(siapa yang mau bermetamorfosis menjadi kambing, hayooo…)

Kambing A (menoong/mengintip rumput tetangga yang nampaknya lebih lebat, hijau, dan subur) “rumput tetangga lebih asik,” ujarnya, kemudian mendekati sekumpulan kambing lainnya, dan mengajak untuk pindah ke rumput tetangga)

“ayo,ikut” kepada kambing B yang sepertinya lebih asyik dengan rumput di wilayahnya sendiri, kambing B pun tak bergeming.

Melihat keadaan kambing B yang cuek kambing (hehe, , , kalo bebek mungkin cuek bebek) kambing A pun mengajak kambing yang lain, dan semua kambing mengikuti jejak kambing A kecuali kambing B yang asik ngagayem (mengunyah) rumput yang ada dihadapannya.

Dengan berbekal sebuah kotak, kambing-kambing yang tergiur dengan rumput tetangga itupun berbondong-bondong meloncati pagar, dengan dikomandani kambing B.

Setelah berpindah kambing-kambing tersebut bersuka ria, dan segera melahap rumput yang kelihatannya asik dan lebat itu, namun, , ,

“Ups” ternyata rumput tersebut palsu, alias berbahan synthetis (nyang biasa dipake maen futsal itu lho). Lebih malang lagi wilayah tetangga itu ternyata milik sang raja hutan, singa (tapi bukan singa edan, hehehe). Kambing-kambing yang terjebak itupun berlarian menyelamatkan diri.

Sedangkan Kambing B dengan asyiknya bergumam “Lebih asik makan rumput di rumah sendiri”.

Yah kurang lebih seperti itulah cuplikannya, -kalau salah-salah dikit mohon toleransi ga usah di koreksi dan gak butuh kritikan (hehe buat saat ini)- maklum saya bukan Tim Kretif  iklan LA.

Mengulas iklan tersebut kenapa kok fikiran saya langsung nyambung ke kondisi masyarakat Indonesia, terutama dengan melihat banyaknya pemberitaan tentang penderitaan TKI (lebih kepada TKW sich) di negeri perantauan, seolah-oleh iklan tersebut merupakan kritikan kepada masyarakat Indonesia yang dengan berbagai motif dan berbagai alasan banyak memilih untuk bekerja di negeri orang dari pada di negeri sendiri.

Namun mereka hampir tidak memikirkan resiko yang secara realita memang sangat besar, penganiayaan, pelecehan seksual, penindasan, hingga berujung pada kematian ini kerap terjadi, dan itu digambarkan dengan kambing A beserta kawbing (kawanan kambing) lainnya.

Sedangkan kambing B mencerminkan orang yang enjoy dengan mencari nafkah di negeri sendiri, nah sekarang anda memilih menjadi kambing yang mana? Kambing A atau Kambing B, dan jujur saya gak mau milih jadi Kambing. Hehehe. Enjoy aja LA light, .

Bagaimana menurut anda?

(aduh mana samsu tehnya, , , ngaroko heula ah…)

(sambil menikmati mie rebus ala kost-an biar tambah nikmat silahkan anda bayangin makan mie seperti ini hehehe)

Anda pernah merasakan hidup di kost-kost-an? Kalau belum silahkan ngekost, pasti anda akan menemukan mie rebus super nikmat dengan balutan rasa lapar dan bokek (garing banget, gak punya duit, punya juga Cuma Rp.2 rebu) menambah kenikmatan mie rebus ala kost-an ini, jika ga laper-laper banget  jangan harap  anda akan menikmatinya, jika punya banyak uang tentu anda tidak akan memilih menu ini hehe.

Sebenarnya ga berbeda dengan mei rebus lainnya,hanya saja yang membedakan adalah kondisinya, kalau mie rebus ala kost-an ini lebih kepada kondisi darurat kantong atau kantong darurat (sama aja deh), yaitu dimana kita udah gak punya uang tetapi perasaan masih ada uang receh nyang nyelip-nyelip di tas atau lemari, atau mungkin dengan cara saya yang punya celengan kura-kura gede yang pada kondisi tertentu akhirnya dibobok juga, pastinya buat ngebelain bikin mie rebus ala kost-an ini. Hehehe.

Nah, jika anda sudah memegang uang receh minimal Rp.1500,- maka segeralah datang ke warung terdekat, kalau udah larut malem cari warung yang buka ampe 24 jam, atau langsung aja ke warung di gang asem sekalian beli rokok murah (bagi yang ngerokok) kalau duitnya kurang yah ga usah ngerokok lagi abis nge-mie (atau cari puting eh puntung rorok-lah).

