masjid di kampus lagi ramai, anak-anak rohis lagi ngadain acara, mungkin ba’da maghrib aku bisa berdiskusi dengan mereka tentang agama. Sehingga aku memilih tidak pulang ke rumah.

Betul perkiraanku, adzan maghrib berkumandang, aku segera berkemas, membayar bon di kasir, dan bergegas ke tempat wudhu, sesaat kemudian aku bersama jamaah yang lain terlarut dalam kekhusyuan shalat maghrib.

“Menikah itu, sunnah, dan bahkan bisa menjadi hal yang wajib,” Jelas ustadz Irfan, beliau merupakan pembimbing anak-anak rohis sekaligus dosen agama, kami sering bertukar fikiran tentang agama, dan entah dimulai dari mana beliau tiba-tiba membahas pernikahan.

Katanya, mungkin saja nikah itu menjadi wajib hukumnya bagiku, usiaku sudah menginjak 30 tahun, dari segi materi insya allah cukup mapan, orangtua di kampung sudah udzur dan menuntut aku segera menikah, ditambah dengan pekerjaanku yang baru sebagai aktifis keluarga berencana.

“Bagaimana kamu bisa menerangkan tentang berhubungan suami istri yang baik secara islam kepada klien, sedangkan kamu sendiri belum menikah?,” ungkapnya sambil tersenyum.

Benar juga kata-katanya, mungkin salah satu alasan yang membuat aku belum menikah adalah wisuda, aku berencana akan menikah setelah usai S1, maklumlah, saking sibuknya diluaran kampus, nyambi bisnis kecil-kecilan dan menjadi aktifis diberbagai kegiatan sosial hampir menjadikan aku mahasiswa abadi, dan di tahun ke-8 ini aku sudah memutuskan untuk menyelesaikannya.

Antara menikah dan melanjutkan studi sebenarnya tidaklah menjadi masalah, keduanya akan aku tempuh, selepas S1, beasiswa S2 diberbagai perguruan tinggi sudah didepan mata, tinggal memilih diluar atau di dalam negeri, sedangkan menikah, aku tersenyum, ternyata aku belum menemukan calon istri yang tepat, entahlah, dan tak terbayangkan sebelumnya, namun aku yakin, aku sudah mampu, dan mungkin benar apa yang dikatakan sang ustad, aku wajib menikah.

Sebenarnya ada beberapa wanita yang sedang dekat denganku, dan bisa saja sewaktu-waktu aku meminta salah seorang dari mereka untuk menikah denganku, aku yakin yang aku pilih tak akan menolak. misalkan saja Nisa, dari pertamakali kuliah aku dekat dengan dia, sahabatku yang satu ini memang manis, cantik, namun sayang sekali ia tak berjilbab, sedangkan aku menginginkan wanita yang berjilbab. Satu saat nanti jika memang dia pilihanku yang pertamakali aku lakukan adalah memintanya untuk memakai jilbab.

Iis, masih sepupuku, ia seorang bidan, meski mungil tapi dia cantik, mungkin kalau aku boleh membandingkan dengan artis masa kini Iis mirip Ayu ting-ting, haha. Namun yang aku kagumi darinya selain pintar dia tak pernah melepaskan jilbabnya, dan satu hal lagi, ayahnya orang tajir, dan mungkin itu satu-satunya alasan aku minder sama dia, tapi aku yakin dia pasti menerimaku jika aku meminangnya.

Mbak Ria, semenjak aku punya rumah di kota, aku punya tetangga baru, kebetulan dia sendiri, wajahnya keibuan, usianya mungkin 1 tahun lebih tua dariku, namun sungguh demikan sepertinya aku suka sama dia, haha. Sedikit aneh memang seleraku, kami mulai akrab karena aku sering minta diajarin masak olehnya, dan masakannya itu juga yang membuat aku tertarik.Tapi pada dasarnya siapapun jodohku kelak, aku berharap adalah istri yang sholehah, seperti yang disarankan ustad Irfan.

