Beberapa hari ini aku disibukkan dengan pembuatan majalah, hingga rutinitas menulis, dan jaga warung ku terhambat, aku lupa mengisi blog ku yang baru, padahal aku sudah melakukan MoU dengan Blog ku, jika aku melanggar dengan tidak menulis, maka hukuman bagiku adalah membaca satu buku dan menulis di Blog tersebut, berupa artikel, cerita dan sebuah Puisi, bukan kah itu sebuah hukuman yang setimpal bagi yang tidak menulis?

Padahal seharusnya aku diberi keringanan setidaknya aku sudah menulis dan dan mengisi Kompasiana dengan beberapa tulisan, meskipun hanya berupa tulisan pendek, aku hanya berharap dari tulisan-tulisan tersebut terbangun keinginan menulis yang lebih banyak lagi.

Owh ya, akan aku ceritakan bagaimana sebenarnya rasa melelahkan itu, Kemarin tepatnya hari Kamis dan  Jum’at, ada beberapa tugas berat yang harus aku kerjakan, aku harus menyelesaikan proses akhir majalah PT. Sang Hyang Seri.

Di deadline yang sebenarnya sudah terlambat itu aku harus segera mungkin merampungkannya, sedangkan alat cetak yang dipunyai rusak, dan secepatnya aku harus mengadakan alat cetak, tanpa banyak perhitungan aku membeli alat cetak baru berharap akan segera dapat menyesuaikan dengan pekerjaan, akan tetapi alat yang baru itu lambat dalam penyesuaian, selain sering macet karena baru, ditambah dengan proses pencetakan yang cukup lilo (lila loding), aku harus menyelesaikannya dalam waktu 2 hari yang biasanya bisa diselesesaikan dalam waktu satu malam, sungguh-sungguh memprihatinkan.

Ditengah-tengah kesibukanku, lagi-lagi aku dikagetin dengan sms dari Nisa (masih inget? pacarku yang manis itu). Tiba-tiba saja doi minta putus, ya ampun, apa yang sebenarnya terjadi? Aku bingung, resah dan gelisah, kemudian ia nelpon.

Annisa Nur Hasanah, Sekilas mirip sama artis papan atas yang kena kasus (Luna maya), tetapi aku lebih setuju mirip Gita Gutawa

“yank, maavin Nis, sepertinya hubungan kita harus diakhiri,” terisak.

Kalo ibarat, rujak mungkin inilah rujak terbusuk yang aku rasakan, mangga busuk, jambu busuk, sambal busuk bersatu padu yang terpaksa aku telan. Bingung, aneh, galau, resah dan gelisah bersatu padu.

“Kenapa yank?,” tanyaku heran.

“A terlalu baik wat Nisa, truss,” suaranya terhenti.

“Trus kenapa?,”

“???,”

“yank,” tanyaku lagi.

Nisa terdiam lama (gak nyampe se-abat sikh).

“NISA UDAH GAK SAYANG LAGI MA A,”

Kata-katanya yang terakhir membuat aku terdiam, darah sepertinya berhenti mengalir, jantung berhenti berdegup, napas berhenti berhembus, tapi perut ternyata masih kakurubuk (laperrr) hehe..

Jujur aku nangis, aku ga’ percaya dengan semua yang terjadi, aku ga’ mau harus terulang lagi kegagalan, aku sudah mengalami kegagalan yang pertama, kenapa harus terulang kembali??.

Pintu kamar aku kunci, aku tersungkur, terisak dengan beribu rasa penarasanku.

Sekitar 5 menit aku menangis, kemudian bangkit, beranjak kekamar mandi dan segera menyegarkan badan dengan guyuran air juga dengan terisak. Sekalian, aku memang belum mandi dua hari terakhir ini.

Selesai mandi, aku lihat hapeku mempunyai 5 panggilan tak terjawab dari Nisa. Satu pesan singkat.

“Yank, angkat dong, aku mau ngomong, penting,”

Segera aku bales,

“Maaf, a baru beres mandi,”

tulit,tulit,,

segera ku angkat.

“Assalamualaikum, apa lagi?,” tanyaku.

“Horee, ayank kena tipu, haha, nangis yah,” lagi-lagi aku kaget.

“Haha, masa cowok nangis,”

ah, sialan, Nisa ngerjain aku, dasar, aku tersenyum,.. Hahaha aku terbahak.

“Biarin, emang cowok ga boleh nangis,” jawabku

“Dasar, awas yah,” ancamku, sebenarnya aku bahagia. dan merasa bangga mempunyai pacar dia, selain memang manis, baik, pengertian dan juga aku memang berharap besar pada dirinya, saat ini dia memang benar-benar menjadi kebanggaanku, aku berharap ia menjadi istriku kelak. (kapan yah).

Advertisements