Muka Zahra memerah setelah mendengar kabar dari Saidah, benarkah Fathur menitipkan salam kepada Saidah? Benarkah apa yang diceritakannya bahwa Fathur mengajak pulang bersama di akhir pekan. Zahra setengah mimpi, ia gelisah, sepertinya tidak ada kursi yang enak untuk diduduki, seakan langkahnya di stir oleh kekuatan gaib, bolak-balik bak setrikaan. Sesekali ia menatap cermin, melihat wajahnya yang putih memerah, kemudian mencubitnya.

“Aku tidak bermimpi, Ya Allah, tapi benarkah yang dikatakan Saidah?” ia bergumam.

Jika ini memang terjadi, aku akan secepatnya menyampaikan kepada Ummi, dialah pemuda yang ingin aku jadikan imam di kehidupanku, Aku akan menceritakan bahwa dialah orang yang selama ini Ummi tanyakan, Ummi harapkan.

“Zahra, kapan kamu mau menikah” itu yang selalu Ummi sampaikan jika aku pulang diakhir pekan.

“iya Ummi, Zahra juga sedang istikhoroh, meminta petunjukNya, bukankah Ummi menginginkan menantu yang Sholeh, yang bias membimbing Zahra” jawabku, tersenyum.

“Selalu saja begitu jawabanmu nduk” Ummi selalu kecewa, sebenarnya aku tidak sedikitpun berkeinginan mengecewakan Ummi, hanya saja, Allah belum memberikan petunjuk, siapakah yang sebenarnya yang aku ingin jadikan pendampingku, Imamku.

Dua Minggu kemarin, Ustad Lutfi yang katanya ingin mengkhitbah (melamar) ku, tapi ternyata Pak Kiyai Idris tak mengizinkan, apalagi katanya Ustad Lutfi itu, walaupun lulusan Al-Azhar dia sudah pernah menikah di Mesir sana, tapi perjalanan keluarganya gagal, dan ia menelantarkan istriya di sana. Tadinya tidak ada yang tau, namun akhirnya, tetap aib itu terdengar juga.

Belum lama ini, sekitar 5 harian yang lalu, aku ditunjukan oleh Pak Kiyai Idris seorang Ustad, ia tidak pernah kuliah di luar negeri, a’lim, hafidz lagi, aku sudah tawakal, jika saja pak Kiyai meminta Ustad tersebut mengkhitbahku, namun, ternyata pemuda yang bernama Zaky ini lebih dulu ditunangkan oleh orang tuanya dengan putri salah seorang Kiyai di kampungnya.

Dan terakhir, Fathur, seorang ustad baru di Pondok pesantren Al-Amin ini, begitu memikat hatiku, dengan kesopanannya, kealimannya, dan kesholehannya.

“Ya Allah, dosakah hambamu jika jatuh cinta?” Zahra melenguh.

“Ya jelas tidak berdosalah, zahra,” sambil tersenyum Saidah melirik kepadaku, di depan cermin.

Benar juga katanya, Cinta itu fitrah, cinta itu ada, semua manusia yang hidup pasti merasakannya, hanya kita harus pandai-pandai memilih dan memilah, agar langkah yang kita jalani diridloi Allah, aku semakin mengerti, aku semakin faham.

Langit Madura malam ini tampak begitu cerah, bintang bertaburan, temaram cahaya rembulan yang seperempat pun ikut menghiasi pemandangan jagat raya, udara malam berhembus, masih hangat, bekas panasnya Madura di siang hari,  para santri masih khusyu dengan ayat-ayat-Nya, beberapa bawalis (jaga malam) mulai berdatangan ke pos-pos yang ditentukan. Aku dengan Saidah duduk-duduk di depan asrama, menghadap ke arah masjid, pemandangan Masjid Jami’e dimalam hari melengkapi keindahan alam. Subhanallah.

“Ukhti (saudara perempuanku) sudah siap untuk dikhitbah,?” Saidah mengawali obrolan, aku setengah kaget dengan pertanyaan yang dilontarkannya, kali ini.

“aku belum tau Saidah,” jawabku ragu.

“nikah,?” tanyanya kembali.

“Lho, kamu ini, di Khitbah aja aku ragu, apalagi untuk nikah,”

“Tapi kan Ukhti sudah cukup dan siap segalanya,”

‘Iya sikh, apalagi Ummi selalu menanyakan hal itu kepadaku, aku jadi bingung Saidah,”

“Aku kira Fathur lelaki baik ukhti,,, walaupun sepertinya lebih muda dari ukhti,”

Zahra tersenyum, malam itu kebimbangannya semakin memudar, apalagi keresahan hatinya tentang Cinta, setiap waktu, ia selalu meyakinkan diri, bahwa suatu saat nanti Fathur melamarnya, dan akan menjadi pendamping hidupnya, itulah Cinta.

“Ustadzah Zahra,,,” panggil salah seorang santriwati, mendekat dengan tergesa

“Ustadzah, dimohon datang ke kediaman Kiyai Imron ba’da Ashar,” katanya setengah berbisik.