###

Di Beranda rumah, lampu taman mulai temaram, gemericik air kolam hias terdengar sayup, sang bulanpun redup, secangkir kopi hitam dan rokok yang terselip dijari masih setia menemani malamku, jam menunjukkan arah 12 lebih, selepas shalat isya aku memilih untuk tidak ke kota, Distro dan Toko kelontong udah aku titipkan ke Yudi, tadinya aku mau nyempatin waktu buat ke rumah Ustad Irfan, mungkin beliau mempunyai saran atau rujukan soal calon istri, atau bisa saja aku dijodohin dengan mahasiswi dikalangan rohis, mereka biasa menyebutnya akhwat. Namun aku fikir aku harus berusaha terlebih dahulu, dan aku yakin aku bisa. Malam semakin larut, hening, angin malampun mulai menusuk-nusuk, dingin, aku beranjak, besok aku harus menemui klien, sebaiknya aku istirahat.

Ba’da shubuh, aku mempersiapkan beberapa materi presentasi, kali ini ada klien yang memintaku menjelaskan pacaran dalam islam, dari biodata yang tertera di inbox e-mailku, namanya Windiawati, 22 tahun, asal Bandung, namun dari riwayat singkatnya, ia sudah 3 tahun tinggal di Subang, ia menginginkan penjelasan dari Organisasi yang aku geluti saat ini, Konsultan Keluarga Berencana, lebih tepatnya ia ingin mengetahui hukum pacaran dalam islam, khitbah, hingga pernikahan, dan terakhir yang membuat aku ragu, hubungan seksual dalam islam, aku tersenyum.

Tepat pukul 8 aku berada dikantor, ada pesan di hapeku, sepertinya Windi sudah menunggu di ruanganku, biasanya Desi, sekretarisku sudah menemani klien yang datang sebelum aku datang, Mang Ujangpun sudah menyiapkan ruangan konsultasi, aku memasuki ruangan, nampak Desi dan Wanita muda berjilbab di meja tamu, mungkin itu Windi.

“Assalamualaikum,” aku tersenyum kepada mereka berdua

“Wa alaikum salam”

Akupun memperkenalkan diri, setelah beberapa menit berbincang, kitapun mulai dengan diskusi tentang, konsep keluarga berencana, Windi sangat mengagumkan, selain wajahnya cantik, dia juga smart, tak pelak diskusi kita jadi panjang, hingga menjelang shalat dhuhur, diselang dengan sholat dan istirahat, aku mengajak Windi makan siang di Nasi timbel Ciheuleut, langgananku.

“Mas, sudah menikah?,” Tanya Windi disela-sela makan, mengagetlkanku.

“Belum,” Jawabku singkat, separuh makanan masih didalam mulutku.

Windi tersenyum, kemudain tertawa, sepertinya jawaban itu lucu baginya.

“Aneh Mas ini, aku kira mas udah menikah, sebegitu fahamnya ngejelasin masalah pernikahan, sampai detail hingga masalah kewanitaan,” katanya.

“Haha,,” aku tertawa.

“untuk faham hal tersebut apakah aku harus nikah dulu de Windi?'” Tanyaku padanya.

“hmmh, ya seharusnya begitu, selain untuk lebih memahami juga agar bisa meyakinkan klien,” jelasnya.

“Meyakinkan? Apakah Mas kurang meyakinkan?” tanyaku.

“setidaknya orang akan lebih percaya jika apa yang dikatakan mas sudah dialami oleh mas sendiri” Windi memandangku.

“Rasulullahpun mencontohkannya” tambahnya.

Kembali aku tertegun sejenak kemudian aku memandangnya, mata kita beradu, Windi, cantik ayu, dan mengagumkan, astaghfirullah, aku langsung menundukan pandanganku, aku yakin Windi menangkap hal yang berbeda dari pandanganku barusan.

Sehabis makan siang Windi pamitan, aku mengantarnya ke Wisma, ia akan dijemput adeknya dari Bandung, akupun kembali ke kantor dengan perasaan aneh, ya sangat aneh terhadap Windi, apakah ini cinta. Entahlah.

