Gegap gempita awal tahun semakin marak, petasan, kembang api, terompet, status-status menyangkut pergantian tahun di beberapa akun jejaring sosialpun terus ramai.

Tak ketinggalan aku dan Nisa (pacar) pun mau sedikit merayakan kemeriahan tahun baru, kenapa harus sedikit, ga sekalian aja bikin “New year fest”, aku ga mau sombong terus ngamburin-ngamburin duit, ga baik itu,… (hehehe, padahal emang boke’) Menjelang sore, aku terima pesan singkat,

“Yank nti malem kta kemana?” isi sms dari Nisa. Wah, sedikit berfikir, aku belum pernah ngerayain tahun baruan di luar, emang kebanyakan di rumah, biar sedikit di bilang kuper tapi emang pada dasarnya aku ga suka keramaian (sukanya yang sepi-sepi, hehehe)

“Ya udah nti ke wisma ja, tapi ijin dulu ma bpk” balesku.

Ba’da maghrib aku meluncur ke rumah Nisa, ia lebih cantik tanpa make-up, senyumnya manis. Secangkir teh disuguhkan kepadaku, beberapa menit kemudian, Nisa ijin keluar bersamaku kepada bapaknya, ternyata tidak sulit hanya waktu yang menjadi penekanan bapaknya.

“Jangan terlalu malam jam 11 harus sudah pulang” tegasnya.

“iya pa,” kami kompak menjawabnya.

Menuju Wisma Karya, . . . Jalan di blokir, semua orang diarahkan ke depan Masjid Agung, ramai, macet, bikin pusing kepalaku, sebenarnya ini alasanku tidak suka keramaian, suka pening mendadak, , , ditengah hiruk pikuk orang-orang yang menunggu pergantian tahun ini ternyata masih ada saja yang iseng dengan menggerung-gerungkan (istilah mengeraskan suara knalpot racing) motornya, kontan hati ini mual, heneg seakan pengen mengelus kepalanya dengan palu gada Hanoman.

Kemudian aku dengan Nisa berkeliling kota, setelah kurang lebih satu jam aku ingat pesan ayahnya sebelum berangkat, ku lihat jam di Nokia E63 ku, 11.15.

“Wah yank, kita lebih 15 menit, kita pulang yuk,”

“Tanggung yank, bentar lagi jam 12,” keluhnya.

“ga enak yank, ma bapak”

“yahh, ya udah atuh kita pulang,” kekecewaan diwajahnya terlihat melalui spion motor.

Sesampainya di rumahnya, Nisa masih mengeluh, nampaknya ia bener-bener ingin melewatkan pergantian waktu denganku.

“Maafkan a yah, a takut bapak marahin ayank,” Nisa cemberut, terdiam, aku jadi bingung, daripada urusan lebih panjang aku pamit, pulang ke mes.

Memang aku juga kecewa, dan merasa iba kepadanya. “Nisa, Maafin a, cinta kita memang terbatas oleh waktu” aku mengakhiri tahun ini dengan memejamkan mata, aku tertidur pulas.

Advertisements