Namaku Andi (nama paslu) menyiapkan kemeja putih dengan jins itemku, besok adalah hari pertamaku Ujian Akhir Semester (Singk. UAS) di fakultas PKT (Peternakan Kambing Perah) Unyil (Universitas Nyingslep Saeutik) yang merupakan kampus kebanggaan di daerahku Lebak Bulu (Bulu kuduk, bulu kumuut, bulu ayam, bulu kuduk dan bulu lainnya)

Ayahku sangat berharap ne’ aku bisa menjadi sarjana peternakan kambing yang solutif dan dinamis, dalam memecahkan permasalahan peternakan, dan yakin bisa berguna bagi humanisme (kemanusiaan). Bahkan dalam suatu obrolan panjang tengah malam, ditemani dengan air susu dan hamparan meja catur dengan beberapa pion diatasnya, Bapakku pernah mengungkapkan isi hatinya.

“Bapak tuh kepingin kamu bias membuat kambing-kambing bapa bunting  5 kali dalam setahun” Ungkapnya serius sambil memandangi pion caturnya.

“Ups” Aku menutup mulutnya sambil menahan tawa, takut tawaku meledak, alih-alih bapak yang super killer melebihi Dosen Kimia mendampratku.

“Wualah, bapak ini ada-ada saja, toh. Masa aku yang buntingin kambing-kambing bapak?” jawabku sambil hamper-hampir tertawa.

“Maksud bapak, kamu kuliah yang bener di Unyil sana, supaya kamu bias membuat solusi yang baik buat para peternak didesa ini, gitu ndi” papar Bapak

“Nah gitu dong pak, yang jelas”

“Susah ngomong karo koe ndi, udah ni aku nye-Kak Mat kamu” bapak melangkahkan Menteri tepat didepan Raja Caturku.

Aku pun menghuleng, waduh, ini gara-gara aku diajak ngobrol terus sama si Bapak, Mati deh.

Paginya, dengan semangat membakar membara, aku berkemas, beberapa menit kemudian aku menuju kampus dengan vespa tuaku. Mengingat aku belum mempunyai kartu ujian segera aku mendatangi ruang TU yang katanya angker kalau malam, ya sebenarnya siang juga, banyak orang-orang yang sangar. Hehe.

“Andi, maaf kamu tidak bisa mengikuti ujian, tunggakan uang kuliah kamu sangat banyak sekali” Jelas pak Kuncen (lengkapnya pak Kuncen Suseno, hehe).

“Aduh pak tolong dong, Bapak aku belum panen kambingnya pak” rengek ku.

“Tidak bisa” Bu Sri menimpal dengan tegas.

Uh, mendengar suaranya aku bergidik apalagi melihat wajahnya, Osram banget. Yahh… dengan lesu aku keluar, terlihat puluhan mahasiswa bermuka sama denganku, lemah, letih, lesu. Pasti mereka senasib dengan mereka.

Apa kata bapak ku, jika Ujian aja aku gak bisa. Bagaimana aku bisa mensejahterakan kambing-kambing bapak. Sebesar dan semegah Kampus Unyil ternyata tidak ada toleransi bagi mahasiswa miskin kayak aku, nasib.. oh nasib…

Advertisements