Ceritanya anda udah dapet nih mie rebus, merek apa aja deh (biasanya sih saya lebih suka sarimi), panasin tuh dispenser, kalau kebetulan ga ada airnya, tinggal masukin aja air kran se gayung kedalam dispenser, kalau gak punya dispenser, wah parah banget luh,… gak usah ngekos dah, balik aja ke rumah, hehehe.

Setelah panas air dalam dispenser, remesin dikit mienya, buka dan keluarin bumbunya, kemudian masukin deh air panasnya, jangan lupa karet buat ngiket kemasan mie, tunggu berapa menit, sambil nunggu buka tuh bumbu dan campurin dalam mangkuk, setelah mie dirasa mateng (kira-kira 3 ampe 5 menit-an lah), tuangin mie rebus dalam mangkok, kalau ada cengek  (bias nyari di tukang gorengan, minta satu atau dua pasti dikasih dah) iris-iris cengek (cabe) nya dan aduk kedalam mie, setelah selesai dan bumbu merata maka mie siap anda nikmatin.

Nah itulah mie rebus ala kost-an, silahkan yang belum mencoba anda tinggal kunjungi aja kost-an terdekat dan pastinya ngekost-dulu,. Huahahaha….

bahan-bahan:

  1. Mie rebus
  2. Air panas dispenser
  3. Cengek (cabe)
  4. Mangkuk
  5. Sendok atau 2 bambu dibentuk sumpit
  6. dispenser
  7. Karet buat ngiket kemasan
  8. kost-an

haha,… diitung-itung mahal juga biaya wat makan mie rebus ala kost-an, harus ngekost dulu lah, punya dispenser lah,. macem-macem lah… hehehe

Namaku Andi (nama paslu) menyiapkan kemeja putih dengan jins itemku, besok adalah hari pertamaku Ujian Akhir Semester (Singk. UAS) di fakultas PKT (Peternakan Kambing Perah) Unyil (Universitas Nyingslep Saeutik) yang merupakan kampus kebanggaan di daerahku Lebak Bulu (Bulu kuduk, bulu kumuut, bulu ayam, bulu kuduk dan bulu lainnya)

Ayahku sangat berharap ne’ aku bisa menjadi sarjana peternakan kambing yang solutif dan dinamis, dalam memecahkan permasalahan peternakan, dan yakin bisa berguna bagi humanisme (kemanusiaan). Bahkan dalam suatu obrolan panjang tengah malam, ditemani dengan air susu dan hamparan meja catur dengan beberapa pion diatasnya, Bapakku pernah mengungkapkan isi hatinya.

“Bapak tuh kepingin kamu bias membuat kambing-kambing bapa bunting  5 kali dalam setahun” Ungkapnya serius sambil memandangi pion caturnya.

“Ups” Aku menutup mulutnya sambil menahan tawa, takut tawaku meledak, alih-alih bapak yang super killer melebihi Dosen Kimia mendampratku.

“Wualah, bapak ini ada-ada saja, toh. Masa aku yang buntingin kambing-kambing bapak?” jawabku sambil hamper-hampir tertawa.

“Maksud bapak, kamu kuliah yang bener di Unyil sana, supaya kamu bias membuat solusi yang baik buat para peternak didesa ini, gitu ndi” papar Bapak

“Nah gitu dong pak, yang jelas”

“Susah ngomong karo koe ndi, udah ni aku nye-Kak Mat kamu” bapak melangkahkan Menteri tepat didepan Raja Caturku.

Aku pun menghuleng, waduh, ini gara-gara aku diajak ngobrol terus sama si Bapak, Mati deh.

Paginya, dengan semangat membakar membara, aku berkemas, beberapa menit kemudian aku menuju kampus dengan vespa tuaku. Mengingat aku belum mempunyai kartu ujian segera aku mendatangi ruang TU yang katanya angker kalau malam, ya sebenarnya siang juga, banyak orang-orang yang sangar. Hehe.

“Andi, maaf kamu tidak bisa mengikuti ujian, tunggakan uang kuliah kamu sangat banyak sekali” Jelas pak Kuncen (lengkapnya pak Kuncen Suseno, hehe).

“Aduh pak tolong dong, Bapak aku belum panen kambingnya pak” rengek ku.

“Tidak bisa” Bu Sri menimpal dengan tegas.

Uh, mendengar suaranya aku bergidik apalagi melihat wajahnya, Osram banget. Yahh… dengan lesu aku keluar, terlihat puluhan mahasiswa bermuka sama denganku, lemah, letih, lesu. Pasti mereka senasib dengan mereka.

Apa kata bapak ku, jika Ujian aja aku gak bisa. Bagaimana aku bisa mensejahterakan kambing-kambing bapak. Sebesar dan semegah Kampus Unyil ternyata tidak ada toleransi bagi mahasiswa miskin kayak aku, nasib.. oh nasib…