“Kiyai Imron?, ada apa yah” Zahra penasaran.

“Ya Syukron,” ungkapnya sambil tersenyum, kemudian santriwati tersebut berlalu.

***

Hati Zahra bergetar ketika dengan tiba-tiba saja Kyiai Imron memerintahkannya untuk pulang ke kampong halamannya, Senyum kegembiraan Kyai Imron pun menghiasi wajahnya  mengiringi pamit Zahra dari kediaman Kiyai Imron, masih terngiang di telinganya kata-kata Kyai yang selama ini mendidiknya.

“Sekarang  anti (; Kamu) pulang, temui keluarga anti, akan ada tamu yang nampaknya harus anti banggakan dan mungkin rindukan” papar salah satu sesepuh Pesantren yang sudah 10 tahun ia diami.

Kata-kata terakhirnya yang terus menjadi tanda tanya besar selama ia melangkahkan kakinya ke asrama putri.  “Siapakah tamu yang harus aku banggakan dan aku rindukan selama ini” gumam Zahra dalam hatinya. Bahkan sepanjang perjalanan menuju kampungnya di Desa Mandala, Sumenep ia masih menekuk keningnya.

Perjalanan menuju Mandala tidak begitu menguras tenaga, hanya dengan naik beberapa mobil umum Zahra sudah bias melihat Desanya yang dirasa tentram dan damai itu dari puncak bukit Astha Tinggi, tak ada seorangpun akan jenuh melihat pemandangan di sepanjang perjalanan menuju desa Mandala, meskipun Zahra, yang merupakan penduduk setempat.

Dari balik kaca angkutan umum Zahra menikmati semuanya, keindahan alam. pemandangan pesawahan, kebun tembakau yang siap dipanen, bukit-bukit dan gemericik aliran air sungai membelah batu-batu besar bias dinikmati dan menenangkan hati yang melihatnya.

Memasuki desanya hatinya semakin bertanya-tanya, terlihat beberapa penduduk desa Mandala yang mengenalnya menyapa Zahra, Zahrapun membalas, dan tersenyum, walaupun fikirannya masih terbelit perkataan Kyai Imron.

Beberapa sedan hitam diparkir di depan rumahnya, memasuki halaman rumahnya semakin yakin bahwa Kyai Imron tidak sedang bercanda padanya, ini memang keyataan, ada tamu dirumahnya.

Annisah,  adik bungsu Zahra berteriak,

“Yayu (pangilan kepada kakak perempuan) datheng” sambil berlari dan mencoba memeluk Zahra, Zahrapun membalasnya dengan haru.

“Gimana kabarmu dek?” Tanya Zahra sambil tersenyum bahagia.

“Sehat Yu”

“Syukurlah, . . mana Ummi sama Abi?” tanyanya sambil menggandeng tangan Annisa dan berjalan memasuki pelataran rumahnya.

“Ada Yu di dalem, mbak yu, . . hehe” tawa annisa terhenti dan membuat Zahra bertanya.

“ada apa ko kamu tertawa seperti itu, eh trus siapa yang bawa mobil ini de?” Tanya Zahra.

“Ya udah Yu liat sendiri deh! Hehe…”

“Ah kamu ini, nakal yah” Zahra tersenyum sambil mencubit pipi Annisa.

“Assalamualaikum” salam Zahra menghentikan pembicaraan yang nampaknya penuh riang dan gembira bahkan dihiasi tawa-tawa.

“Wa’alaikum salam” dijawab dengan serentak dan kompak.

Subhanallah, Kyai Imron, Kyai Ali, Kyai Mahfud, Kyai Mahmud semuanya ada disini, dan itu… Fathur dengan baju batik khas Madura dengan celana hitam memakai kopiah hitam juga hadir disini, ada pa sebenarnya. Hati Zahra semakin bertanya, tidak banyak berdiam diri Zahra kemudian pamit untuk masuk kedalam ruangan tengah, di ruang tengah para ibu-ibu juga semua berkumpul dan ternyata semuanya adalah para nyai, dan seorang perempaun setengah baya yang duduk bersama Ummi, siapakah dia?

Seetelah mengucapkan salam, Zahrapun menyalami mereka dan Umminya, kemudian ia duduk disampng Umminya, dan ia tersenyum penuh tanda tanya.

“Zahra, kamu udah tau nak?” Tanya Ummi.

Zahra terdiam kemudain ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Semua yang hadi memandangi wajah ayunya.

“Kamu di Khitbah oleh Fathur” Suara  Ummi mengagetkan Zahra dan membuatnya tidak percaya.

“Bener Ummi?” Zahra tersenyum.

“Lho, sejak kapan Ummi mu ini berbohong pada kamu nak, apalagi didepan nyai-nyaimu ini”  tegas Ummi.

“Alhamdulillah,” Zahra tersenyum kemudian bersujud syukur, lelaki yang selama ini ia idam kan benar-benar dating dan mengkhitbahnya.

***

Bersambung

Advertisements