Cinta Terbatas Oleh Waktu

1 January 2011

Gegap gempita awal tahun semakin marak, petasan, kembang api, terompet, status-status menyangkut pergantian tahun di beberapa akun jejaring sosialpun terus ramai.

Tak ketinggalan aku dan Nisa (pacar) pun mau sedikit merayakan kemeriahan tahun baru, kenapa harus sedikit, ga sekalian aja bikin “New year fest”, aku ga mau sombong terus ngamburin-ngamburin duit, ga baik itu,… (hehehe, padahal emang boke’) Menjelang sore, aku terima pesan singkat,

“Yank nti malem kta kemana?” isi sms dari Nisa. Wah, sedikit berfikir, aku belum pernah ngerayain tahun baruan di luar, emang kebanyakan di rumah, biar sedikit di bilang kuper tapi emang pada dasarnya aku ga suka keramaian (sukanya yang sepi-sepi, hehehe)

“Ya udah nti ke wisma ja, tapi ijin dulu ma bpk” balesku.

Ba’da maghrib aku meluncur ke rumah Nisa, ia lebih cantik tanpa make-up, senyumnya manis. Secangkir teh disuguhkan kepadaku, beberapa menit kemudian, Nisa ijin keluar bersamaku kepada bapaknya, ternyata tidak sulit hanya waktu yang menjadi penekanan bapaknya.

“Jangan terlalu malam jam 11 harus sudah pulang” tegasnya.

“iya pa,” kami kompak menjawabnya.

Menuju Wisma Karya, . . . Jalan di blokir, semua orang diarahkan ke depan Masjid Agung, ramai, macet, bikin pusing kepalaku, sebenarnya ini alasanku tidak suka keramaian, suka pening mendadak, , , ditengah hiruk pikuk orang-orang yang menunggu pergantian tahun ini ternyata masih ada saja yang iseng dengan menggerung-gerungkan (istilah mengeraskan suara knalpot racing) motornya, kontan hati ini mual, heneg seakan pengen mengelus kepalanya dengan palu gada Hanoman.

Kemudian aku dengan Nisa berkeliling kota, setelah kurang lebih satu jam aku ingat pesan ayahnya sebelum berangkat, ku lihat jam di Nokia E63 ku, 11.15.

“Wah yank, kita lebih 15 menit, kita pulang yuk,”

“Tanggung yank, bentar lagi jam 12,” keluhnya.

“ga enak yank, ma bapak”

“yahh, ya udah atuh kita pulang,” kekecewaan diwajahnya terlihat melalui spion motor.

Sesampainya di rumahnya, Nisa masih mengeluh, nampaknya ia bener-bener ingin melewatkan pergantian waktu denganku.

“Maafkan a yah, a takut bapak marahin ayank,” Nisa cemberut, terdiam, aku jadi bingung, daripada urusan lebih panjang aku pamit, pulang ke mes.

Memang aku juga kecewa, dan merasa iba kepadanya. “Nisa, Maafin a, cinta kita memang terbatas oleh waktu” aku mengakhiri tahun ini dengan memejamkan mata, aku tertidur pulas.

Advertisements

One Response to “Cinta Terbatas Oleh Waktu”

  1. adhy said

    wah baha atuh pa….
    kira-kira kabawa ngimpi teu tah doi na..?
    kade ach…hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: