Peta Subang

Saya ingat sewaktu masih menjadi jurnalis di sebuah media massa lokal Subang, ketika itu saya meliput acara talk show yang diselenggarakan oleh Tim Perintis Pemekaran Kabupaten Subang yang dikomandoi Bambang Herdadi (mantan ketua DPRD Subang ), kemudian saya mencoba menghafal –dan hamper-hampir lupa- barisan terakhir Tema dari Talk Show tersebut, “Pantura antara dan kenyataan,”. Dari tema tersebut kemudian saya berfikir adakah harapan, masa depan cerah bagi saya sebagai salah seorang warga masyarakat Pantura Subang?. Jawabannya tentu saja ya! Kami harus melakukan pemekaran.

Beberapa orang yang disebut sebagai tokoh Pantura saya datangi, dari mulai kepala desa, LSM-LSM, Camat-camat, dan beberapa pejabat teras pemerintah daerah Subang. Dan kesemuanya pada intinya adalah mendukung adanya Pemekaran Pantura, tentunya dengan berbagai tanggapan dan alasan.

Dinamika demokrasi, Keadilan, pembangunan pemberayaan masyarakat serta tuntutan perbaikan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat diantaranya menjadi beberapa alasan yang dimunculkan beberapa tokoh Pantura kenapa sangat apresiasi dilakukan Pemekarannya Pantura. Saya kemudian mencoba menganalogikannya dan OK.

Tetapi kemudian pertanyaan kembali merujuk pada tema talkshow diatas, adakah harapan Pantura untuk mekar? Adakah kesejahteraan Pantura pasca pemekaran? Akankah semuanya menjadi kenyataan? Optimisme pun sengaja saya bangun dalam kerangka berfikir saya.

Kemudian, sayapun melakukan diskusi dengan beberapa rekan saya di Rumah Tinta, yang kebetulan notabene adalah sebagian besar dari Pantura, saya undang langsung Sekretais Tim Pemekaran, Kang Boing Zakaria, dari diskusi tersebut saya bisa menarik kesimpulan bahwa alasan yang paling mendasar dari keinginan Pantura untuk melakukan pemekaran adalah masyarakat Pantura merasa termarjinalkan, dari berbagai aspek semisal pembangunan infrastruktur, perhatian pendidikan contohnya pendistribusian guru atau tenaga pengajar, selain itu masyarakat Pantura merasa kesulitan dengan jauhnya pelayanan public. Sebuah ilustrasi, seseorang yang sakit parah berasal dari daerah pantura yang memerlukan perawatan intensif harus jauh-jauh ke Subang Kota, karena di daerah Pantura belum terdapat Rumah Sakit, yang dikhawatirkan belum nyampe rumah sakit orang tersebut keburu meninggal dunia diakibatkan jauhnya Rumah Sakit. Alangkah malangnya orang tersebut. Pelayanan public yang jauh tentunmya akan mempengaruhi costnya juga, orang pantura yang seharusnya mendapatkan pelanan pembuatan KTP secara gratis melah mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar, ini diakibatkan jauhnya ongkos ke Subang kota.

Dari berbagai alasan tersebut, kemudian dari pengalamannya menjadi seseorang yang menjadi wakil rayat (anggota DPRD) Boing beserta Bambang merintis gerakan pemekaran Pantura Subang.

Menurut salah seorang teman saya yang juga sebagai ketua Forum Sillaturrahim Pantura, Dadang Juanda (DJ) yang layak menjadi pemimpin di Pantura adalah orang yang tau karakter orang-orang dan wilayah Pantura.

Advertisements