“Cinta itu gak selalu harus memiliki, Kara,”

“Cinta itu bahagia meliat orang yang kita cintai bahagia,” ujar Mama seraya memberikan pelukan hangatnya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa meneteskan air mata.

Fikiranku menelaah perkataan Mama. Benar juga apa yang Mama katakan. Cinta itu tak selalu harus memiliki, cinta itu bahagia saat melihat orang yang kita cintai juga bahagia. Tapi  apa aku kuat menerima ini? Apa aku sanggup melihat orang yang aku cintai bahagia?

***

Kulihat Hpku yang sedari tadi bergetar, sengaja kumatikan nada deringnya, ada 11 missed call. Kulihat ternyata dari Martina. Dengan malas kulempar kembali Hpku ke tempat tidur. Aku sangat tidak ingin berhubungan dengan Martina. Muak rasanya, jijik.

Tak pernah kuduga. Martina, sahabat karibku sendiri, bahkan sudah aku anggap adik, tega merebut Dira, pujaan hatiku. Yang lebih menyakitkan lagi, Martina sendiri yang selama ini jadi mak comblang antara Aku dan Dira. Sakit rasanya hatiku saat tahu Martina dan Dira telah jadian sebelum Dira ‘nembak’ aku. Batapa sakit rasanya hatiku, di tipu oleh orang yang paling aku sayangi.

***

“Kara, di bawah ada Martina. Katanya mau ketemu kamu,” kata mamah sambil duduk di tepi kasurku.

“Suruh pulang aja, mah! Kara gak mau ketemu dia. Kara benci dia!!,” kataku menahan isak. Kurasakan amarah dalam diriku, tak terasa, pipiku kembali hangat. Mama tak banyak bicara . ia langsung meninggalkan ku. Mungkin saat ini Martina sudah pulang, entahlah. Aku tak peduli. Terlalu sakit hati ini karena tingkah Martina.

Mama kembali masuk ke kamarku, duduk di sampingku sambil sesekali mengusap rambutku.

“Cinta itu gak bisa dipaksa, Kara. Cinta akan memilh jalannya sendiri,”

“Tapi Kara sayang banget sama Dira,” kataku terisak.

“Mama tahu, tapi apa Dira juga merasakan hal yang sama? Kalu kita memaksakan cinta. Rasanya jauh lebih menyiksa, kara. Kamu sepenuh hati mencintai Dira. Tapi yang dipikirkan Dira adalah orang lain. Apa itu yang kamu mau?,”

Aku terdiam. Mamah benar, sejak jadian dengan Dira sikapnya dingin. Seolah-olah yang ada difikirannya adalah orang lain.

“Fikirkan lagi, Kara! Jangan sampai kamu kehilangan orang-orang yang kamu sayangi hanya karena ambisimu, cinta itu akan menemukan jalanya sendiri,”.

***

Hari itu Martina datang kerumahku, Ia langsung masuk  ke kamarku, dan memelukku dengan mata berlinang.

“Maafin aku, mbak. Ade udah salah sama mbak…,” ujarnya terisak. Aku tak bisa apa-apa, apa aku masih tetap bersikeras ingin memiliki Dira? Betapa kejamnya aku jika seperti itu. Aku akan merebut kebahagiaan dua orang yang aku sayangi hanya untuk mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Sungguh tak adil.

“Mbak, aku rela ko putus ama Dira, asal mbak mau maafin aku,” ujarnya lagi.

Ya Tuhan, betapa egoisnya aku, sudah menghalangi kebahagiaan orang-orang yang sayang kepadaku.

“De…, ga perlu. Mbak ga mau jadi orang yang egois. Mbak gak mau merebut kebahagiaan kamu,” kataku

“Tapi mbak cinta banget sama Dira,”

“Dira ga cinta mbak, dia cinta sama kamu” ucapku lugas. Lega rasanya.

Martina makin memerah, ia memelukku lagi kita hanyut dalam tangis.

“Mbak seneng kok. Cinta itu bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia. Dira bahagia deket sama kamu, de!,” ucapku tegar.

“Makasih, Kara!,”

Aku dan Martina terkejut, itu suara Dira. Ia sudah berada di pintu kamarku. Aku menarik Dira hingga ia berdiri disamping Martina.

“Sekarang, kalian bebas pacaran, maaf atas keegoisanku. Sekarang aku sadar cinta itu gak bisa dipaksa…”

Senyum merekah tersimpul di bibir Martina dan Dira, mereka saling berpegang tangan. Awalnya sedikit sesak. Tapi, setelah itu aku justru merasa sangat bahagia.

Tiba-tiba saja Dira memelukku. Tubuhnya terasa hangat, dan pelukannya terasa amat tulus. Jauh berbeda saat kita masih pacaran. Aku tak kuasa menahan airmata,. Dira mengusapnya dan ,engecup keningku.

“Makasih, kara…” ujarnya.

Hmmmhh. . .  Rasanya semua bebanku hilang Melihat Dira dan Martina bahagia, Aku pun merasa hal yang sama. Makasih mama, udah nyadarin Kara kalau cinta itu gak bisa dipaksa, kalau cinta akan menemukan jalannya. Semoga Kara akan menemukan cinta Kara di luar sana. (Nda)

Advertisements