Genangan air masih tampak di sepanjang jalan, membentuk pulau-pulau air kecil, beberapa lubang besar menyulitkanku mengendarai motor. Udara bekas hujan masih terasa menembus jaket, nampaknya hujan tadi cukup deras, mendung-mendung masih meluas.

Kurang lebih satu jam perjalanan menuju kasomalang, bersama 2 orang temanku, Adang dan Wahyu. Setibanya di rumah yang dituju, Kang Ipa belum datang dari kantor, istrinya menyambut kami, mempersilahkan masuk. Isman sudah menunggu di dalam rumah, motor “si jago merah” punyanya diparkir depan rumah.

Tak begitu lama menunggu, si empunya rumah datang, kamipun larut mengulang kenangan. Sesekali tawa meliputi kehangatan kami.

Malam harinya kami melaksanakan pengajian, sengaja tokoh-tokoh masyarakat dan beberapa ustad di undang, Adang yang punya hajat, mendoakan Mamahnya yang sedang kerja di luar negri. Bacaaan-bacaan dan doa di mulai, kekhusyuan meliputi ruangan. Selepas pengajian kami terkapar berbalut selimut masing-masing.

Aku bangun lebih dulu, jalan-jalan menikmati udara pagi, kebun teh masih diliputi embun, udara pagi menyapa, aku menggigil, dingin. Barisan ibu-ibu memakai caping, berbaju lusuh dengan menggendong keranjang teh di punggung, aku memandangi mereka, mereka tersenyum, aku membalas dan menganggukan kepala.


Dibarisan belakang seorang gadis tersenyum belakangan, cantik, tapi seharusnya ia sekolah, aku taksir usianya 18an, seusia anak SMA. Ternyata bukan hanya didesaku, anak-anak putus sekolah yang harus membantu orangtua mereka. Matahari mulai beranjak, aku pulang, kali ini berharap sarapan sudah tersedia, aku lapar.

Menyoal anak putus sekolah, menjadi perbincangan hangat diantara kami, diskusi demi diskusi melahap waktu, beloum ngobrolin masalah organisasi, tak terasa hari sudah siang. Melelahkan memang, tapi kami semua senang.

Makan siang mengenyangkanku, aku ngantuk. Ternyata desa ini membuat aku merasa damai, beribu permasalahan di kota membuat aku penat, hilang seketika dengan pemandangan indah kebun teh, menghirup udara pagi dan,,, oh gadis tadi, ia melintas membayang, cantik, manis gadis desa. Mataku terpejam, aku terlelap.

***

Dari kejauhan aku memandanginya, Laras, tangannya gemulai memetik daun teh yang masih muda kemudian ia masukan kedalam kerinjang yang di gendongnya. Wajahnya terlihat redup, caping lebar melindunginya dari terik matahri. Ia tersenyum, melambaikan tangan, aku mendekat.

“sini” panggilnya genit.
Aku mempercepat langkahku, ia melepaskan caping dan keranjang, rambutnya terurai, melambat. Kemudian gadis itu berlari menjauhiku, tertawa-tawa, aku tersenyum, rupanya ia mengajakku lari kejar-kejaran di pematang kebun teh. Aku mengenalnya seminggu setelah tinggal didesa ini, dan aku jatuh cinta pada gadis pemetik teh itu.
Ia terhenti, aku memegang kedua tangannya, terdiam. Kupandangi wajah cantik Laras. Ia tersenyum, kemudian kucium lembut tangan laras. Ia tersipu.

“Pul..pul.. bangun, kita pulang sekarang” Adang menghentikan mimpiku, aku terperanjak, kaget. Ternyata hanya mimpi, aku sedikit menyesal dan mengumpat.

Setelah berkemas kamipun pamitan dan meninggalkan kasomalang, di perjalanan pulang. Aku masih memandangi kesejukan desa ini, kebun teh, udara sejuk dan, tiba-tiba. . .

“Tiiittt..tiiiit..” suara klakson motor mengagetkanku, seorang lakii-laki menyalip, ya ampun gadis dalam mimpiku dibonceng, tampak seoarng bayi dipangkuan nya.

Advertisements