Perasaan itu, semakin menjadi, malamku aneh, diamku aneh, gerakku aneh, bayangan wajah Windi terus mengikutiku, di langit-langit kamar, di teras rumah, di ruang tamu, di buku yang kubaca, Windi, dimana-mana ada wajahnya. Astaghfirulloh, dalam sujudkupun kenapa Wajahnya tepat berada di sajadah ku. Sunggguh malam yang membosankan, aku tak bisa memejamkan mata, hingga ba’da shubuh, hanya lelah yang bisa membuat aku tersungkur, di sini, di sofa beranda rumahku, tentunya dengan bayangan Windi di sampingku.

“Mas, mas pul, mas bangun”

Suara itu, aku mengenalnya, ya itu suara windi, aku terjaga, Windi??, kenapa dia benar-benar di sampingku, aku melihat jam tanganku, 10.20, ya ampun sudah siang, oh, syukurnya sekarang hari minggu.

“De’ Windi? silahkan duduk de’,” aku mempersilahkannya duduk

“Mas kebelakang dulu, mau minum apa?,”

“Air putih aja mas” jawabnya.

Aku berlalu, ke kamar mandi membasuh wajuhku yang masih kusut, kemudian ke dapur dan kembali dengan segelas air putih.

“Ko bisa nyampe sini?,” tanyaku.

“Aku tanya Desi Mas,” jawabnya.

“Mas, ada acara hari ini?, aku mau minta bantun Mas,”

“Hmmh, sepertinya ga ada, kenapa?,”

“Hehe, aku takut mas keberatan,”

“Insya allah, selama itu bisa mas lakukan,”Jawabku, sambil berharap semoga ini merupakan jalan untuk mengenalnya lebih dekat.

###

Sebulan berlalu, akupun sudah mempersiapkan resepsi pernikahanku dengan windi, memang begitu cepat tapi sepertinya itulah yang digariskanNya, setelah mengenalnya lebih dekat akupun langsung mengenalkannya dengan abi dan ummi di kampung, mereka pun cocok demikian pula keluarga windi, mereka tampak bahagia anak gadisnya dipinang olehku.

Hari ini, hari bahagia bagiku, beberapa kerabat dan saudaraku sudah siap untuk mengantarku ke masjid agung subang, tak menunggu waktu lama aku dengan rombongan segera menuju ke Masjid untuk akad nikah, sesampainya di Masjid keluarga Windi belum nampak hadir, sepertinya masih dijalan.

Beberapa menit kemudian iringan pengantin perempuan datang, nampaknya Windi menaiki Toyota Yaris warna merah melaju paling depan, hatiku berdegup kencang, namun dari arah berlawanan sebuah bis melaju kencang.

“Bruakkkk!??!!”

“Astaghfirullah, bis itu menabrak mobil paling depan, yang hendak masuk halaman masjid, semua orang panik dan berteriak, aku berlari kearah mobil windi,

“Windi? Apa  yang terjadi, ya allah”

beberapa orang segera mengeluarkan korban, aku berharap tak terjadi apa-apa dengan windi, Windi berhasil dikeluarkan, darah mengucur diwajahnya aku memaksa masuk kerumunan orang aku meraih Windi.

“Win, windi,” tak bergeming, denyut nadinya terhenti, tak ada degup jantung.

“Windiiiii” aku berteriak, suaraku tersekat.

“Mas pul, mas, bangun mas pul” Suara  Yudi mengagetkanku, astaghfirullah, aku bermimpi buruk, tapi syukurlah ini hanya mimpi.

“Kenapa? mimpi buruk yah” tanyanya.

“Iya yud, aku bersyukur ini hanya mimpi,” jawabku.

“Tadi ada cewe yang nganterin undangan ke Distro Mas, katanya maaf ga bisa ke rumah,” Yudi memberikan undangan pernikahan.

Menikah Windiawati dengan Andi Prasetya, Subhanallah, akupun tersenyum.

Advertisements